Pelajaran Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa 7

Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa
Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa 1
Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa
Pelajaran Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa 7

Pelajaran Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa 7 – Naskah diambil dari Aksiologi Serat Sastra Jendra  Karya: Sri Teddy Rusdy, 2024, hal 40-41.

Bima Sekti: “Ningrat lingganing tembung ana ing rat, ana ing jagad tegese kowe tumindak lan tumandukmu tumapaking ampeyanmu ana ngendi papan. Muna muni tindak tanduk kudu bisa cocok marang kahanan kang mbok adhepi.

Tegese kowe kaya bisa miguna ing aguna dhuwur ora ngungkul-ungkuli, asor ora kena dicendheki, sayekti kowe bisa hamangku, hamengku hamengkoni suasana.”

Anoman: “Ya yayi!”

Bima Sekti: “Pangrawating diyu, pangruwat iku panglebur, diyu iku buta. Kang dianggep buta iku watak angkara, aja kowe tutur-tutur karo wong liya nek awakmu isih kesinungan watak angkara. Mula ingkang becik kudu bisa mbengkas watak angkara kang anggolong gumolong anggeleng ana anganira.

Lamun kowe wus bisa mbengkas watak angkara kang gumolong ana angganira lagya kowe kena pitutur marang sepadha padhaning dumadi. Lamun wus kabeh bisa kasinungan watak ora melik marang darbeking liyan.

Kabeh padha percaya marang panguwasaning bethara, wong wadon padha bekti marang wong lanang. Wong lanang padha duwe tanggung jawab ngayomi marang wong wadon.

Yen bebrayan kang kaya mengkono yekti bisa nurunake watak satriya kang sejati kang bisa andadekake sarana tentreming jagad raya.”

Anoman: “Kadangipun kakang yayi.”

Kali ini, Bima Sekti secara lebih spesifik menguraikan makna dari “Ningrat” dan “Pangruwating Diyu,” menghubungkannya dengan perilaku praktis dalam kehidupan sehari-hari dan tanggung jawab sosial. Dialog ini mendalam dan sarat makna filosofis Jawa tentang etika, kepemimpinan, dan keseimbangan dalam hidup.

Baca Juga:

Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa

Pelajaran Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa 6 https://sabilulhuda.org/pelajaran-sastra-jendra-dari-adegan-harga-kailasa-6/

Ningrat Berada di Dunia

Bima Sekti memulai dengan menjelaskan makna “Ningrat”:

“Ningrat lingganing tembung ana ing rat, ana ing jagad tegese kowe tumindak lan tumandukmu tumapaking ampeyanmu ana ngendi papan, muna muni tindak tanduk kudu bisa cocok marang kahanan kang mbok adhepi.”

Mari kita bedah kalimat ini:

“Ningrat lingganing tembung ana ing rat, ana ing jagad”:

Kata “Ningrat” berakar dari kata “ing rat” atau “ing jagad,” yang berarti “di dunia” atau “di alam semesta.” Ini menegaskan bahwa ajaran ini relevan dengan keberadaan kita sebagai manusia yang hidup di dunia nyata.

“Tegese kowe tumindak lan tumandukmu tumapaking ampeyanmu ana ngendi papan”:

Artinya, segala tindakanmu, tingkah lakumu, dan langkah kakimu di mana pun berada. Ini menyoroti bahwa setiap gerak-gerik dan perilaku kita memiliki konsekuensi dan harus disadari sepenuhnya.

“Muna muni tindak tanduk kudu bisa cocok marang kahanan kang mbok adhepi”:

Baik ucapan maupun perbuatan harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang di hadapi. Ini adalah ajaran tentang adaptabilitas dan kebijaksanaan dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Seseorang tidak boleh kaku atau egois dalam bertindak, melainkan harus peka terhadap konteks, situasi, dan orang-orang di sekitarnya.

Ini bukan berarti munafik, tetapi bersikap bijaksana agar tindakan dan perkataan kita efektif dan tidak menimbulkan konflik atau kerugian.

Lebih lanjut, Bima Sekti menambahkan:

“Tegese kowe kaya bisa miguna ing aguna dhuwur ora ngungkul-ungkuli, asor ora kena di cendheki, sayekti kowe bisa hamangku, hamengku hamengkoni suasana.”

Kalimat ini menjelaskan bagaimana seseorang yang “Ningrat” seharusnya bersikap dalam berbagai situasi sosial:

 “Miguna ing aguna”:

Mampu memberikan manfaat di mana pun ia berada. Ini adalah prinsip kemaslahatan, bahwa keberadaan seseorang harus membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

 “Dhuwur ora ngungkul-ungkuli”:

Jika ia berada dalam posisi tinggi atau memiliki kelebihan, ia tidak boleh merendahkan atau merasa lebih unggul dari orang lain.

Ini adalah ajaran tentang kerendahan hati (tawadhu’) bagi mereka yang berkuasa atau berilmu. Kekuasaan dan ilmu harus di gunakan untuk melayani, bukan untuk menindas atau menyombongkan diri.

 “Asor ora kena dicendheki”:

Jika ia berada dalam posisi yang rendah atau sederhana, ia tidak boleh di rendahkan atau dipandang remeh. Ini adalah prinsip harga diri dan integritas bagi mereka yang berada di bawah. Seseorang harus tetap menjaga martabatnya meskipun dalam kondisi sederhana.

“Sayekti kowe bisa hamangku, hamengku hamengkoni suasana”:

 Sesungguhnya, kamu mampu “hamangku” (memangku/menopang), “hamengku” (menguasai/mengendalikan diri), dan “hamengkoni suasana” (mengendalikan suasana). Tiga kata ini, hamangku, hamengku, hamengkoni, adalah inti dari karakter “Ningrat.” Ini berarti seseorang harus mampu:

Memangku:

Menjadi penopang, penyangga, atau sandaran bagi orang lain. Ini adalah peran kepemimpinan yang melayani.

Mengendalikan diri:

 Memiliki kontrol penuh atas emosi, pikiran, dan tindakannya. Ini adalah disiplin diri yang tinggi.

Mengendalikan suasana:

Memiliki pengaruh positif yang mampu menciptakan harmoni, kedamaian, dan keteraturan di mana pun ia berada. Ini adalah kecerdasan sosial dan emosional yang tinggi.

Singkatnya, “Ningrat” mengajarkan bahwa manusia harus hidup di dunia dengan penuh kesadaran, adaptabilitas, dan kemampuan untuk membawa kebaikan serta menciptakan harmoni.

Ini adalah etika keberadaan yang menyeimbangkan antara individu dan komunitas, antara kelebihan dan kekurangan, serta antara perkataan dan perbuatan. Anoman merespons dengan “Ya yayi!” menunjukkan penerimaan dan pemahaman yang mendalam.

Baca Juga:

Pelajaran Dari Peradaban Jawa “SASTRA JENDRA” episode 4

Pelajaran Dari Peradaban Jawa Sastra Jendra Episode 25 https://sabilulhuda.org/pelajaran-dari-peradaban-jawa-sastra-jendra-episode-25/

Pangruwating Diyu: Membasmi Sifat Angkara dalam Diri

Selanjutnya, Bima Sekti beralih ke penjelasan “Pangruwating Diyu”:

“Pangruwat iku panglebur, diyu iku buta. Kang dianggep buta iku watak angkara, aja kowe tutur-tutur karo wong liya nek awakmu isih kesinungan watak angkara. Mula ingkang becik kudu bisa mbengkas watak angkara kang anggolong gumolong anggeleng ana anganira.”

“Pangruwat iku panglebur, diyu iku buta”:

“Pangruwat” berarti pelebur atau penghapus, dan “diyu” adalah raksasa atau buta. Sekali lagi, menegaskan bahwa ini adalah proses pembersihan atau penghapusan sifat-sifat buruk.

“Kang dianggep buta iku watak angkara”:

Yang di maksud dengan “buta” di sini adalah “watak angkara,” yaitu sifat-sifat kejahatan, kemarahan, keserakahan, keangkuhan, dan semua nafsu negatif yang menguasai diri. Ini adalah musuh sejati yang harus di perangi, bukan musuh di luar diri, melainkan yang bersemayam dalam diri sendiri.

“Aja kowe tutur-tutur karo wong liya nek awakmu isih kesinungan watak angkara”:

Janganlah engkau mengajari atau menasihati orang lain jika dirimu sendiri masih di kuasai oleh watak angkara. Ini adalah prinsip teladan dan otentisitas. Nasihat atau ajaran akan kehilangan kekuatan dan kredibilitasnya jika yang menyampaikan tidak mencerminkan apa yang ia katakan.

Ini mengingatkan kita pada peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Seorang pemimpin atau guru harus terlebih dahulu membersihkan dirinya sendiri sebelum berusaha membimbing orang lain.

“Mula ingkang becik kudu bisa mbengkas watak angkara kang anggolong gumolong anggeleng ana anganira”:

Oleh karena itu, yang terbaik adalah kamu harus mampu memotong, membasmi, atau menghancurkan watak angkara yang telah mengakar kuat, menggumpal, dan mengendap dalam dirimu. Ungkapan “anggolong gumolong anggeleng”

menggambarkan betapa kuat dan menyatunya watak angkara dalam diri manusia jika tidak di kendalikan. Itu bukan sekadar sifat sesaat, melainkan sudah menjadi bagian yang utuh dalam karakter.

Poin ini menekankan pentingnya introspeksi dan pemurnian diri secara radikal. Sastra Jendra tidak mengajarkan teori semata, melainkan praktik nyata untuk mengalahkan ego dan hawa nafsu.

Syarat Memberi Nasihat dan Menciptakan Masyarakat Ideal

Bima Sekti melanjutkan dengan menjelaskan kapan seseorang layak memberikan nasihat, dan bagaimana jika hal itu terjadi, akan menciptakan masyarakat yang ideal:

“Lamun kowe wus bisa mbengkas watak angkara kang gumolomng ana angganira lagya kowe kena pitutur marang sepadha padhaning dumadi.”

“Lamun kowe wus bisa mbengkas watak angkara kang gumolomng ana angganira”: Hanya jika engkau telah berhasil membasmi watak angkara yang mengakar kuat dalam dirimu.

“Lagya kowe kena pitutur marang sepadha padhaning dumadi”: Barulah engkau layak untuk memberikan nasihat kepada sesama makhluk hidup.

Ini adalah ajaran tentang otoritas moral. Nasihat yang paling efektif datang dari seseorang yang telah mempraktikkan apa yang ia ajarkan dan telah berhasil mengatasi kelemahan dirinya sendiri. Ini adalah prinsip kepemimpinan yang berbasis pada integritas dan kemurnian hati.

Visi Masyarakat yang Damai dan Berbudi Luhur

Kemudian, Bima Sekti menggambarkan sebuah masyarakat yang ideal, yang terbentuk ketika individu-individu telah berhasil meruwat sifat “diyu” dalam diri mereka:

“Lamun wus kabeh bisa kasinungan watak ora melik marang darbeking liyan, kabeh padha percaya marang panguwasaning bethara. Wong wadon padha bekti marang wong lanang, wong lanang padha duwe tanggung jawab ngayomi marang wong wadon.

Yen bebrayan kang kaya mengkono yekti bisa nurunake watak satriya kang sejati kang bisa andadekake sarana tentreming jagad raya.”

Ini adalah visi utopis namun aspiratif dari sebuah tatanan masyarakat yang harmonis:

“Kabeh bisa kasinungan watak ora melik marang darbeking liyan”:

Semua orang memiliki sifat tidak mengingini atau tamak terhadap milik orang lain. Ini adalah dasar dari keadilan sosial dan hilangnya keserakahan, yang seringkali menjadi pemicu konflik.

Jika setiap individu tidak terdorong oleh nafsu kepemilikan yang berlebihan, maka masyarakat akan bebas dari pencurian, korupsi, dan eksploitasi.

“Kabeh padha percaya marang panguwasaning bethara”:

Semua orang percaya kepada kekuasaan Tuhan (Bethara). Ini adalah pondasi spiritualitas dan keimanan kolektif. Keyakinan ini akan menumbuhkan rasa syukur, kerendahan hati, dan ketenangan batin, karena mereka memahami bahwa segala sesuatu berasal dari kekuasaan yang lebih tinggi.

Ini juga menekan ego individu karena setiap orang merasa menjadi bagian dari tatanan ilahi yang lebih besar.

“Wong wadon padha bekti marang wong lanang, wong lanang padha duwe tanggung jawab ngayomi marang wong wadon”:

Wanita menghormati pria, dan pria memiliki tanggung jawab untuk melindungi wanita. Ini adalah gambaran keselarasan peran gender dalam budaya Jawa.

Wanita “bekti” (berbakti/menghormati):

Ini bukan tentang penindasan, melainkan tentang pengakuan peran dan tanggung jawab yang berbeda dalam keluarga dan masyarakat, serta saling menghargai. “Bakti” mengandung makna ketulusan, kesetiaan, dan dukungan.

Pria “ngayomi” (melindungi/mengayomi):

Ini adalah tanggung jawab pria sebagai pelindung, penyedia, dan pemimpin keluarga yang adil dan bijaksana. Konsep ini menekankan perlindungan, kasih sayang, dan rasa aman yang di berikan pria kepada wanita dan keluarga.

Kedua aspek ini menggambarkan hubungan timbal balik dan saling melengkapi antara pria dan wanita, yang bertujuan menciptakan harmoni dalam rumah tangga dan masyarakat. Ini adalah fondasi kuat dari sebuah keluarga yang sejahtera.

“Yen bebrayan kang kaya mengkono yekti bisa nurunake watak satriya kang sejati kang bisa andadekake sarana tentreming jagad raya”:

Jika rumah tangga (dan pada akhirnya masyarakat) seperti itu, niscaya akan melahirkan “watak satriya kang sejati” (karakter ksatria sejati) yang mampu menjadi sarana untuk “tentreming jagad raya” (kedamaian alam semesta).

Watak satriya sejati adalah puncak dari ajaran ini. Satriya sejati bukanlah hanya seorang pejuang fisik, melainkan sosok yang memiliki:

Keberanian (melawan angkara murka, termasuk dalam diri sendiri).

Integritas (tidak mengingini milik orang lain, otentik dalam nasihat).

Kebijaksanaan (adaptif, mampu mengendalikan suasana).

Tanggung jawab (melindungi, mengayomi).

Kesadaran spiritual (percaya kepada Tuhan).

Pengabdian (untuk kedamaian semesta).

Masyarakat yang di penuhi oleh individu-individu berwatak satriya sejati seperti ini akan menciptakan kedamaian yang sejati di dunia. Ini adalah tujuan akhir dari Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu: bukan hanya perubahan individual, tetapi transformasi sosial menuju harmoni universal.

Anoman menutup dialog dengan “Kadangipun kakang yayi,” yang berarti “Saudaraku, Kakakku, Adikku.” Ini menunjukkan rasa kekeluargaan yang erat dan ikatan batin yang kuat, seolah mengatakan,

“Kita semua adalah saudara, dan ajaran ini mengikat kita dalam satu kesatuan tujuan untuk mencapai kebaikan bersama.”

Kesimpulan Komprehensif

Dialog ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu di terapkan dalam kehidupan nyata.

Prinsip “Ningrat” (Etika Keberadaan):

Mengajarkan pentingnya adaptabilitas, kemanfaatan, kerendahan hati, dan pengendalian diri dalam setiap aspek kehidupan. Seseorang harus mampu menempatkan diri, berbicara, dan bertindak sesuai dengan konteks, sambil tetap menjaga integritas dan membawa dampak positif.

Kemampuan untuk hamangku, hamengku, hamengkoni suasana adalah puncak dari perilaku “Ningrat,” yang menciptakan harmoni di sekitarnya.

Baca Juga: Nilai-nilai Kementerian Keuangan dalam Filosofi Pewayangan

Prinsip “Pangruwating Diyu” (Pemurnian Diri):

Menekankan bahwa musuh terbesar adalah “watak angkara” (sifat-sifat jahat) yang ada dalam diri sendiri. Proses “meruwat” ini adalah upaya radikal untuk menghancurkan ego, keserakahan, dan kemarahan dari akarnya.

Lebih penting lagi, Bima Sekti menegaskan bahwa integritas dan otentisitas adalah kunci; seseorang tidak boleh mengajari orang lain jika ia sendiri belum membersihkan diri dari sifat-sifat buruk.

Visi Masyarakat Ideal:

Ketika individu-individu berhasil menerapkan kedua prinsip di atas, akan terbentuk masyarakat yang damai. Masyarakat ini di tandai dengan ketiadaan keserakahan, keimanan yang kuat, keselarasan peran gender yang saling menghormati dan melindungi.

Serta lahirnya “watak satriya sejati.” Watak satriya ini menjadi katalisator bagi kedamaian universal.

Secara keseluruhan, ajaran ini adalah panggilan untuk transformasi diri yang mendalam sebagai prasyarat untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat.

Ini adalah filosofi hidup yang relevan untuk individu, keluarga, dan seluruh komunitas, mengajarkan bahwa kedamaian sejati di mulai dari kedamaian dalam diri dan keselarasan dalam interaksi sosial.

Ini bukan hanya sebuah doktrin, melainkan sebuah jalan hidup yang menuntut kesadaran, disiplin, dan komitmen untuk kebaikan yang lebih besar. (TAMAT)

Oleh: Ki Pekathik