
Pelajaran Sastra Jendra dari Adegan Harga Kailasa 6 – Naskah diambil dari Aksiologi Serat Sastra Jendra Karya: Sri Teddy Rusdy, 2024, hal 40.
Bima Sekti: “Dene surasaning sastra kang saka astane Hyang Widi Wasa iku sejati wus mratelaake dumadimu ana jagad raya. Nalika kowe tinimbalan nampa sastra yaiku kang ingaran dzat sipat asma apengal, dzat iku urip, sipat wujud, asma jeneng apengal wohing pakaryan.
Dumadimu ana ing jagad raya yen ora kena panggirigodha manut sastra kang ditrapke dening bethara, kowe kudu bisa ngatonake pakaryan kang becik. Mula ana bebasan yen gajah mati ninggal gading, sardula mati ninggal lulang nek menusung ninggal jeneng kang arum, kang diarani jeneng arum ya pakaryan ingkang becik ngurakapi marang bebrayan.”
Anoman: “Iya.”
Penjelasan Bima Sekti
Bima Sekti dalam percakapan ini bertindak sebagai seorang guru atau penasihat spiritual, memberikan wejangan kepada Anoman tentang hakikat keberadaan manusia, tujuan hidup, dan cara mencapai kesempurnaan batin.
Hakikat Keberadaan Dan Tanggung Jawab Manusia
Bima Sekti menjelaskan bahwa sastra (wahyu/ketetapan) dari Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) telah dengan jelas menyatakan asal-usul dan keberadaan manusia di alam semesta. Adalah anugerah atau takdir yang berasal dari tangan Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Bisa diartikan sebagai “tulisan takdir yang berasal dari tangan Tuhan.” Ini menegaskan bahwa hidup kita bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana ilahi.
Penyelamatan Jiwa (Djat Sipat Asma): Bagian ” nalika kowe tinimbalan nampa sastra yaiku kang ingaran dzat sipat asma apengal,dzat iku urip, sipat wujud, asma jeneng apengal wohing pakaryan, dumadimu ana ing jagad raya ” ini cukup filosofis.
“Dzat, sifat, asma, apengal”: Ini adalah konsep penting dalam tasawuf Jawa (dan juga Islam) yang menggambarkan tahapan manifestasi Tuhan hingga menjadi ciptaan:
“Djat sipat asma” kemungkinan merujuk pada hakikat keberadaan atau esensi jiwa yang memiliki nama (asma).
Baca Juga:

Pelajaran Sastra Jendra dari Adegan Harga Kailasa 5 https://sabilulhuda.org/pelajaran-sastra-jendra-dari-adegan-harga-kailasa-5/
Dzat (ذات): Merujuk pada esensi atau hakikat Tuhan yang tak terbatas dan tak terlukiskan. Dalam konteks manusia, ini diartikan sebagai hidup itu sendiri, jiwa yang berasal dari Tuhan.
Sifat (صفات): Atribut atau sifat-sifat Tuhan yang termanifestasi. Pada manusia, ini diartikan sebagai wujud fisik dan karakteristik yang melekat padanya.
Asma (أسماء): Nama-nama Tuhan yang agung. Pada manusia, ini diartikan sebagai nama atau identitas yang diberikan kepadanya.
Apengal (أفعال): Perbuatan atau karya Tuhan. Pada manusia, ini adalah buah dari perbuatan atau hasil karya yang dihasilkan selama hidup.
Ini menyiratkan bahwa jiwa yang diselamatkan oleh “Wasa” (kemungkinan personifikasi dari kekuatan ilahi atau prinsip kosmis) adalah jiwa yang mampu mewujudkan dirinya dalam kehidupan, memiliki kekuatan, dan kejernihan batin.
Bima Sekti menekankan bahwa keberadaan manusia di dunia ini tidak boleh goyah oleh godaan, melainkan harus patuh pada sastra (ketetapan Ilahi) yang telah ditaqdirkan.
Manusia memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan perbuatan yang baik. Inti dari bagian ini adalah tujuan hidup manusia adalah untuk berbuat kebajikan dan meninggalkan warisan moral yang positif dalam tatanan semesta yang seimbang.
Analogi yang digunakan sangat kuat:
1. “Gajah mati ninggal gading, sardula (harimau) mati ninggal lulang (kulit), nek manungsa ninggal jeneng kang arum”: Ini berarti bahwa setiap makhluk meninggalkan warisan sesuai dengan karakteristiknya.
Bagi manusia, warisan yang paling berharga adalah nama baik (jeneng kang arum), yang diperoleh dari perbuatan baik yang bermanfaat bagi masyarakat (pakaryan ingkang becik ngurakapi marang bebrayan).
2. Warisan Nama Baik: Bagian terakhir adalah perumpamaan yang sangat terkenal: “yen gajah mati ninggal gading, sardula mati ninggal lulang nek manungsa mati ninggal jeneng kang arum, kang diarani jeneng arum ya pakaryan ingkang becik ngurakapi marang bebrayan.”
3. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan tulang. Ini adalah simbolisasi dari warisan fisik.
4. Manusia mati meninggalkan nama yang harum. Ini adalah inti dari nasihat tersebut. Nama harum tidak didapat dari kekayaan atau jabatan.
Melainkan dari “pakaryan ingkang becik ngurakapi marang bebrayan” (perbuatan baik yang menghidupi atau bermanfaat bagi masyarakat). Ini adalah penekanan pada nilai-nilai altruisme dan kontribusi positif terhadap sesama.
Bima Sekti: “Jendra, retuning basuki, kowe bakal pinayungan dening ratuning basuki lamun kowe eling lamun urip sejati ana kang nguripi yaiku Hyang Widi Wasa. Mula ngluhurna asmaning Hyang Widi srana manembah, panembahmu nindakna piwulangane agama suci.
Agama apa kang mbok rasukaja nganti mangro tingal, ingkang baku sembah catur yaiku sembahing raga, sembahing cipta, sembahing rasa, sembahing kalbu. Sembahing raga kowe arep nyembah papaning kudu sing becik lan prenah.
Sandhangan sanadyan ta ora anyar nanging ingkang resik, lan carane manembah agama kang mbok rasuk kepiye, aja mbok owahi. Panembahing cipta jroning manembah ciptamu, ora kena mangro tingal, maligi siji marang Hyang Widi Wasa.
Lamun kowe wus bisa maligi ciptaning atimu kowe kaya bisa nunggal rasa marang Hyang Widi Wasa. Mula sok ana manungsa arep nampa nugraha wis krasa luwih dhisik, arep nampa coba wis krasa luwih dhisik.
Merga panembahing rasa wus dumadi, sak wise panembah rasa, panembah kalbu manjing dadi watak. Kowe medhun saka nyembah ngrasani kasugihane tanggamu arep gawe rusak, tanpa guna olehmu nyembah piring-pirang taun.
Dadi kudu mulus rasaning atimu dumadimu ana jagad raya, sayekti percaya marang panguwasaning bethara kang hakarya jagad.”
Anoman: “Iya.”
Ayat Kedua: Penyerahan Diri kepada Tuhan (Manembah)
Penyelamatan dan Perlindungan Ilahi: Bima Sekti memanggil Anoman dengan hormat (“Jendra, ratuning basuki” – Raja Kebajikan). Dan menyatakan bahwa Anoman akan “pinayungan dening ratuning basuki” (dilindungi oleh raja kebajikan).
Jika ia ingat bahwa hidup sejati (“urip sejati”) berasal dari yang menghidupi, yaitu Hyang Widi Wasa. Ini adalah fondasi spiritualitas: pengakuan akan keberadaan dan kekuasaan Tuhan sebagai sumber kehidupan.
Baca Juga:

Pelajaran Dari Peradaban Jawa Sastra Jendra Episode 26 https://sabilulhuda.org/pelajaran-dari-peradaban-jawa-sastra-jendra-episode-26/
Mengagungkan Tuhan Melalui Penyembahan: Oleh karena itu, manusia harus “ngluhurna asmaning Hyang Widi Wasa srana manembah” (mengagungkan nama Tuhan melalui penyembahan atau bakti). Ini adalah ajakan untuk beribadah.
Empat Tingkat Penyembahan (Catur Sembah): Bima Sekti kemudian menjelaskan konsep empat jenis sembah atau bakti yang merupakan ajaran agama suci dan agung. Ini adalah inti dari ajaran spiritual dalam kutipan ini:
Sembahing Raga (Penyembahan Fisik/Raga): Ini berkaitan dengan pelaksanaan ritual ibadah secara lahiriah.
“Kowe arep nyembah papaning kudu sing becik lan prenah”: Tempat ibadah harus baik dan sesuai.
“sandhangan sanadyan ta ora anyar nanging ingkang resik, lan sareh”: Persiapan (misalnya wudhu atau membersihkan diri) harus bersih dan dilakukan dengan sabar.
“lan carane manembah agama kang mbok rasuk kepiye, aja mbok owahi “: Tata cara ibadah yang telah diajarkan oleh agama tidak boleh diubah-ubah. Ini menekankan pentingnya mengikuti syariat atau aturan yang ada.
Fokus pada aspek lahiriah ibadah. Tempat harus baik dan tepat. Pakaian harus bersih, meskipun tidak baru. Cara beribadah sesuai agama yang dianut, jangan diubah.
Ini mengajarkan tentang kebersihan, kerapian, dan ketaatan pada syariat atau tata cara ibadah yang telah ditetapkan oleh agama yang diyakini.
Sembahing Cipta (Penyembahan Pikiran/Cipta): Ini berkaitan dengan fokus pikiran saat beribadah.
“jroning manembah ciptamu, ora kena mangro tingal, maligi siji marang Hyang Widi Wasa,”: Saat beribadah, pikiran tidak boleh terbagi-bagi atau bercabang (“ora kena mangro tingal”), melainkan harus terpusat hanya kepada Hyang Widi Wasa (“maligi siji marang Hyang Widi Wasa”).
Penyatuan Rasa: ” lamun kowe wus bisa maligi ciptaning atimu kowe kaya bisa nunggal rasa marang Hyang Widi Wasa.”
Jika pikiran sudah bisa terpusat, maka seseorang bisa mencapai penyatuan rasa (merasakan kehadiran dan kebersatuan) dengan Hyang Widigda. Ini adalah tingkat meditasi atau konsentrasi yang mendalam.
Fokus pada konsentrasi pikiran saat beribadah. Pikiran tidak boleh mendua, harus terpusat hanya kepada Hyang Widi Wasa.
Sembahing Rasa (Penyembahan Rasa/Perasaan): Ini adalah tingkatan yang lebih tinggi, di mana individu dapat merasakan kehadiran ilahi.
“mula sok ana manungsa arep nampa nugraha wis krasa luwih dhisik, arep nampa coba wis krasa luwih dhisik. Merga panembahing rasa wus dumadi.”
Ini menyiratkan bahwa pada tingkat ini, seseorang mungkin sudah bisa merasakan atau “mengetahui” anugerah atau bahkan cobaan sebelum itu terjadi secara fisik, karena sudah ada penyatuan rasa dengan Tuhan. Namun, penting untuk tidak menyalahgunakan kemampuan ini atau menjadi sombong.
Ketika pikiran sudah bisa terpusat (maligi), manusia akan merasa menyatu dengan Tuhan (nunggal rasa). Ini menjelaskan mengapa kadang manusia merasakan datangnya anugerah atau cobaan lebih dahulu (wis krasa luwih dhisik). Ini adalah intuisi atau kepekaan spiritual yang berkembang dari konsentrasi pikiran yang murni dalam ibadah.
Sembahing Kalbu (Penyembahan Hati Nurani/Kalbu): Ini adalah puncak dari penyembahan, di mana seluruh hati dan jiwa telah menjadi wadah bagi kehadiran ilahi.
“Sak wise panembah rasa, panembah kalbu manjing dadi watak.” Setelah penyembahan rasa, penyembahan kalbu masuk dan menjadi wadah. Ini berarti hati nurani sepenuhnya menyatu dengan kehendak Tuhan.
“kowe medhun saka nyembah ngrasani kasugihane tanggamu arep gawe rusak, tanpa guna olehmu nyembah piring-pirang taun.”
Bima Sekti memberikan peringatan keras di sini: jangan sampai dalam ibadah kita masih memikirkan hal-hal duniawi yang merusak, seperti iri hati terhadap kekayaan tetangga. Ini kontras dengan orang yang “lena layu nyembah” (santai dalam ibadah) tetapi masih memiliki niat buruk.
Ini menekankan pentingnya kemurnian niat dan hati dalam beribadah.
Ini adalah puncak dari semua penyembahan, di mana sembahing rasa telah merasuk dan menjadi watak (karakter). Artinya, ibadah tidak hanya sekadar ritual, tetapi telah mengubah perilaku dan kepribadian seseorang.
Bima Sekti memberikan peringatan keras: Jika setelah beribadah bertahun-tahun, hati masih dipenuhi iri dengki (ngrasani kasugihane tanggamu arep gawe rusak), maka ibadah itu “tanpa guna” (tidak berguna). Oleh karena itu, hati harus “mulus” (bersih dan tulus), dan percaya sepenuhnya pada kekuasaan Tuhan (panguwasaning bethara kang hakarya jagad).
Baca Juga: Nilai-nilai Kementerian Keuangan dalam Filosofi Pewayangan
Kesimpulan Pesan
Secara keseluruhan, percakapan Bima Sekti ini adalah ajaran spiritual yang komprehensif, menekankan:
1. Asal-usul Ilahi: Manusia adalah ciptaan Tuhan dan memiliki tujuan mulia.
2. Warisan Nama Baik: Pentingnya berbuat baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat sebagai warisan terpenting.
3. Penyembahan yang Holistik: Ibadah tidak hanya sebatas ritual fisik, tetapi juga melibatkan pemusatan pikiran, penyatuan rasa, dan kemurnian hati.
4. Tujuan Akhir: Percaya sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan dan menjalani hidup dengan niat yang suci.
Pesan ini sangat relevan dalam tradisi spiritual Jawa, yang seringkali mengintegrasikan aspek-aspek moral, etika. Dan hubungan transendental dengan Tuhan dalam konsep kesempurnaan hidup.
Secara keseluruhan, wejangan Bima Sekti ini adalah panduan komprehensif tentang bagaimana menjalani hidup yang bermakna dan mencapai kedekatan spiritual dengan Tuhan, dengan menekankan pentingnya perbuatan baik, ketulusan hati, dan ibadah yang holistik.
Oleh: Ki Pekathik




