sastra  

Pelajaran Sastra Jendra  dari Adegan Harga Kailasa 5

Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa
Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa 1
Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa
Pelajaran Sastra Jendra  dari Adegan Harga Kailasa 5

Pelajaran Sastra Jendra  dari Adegan Harga Kailasa 5 – Naskah diambil dari Aksiologi Serat Sastra Jendra  Karya: Sri Teddy Rusdy, 2024, hal 39.

Dialog Bima Sekti dan Anoman

“Antawecana”

Narasi (dalam pedalangan): tanda bahwa dialog berpindah, atau akan masuk pada uraian makna ajaran.

1. Bima Sekti: “Mayangkara kakungku.”

Wahai saudara lelakinya Mayangkara (sebuah panggilan khusus untuk Anoman, dengan nada hormat dan mesra).

2. Anoman: “Apa dhi.”

Ada apa, adikku?

(Catatan: “dhi” adalah sapaan akrab dan lembut kepada yang lebih muda.)

3. Bima Sekti: “Sejatine ngelmu Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu kena kinarya srana mbengkas watak murka ambek angkara budi candhala, sumongah hangangah-angah kumedah angkangah angakahjajad murih ing jagad pinunjul pribadi…”

Sesungguhnya ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk memotong atau menyudahi sifat pemarah, watak angkara murka, akal jahat, kesombongan, merasa paling, tinggi hati, dan keinginan yang meluap-luap demi kejayaan pribadi di dunia.

4. “…nanging mengkerake marang panembah jati, kang cinaket amung durgamaning urip, ora mokal gampang digodha iblis lanat satemah tumindak maksiat ora mangerti piwulang kang luhur tuladha kang becik satemah kasinungan watak hadigang, hadigung, hadiguna.”

Namun jika ilmu itu tidak dipahami dengan benar, justru bisa menjauhkan seseorang dari penghambaan sejati kepada Tuhan. Ia akan dikuasai oleh nafsu hidup duniawi, sehingga mudah digoda oleh iblis terkutuk.

Akhirnya ia melakukan kemaksiatan, tidak memahami ajaran luhur dan teladan baik, lalu menjadi orang yang hanya mengejar kekuatan, kekuasaan, dan kepintaran tanpa budi pekerti.

Baca Juga:

Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa

Pelajaran Sastra Jendra  dari Adegan Harga Kailasa 4 https://sabilulhuda.org/pelajaran-sastra-jendra-dari-adegan-harga-kailasa-4/

5. “Ora eling triloka gumelar awit saka purba pangawasing Hyang Widhi Wasa…”

Arti:

Tidak ingat lagi bahwa seluruh semesta (triloka: tiga dunia) ini muncul dari kehendak Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).

6. “…ingkeng pancen dumadi ana jagad raya siji tata, ping pindho titi, kaping telu titis, ping pat tatas, Tutug kang ganep kaping lima pinangka kunci gegayuhaning urip.”

Segala sesuatu di alam semesta ini tercipta dengan tatanan:

1. Tata (tertib),

2. Titi (teliti/cermat),

3. Titis (tepat/berkualitas),

4. Tatas (tuntas/rampung),

5. Tutug (puncak/kesempurnaan).

Lima hal itu menjadi kunci dalam mencapai cita-cita kehidupan.

7. Anoman: “Iya ya yayi.”

Baiklah, adikku (aku mengerti).

8. Bima Sekti: “Dene maknane Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu. Sastra iku tulis surasaning tulis lan diyane tulis bisa kanggo ngrampungake pakaryan ya sing abot ya sing etheng, ya sing gampang ya sing angel…”

Adapun makna dari Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu:

Sastra berarti tulisan atau ilmu pengetahuan.

Makna terdalam dari tulisan adalah bahwa ia bisa menyelesaikan pekerjaan, baik yang berat maupun ringan, mudah maupun sulit.

9. “…maknane sastra bisa nggampangake pakaryan ingkang angel dayaning sastra bisa handayani ngenthengake pakaryan ingkang nyata abot.”

Artinya, ilmu pengetahuan (sastra) mampu mempermudah pekerjaan yang sulit. Daya dari ilmu ini memberikan kekuatan sehingga pekerjaan berat pun terasa ringan.

10. “Apa maneh lamun kowe lumaksana adoh keblat purwa pracima utara myang duksina…”

Apalagi jika engkau menjelajah jauh ke segala penjuru arah: timur, barat, utara, maupun selatan…

11. “…kowe lamun mangerti surasaning sastra bisa bebasan kaya lumaku ing wanci panglong kepapag obor sewu satemah ora sida bingung merga saka dayaning sastra…”

…jika engkau memahami makna sejati dari ilmu (sastra), maka engkau akan seperti berjalan di malam gelap dan disambut oleh seribu obor penerang — tidak akan tersesat, sebab kekuatan dari ilmu itu akan menuntun.

12. “mula yen ana wong kang wuta sastra iku sejatine kainan.”

Maka jika ada orang yang buta terhadap ilmu (tidak mengenal ilmu sejati), sejatinya dia sedang dalam keadaan celaka.

13. Anoman: “Iya.”

Baik, aku mengerti.

Inti Ajaran: Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Bima Sekti langsung masuk ke pokok persoalan dengan memperkenalkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kalimat ini sendiri adalah sebuah frasa padat makna yang menjadi puncak filosofi dalam pewayangan Jawa, khususnya dalam konteks ajaran kepemimpinan dan spiritualitas.

Sastra Jendra: Sastra berarti ilmu pengetahuan atau tulisan, sementara Jendra bisa diartikan sebagai raja atau penguasa. Ini merujuk pada ilmu tertinggi, ilmu para penguasa, atau ilmu yang mampu mengendalikan segala sesuatu.

Hayuningrat: Hayu berarti keselamatan atau kebaikan, sedangkan ingrat berarti dunia atau semesta. Ini menunjukkan bahwa ilmu ini bertujuan untuk menciptakan keselamatan dan kebaikan bagi seluruh alam semesta.

Pangruwating Diyu: Pangruwat berarti penebus atau pembebas, dan diyu adalah raksasa. Secara harfiah, ini berarti ilmu untuk menebus atau membebaskan dari sifat-sifat keraksasaan. Dalam konteks filosofis, “raksasa” di sini melambangkan sifat-sifat buruk manusia seperti keserakahan, kemarahan, keangkuhan, dan hawa nafsu.

Jadi, secara keseluruhan, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ilmu tertinggi yang bertujuan untuk menyelamatkan dan menyejahterakan semesta dengan cara meruwat atau menghilangkan sifat-sifat buruk dan angkara murka dalam diri manusia.

Manfaat Ilmu: Mengatasi Watak Negatif

Bima Sekti menjelaskan secara eksplisit bahwa ilmu ini adalah sarana untuk “mbengkas watak murka ambek angkara budi candhala, sumongah hangangah-angah kumedah angkangah angakahjajad murih ing jagad pinunjul pribadi.” Ini adalah daftar komprehensif dari sifat-sifat negatif yang bersemayam dalam diri manusia:

 Watak murka: Sifat pemarah, mudah tersulut emosi.

 Ambek angkara: Sifat tamak, serakah, ingin menguasai segalanya.

 Budi candhala: Akal jahat, niat buruk, kecenderungan untuk merugikan orang lain.

 Sumongah hangangah-angah: Sombong, merasa paling hebat, meremehkan orang lain.

Kumedah angangkah angakahi jagad murih ing jagad pinunjul pribadi: Keinginan yang meluap-luap untuk kejayaan pribadi, ambisi yang tak terkendali demi keuntungan diri sendiri tanpa memedulikan orang lain.

Intinya, Sastra Jendra adalah alat untuk mengendalikan ego dan nafsu-nafsu rendah yang jika dibiarkan akan menghancurkan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Ilmu ini bukan tentang pencapaian eksternal semata, melainkan tentang pemurnian diri dari dalam.

Peringatan Penting: Bahaya Penyalahgunaan Ilmu

Namun, Bima Sekti dengan bijak memberikan peringatan penting: “nanging mengkerake marang panembah jati, kang cinaket amung durgamaning urip, ora mokal gampang digodha iblis lanat satemah tumindak maksiat ora mangerti piwulang kang luhur tuladha kang becik satemah kasinungan watak hadigang, hadigung, hadiguna.”

Ini adalah poin krusial dalam ajaran ini. Ilmu sehebat Sastra Jendra pun, jika tidak dilandasi oleh “panembah jati” (penghambaan sejati kepada Tuhan), justru akan menjerumuskan seseorang. Tanpa fondasi spiritual yang kuat, ilmu tersebut dapat:

Menjauhkan dari penghambaan sejati: Seseorang bisa menjadi sombong dan merasa ilmunya sudah cukup tanpa perlu lagi mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dikuasai nafsu duniawi: Fokus hanya pada pencapaian materi dan kekuasaan, melupakan nilai-nilai luhur.

Mudah digoda iblis: Tanpa benteng keimanan, godaan untuk melakukan perbuatan maksiat dan tercela menjadi sangat besar.

Kehilangan pemahaman akan ajaran luhur: Orang tersebut akan kehilangan arah, tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan salah, baik dan buruk.

Terperosok dalam watak “hadigang, hadigung, hadiguna”:

 Hadigang: Mengandalkan kekuatan fisik atau kekuasaan tanpa akal sehat dan pertimbangan moral.

 Hadigung: Mengandalkan kemuliaan atau kebesaran leluhur tanpa upaya pribadi untuk berbuat baik.

Hadiguna: Mengandalkan kepintaran atau kecerdasan semata tanpa diiringi budi pekerti dan kebijaksanaan.

Peringatan ini menegaskan bahwa ilmu tanpa iman dan moralitas adalah kehampaan, bahkan bisa menjadi senjata yang merusak. Ilmu Sastra Jendra tidak hanya mengajarkan tentang kekuatan atau kecerdasan, tetapi juga tentang bagaimana menggunakannya untuk kebaikan universal, bukan untuk kepentingan pribadi yang sempit.

Mengingat Sang Pencipta: Tatanan Semesta

Bima Sekti kemudian mengingatkan Anoman untuk “Ora eling triloka gumelar awit saka purba pangawasing Hyang Widhi Wasa.” Ini adalah ajakan untuk selalu ingat akan keberadaan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. “Triloka” atau tiga dunia (dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah) adalah representasi dari seluruh alam semesta yang terbentang luas, yang semuanya ada karena kehendak Tuhan.

Poin ini menekankan pentingnya kesadaran akan kemahakuasaan Tuhan (Hyang Widhi Wasa) sebagai pondasi dari segala ilmu dan tindakan. Seseorang yang memahami Sastra Jendra harus selalu merujuk pada prinsip-prinsip ketuhanan, bahwa semua yang ada berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Lima Kunci Kehidupan: Tata, Titi, Titis, Tatas, Tutug

Melanjutkan dari poin sebelumnya, Bima Sekti menjelaskan tatanan penciptaan alam semesta: “ingkeng pancen dumadi ana jagad raya siji tata, ping pindho titi, kaping telu titis, ping pat tatas, Tutug kang ganep kaping lima pinangka kunci gegayuhaning urip.” Ini adalah filosofi yang sangat mendalam dan praktis untuk mencapai cita-cita hidup:

Tata (tertib): Segala sesuatu di alam semesta ini tersusun dengan teratur. Dalam kehidupan, kita juga harus memiliki keteraturan, perencanaan, dan disiplin.

Titi (teliti/cermat): Dalam setiap tindakan, kita harus teliti dan cermat. Tidak ceroboh, memperhatikan detail, dan menghindari kesalahan yang tidak perlu.

Titis (tepat/berkualitas): Hasil dari ketelitian adalah ketepatan dan kualitas. Apa yang kita kerjakan harus sesuai sasaran dan memberikan hasil yang optimal.

Tatas (tuntas/rampung): Setiap pekerjaan atau tujuan harus diselesaikan dengan tuntas, tidak setengah-setengah. Tanggung jawab harus dipenuhi sampai akhir.

Tutug (puncak/kesempurnaan): Ketika semua proses dilakukan dengan tata, titi, titis, dan tatas, maka akan tercapai kesempurnaan atau puncak dari apa yang ingin diraih. Ini adalah hasil akhir yang optimal.

Lima poin ini bukan hanya tentang penciptaan alam semesta, tetapi juga merupakan pedoman hidup bagi manusia. Untuk mencapai kesuksesan dan tujuan hidup, seseorang harus menerapkan prinsip-prinsip ini dalam setiap aspek kehidupannya. Anoman yang menjawab “Iya ya yayi” menunjukkan pemahaman dan penerimaan akan ajaran ini.

Makna Sastra: Kekuatan Ilmu Pengetahuan

Bima Sekti kemudian kembali menekankan makna dari “Sastra” itu sendiri: “Sastra iku tulis surasaning tulis lan diyane tulis bisa kanggo ngrampungake pakaryan ya sing abot ya sing etheng, ya sing gampang ya sing angel… maknane sastra bisa nggampangake pakaryan ingkang angel dayaning sastra bisa handayani ngenthengake pakaryan ingkang nyata abot.”

Di sini, “sastra” tidak hanya berarti tulisan atau teks, tetapi juga ilmu pengetahuan secara luas. Kekuatan ilmu pengetahuan dijelaskan sebagai berikut:

Mampu menyelesaikan pekerjaan: Baik yang berat maupun ringan, mudah maupun sulit. Ilmu memberikan solusi dan cara untuk mengatasi berbagai tantangan.

Mempermudah pekerjaan yang sulit: Dengan ilmu, hal-hal yang tadinya terasa rumit atau tidak mungkin menjadi lebih sederhana dan dapat diatasi.

Memberikan kekuatan: “Dayaning sastra bisa handayani” berarti kekuatan dari ilmu itu mampu meringankan beban pekerjaan yang tadinya terasa sangat berat.

Ini adalah penekanan pada kekuatan transformatif dari ilmu pengetahuan. Ilmu bukan hanya teori, tetapi juga alat praktis yang memungkinkan manusia untuk berinovasi, memecahkan masalah, dan meningkatkan kualitas hidup.

Baca Juga: Nilai-nilai Kementerian Keuangan dalam Filosofi Pewayangan

Sastra sebagai Penerang di Kegelapan

Untuk lebih menguatkan pentingnya sastra (ilmu pengetahuan), Bima Sekti menggunakan analogi yang indah: “Apa maneh lamun kowe lumaksana adoh keblat purwa pracima utara myang duksina… kowe lamun mangerti surasaning sastra bisa bebasan kaya lumaku ing wanci panglong kepapag obor sewu satemah ora sida bingung merga saka dayaning sastra.”

Analogi ini menggambarkan:

Menjelajah ke segala penjuru: Merujuk pada perjalanan hidup yang penuh tantangan, ketidakpastian, dan berbagai arah yang harus dipilih.

Malam gelap dan seribu obor: Seseorang yang berjalan di malam gelap (kebingungan, ketidaktahuan) akan sangat terbantu jika disambut oleh seribu obor penerang. “Obor sewu” melambangkan pencerahan dan petunjuk yang diberikan oleh ilmu pengetahuan.

Maknanya, ilmu pengetahuan adalah penuntun utama dalam hidup. Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat dalam kebingungan dan kegelapan. Ilmu memberikan arah, pemahaman, dan kebijaksanaan untuk menghadapi berbagai situasi.

Peringatan Akhir: Bahaya Buta Ilmu Sejati

Dialog diakhiri dengan pernyataan tegas Bima Sekti: “mula yen ana wong kang wuta sastra iku sejatine kainan.”

“Wuta sastra” di sini tidak hanya berarti buta huruf, tetapi buta terhadap ilmu sejati, buta terhadap nilai-nilai luhur, dan buta akan hakikat kehidupan. Seseorang yang “kainan” berarti berada dalam keadaan celaka, merana, atau terkutuk.

Ini karena tanpa pemahaman akan ilmu sejati, seseorang akan kehilangan arah, mudah terjerumus dalam kesalahan, dan tidak akan mencapai potensi terbaiknya sebagai manusia.

Anoman kembali menegaskan pemahamannya dengan singkat, “Iya.”

Secara keseluruhan, dialog antara Bima Sekti dan Anoman ini adalah sebuah pelajaran komprehensif tentang pentingnya ilmu pengetahuan (sastra) yang dilandasi oleh spiritualitas dan moralitas.

Ajaran ini mengajarkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan hidup, seseorang harus:

 Menguasai ilmu pengetahuan.

 Memurnikan diri dari sifat-sifat negatif.

 Senantiasa ingat akan kekuasaan Tuhan dan bertaqwa kepada-Nya.

 Menerapkan prinsip tata, titi, titis, tatas, dan tutug dalam setiap tindakan.

 Memanfaatkan ilmu untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi yang sempit.

Dialog ini adalah cerminan dari kebijaksanaan Jawa yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan kekuatan spiritual (Bersambung)

Oleh: Ki Pekathik