sastra  

Pelajaran Sastra Jendra Dari Adegan Harga Kailasa 3

Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa
Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa 1
Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa
Pelajaran Sastra Jendra Dari Adegan Harga Kailasa 3

Pelajaran Sastra Jendra dari Adegan Harga Kailasa 3 – Naskah diambil dari Aksiologi Serat Sastra Jendra  Karya: Sri Teddy Rusdy, 2024, hal 38-39.

Bima Sekti: “Lan aku perlu caos priksa, aku mulang karo murid-muridku

Dan aku perlu memberikan penjelasan, karena aku sedang mengajar para muridku.

sing dak wulangke ngelmu wigati kena kanggo paugeraning urip ana madyaning bebrayan

Yang aku ajarkan adalah ilmu penting yang bisa menjadi pedoman hidup di tengah masyarakat.

yaiku kang Ingagan Sastra Jendra Yu ningrat Pangruwating Diyu.”

Yaitu ajaran yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Anoman: “Lo lo lo kosik, kosik, yayi Werkudara mesthi durung kelingan ning mokal nek yayi ora priksa.

Wah wah wah, adikku Werkudara pasti belum ingat, tapi tidak mungkin kamu tidak tahu soal itu.

Duk semana wis tau ana sing medharke Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu, Resi Wisrawa,

Dahulu sudah pernah ada yang menyampaikan ajaran Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu, yaitu Resi Wisrawa,

wasana Resi Wisrawa kesiku marang bethara satengah nglairke buta-buta sing watake angkara ana Negara Ngalengkadireja, pun kakang ingkang nyirnakke iku.

Baca Juga:

Pelajaran Serat Sastra Jendra  Dari Adegan Harga Kailasa

Pelajaran Serat Sastra Jendra Dari Adegan Harga Kailasa 2 https://sabilulhuda.org/pelajaran-serat-sastra-jendra-dari-adegan-harga-kailasa-2/

Akhirnya Resi Wisrawa tergoda oleh para dewa dan melahirkan buta-buta (raksasa) yang bersifat angkara di negeri Ngalengkadireja. Dan aku sendiri yang dulu membinasakan mereka.

La nek saiki yayi kok medharke Sastra Jendra. La apa arep ana lelakon kaya Resi Wisrawa kaping pindha meneh?”

Nah sekarang kamu malah menyampaikan Sastra Jendra. Apa kamu ingin kejadian seperti Resi Wisrawa terulang lagi?

Bima Sekti: “Mengko dhisik, Resi Wisrawa kesiku marang bathara medharke Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu,

Tunggu dulu, Resi Wisrawa tergoda oleh dewa saat menyampaikan ajaran Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu,

merga Resi Wisrawa wus bisa nyegah dayane Luamah, Amarah, Mutmainah, Supiah, nanging ora bisa nyegah dayane Uluhimah.

Karena Resi Wisrawa sudah bisa mengendalikan nafsu Luamah (rakus), Amarah (marah), Mutmainah (tenang), Supiyah (lembut), tetapi belum bisa mengatasi nafsu Uluhimah (ambisi tinggi/dorongan luhur yang belum terkendali).

Katitik bakal mantune malah dirasuk dhewe, iya apa ora.”

Akibatnya, calon menantunya malah dirasukinya sendiri (tergoda). Bukankah begitu?

Anoman: “Hoh oh ..”

(Kaget, keheranan, atau tercenung dalam kesadaran akan kebenaran kata-kata itu.)

Bima Sekti: “Kok hoh oh … Mangka yen kang ana pertapan Kaelasa, iku ora ana wanodya siji, siji wae ora ana,

Kok cuma bilang hoh oh… Padahal di pertapaan Kaelasa itu tidak ada satu pun perempuan.

kabeh jejere priya, ingkang tak paringi piwulang Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu.”

Semua yang ada di sana laki-laki, dan merekalah yang aku beri ajaran Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu.

Anoman: “Yayi Werkudara.”

Adikku Werkudara…

Bima Sekti: “Hapa.”

Ada apa?

Anoman: “Yen mengkono yayi, wiwit jaman seprana tekan seprene, kuwi aku ya ming krungu sostra-sastra.

Kalau begitu, dari zaman dulu sampai sekarang aku hanya mendengar soal sastra-sastra.

Ning ora mangerti maknane satra ki apa jendra ki apa.

Tapi aku tidak tahu apa arti sastra itu, dan apa itu jendra.

Mbokya saiki yayi welasa karo pun kakang wedharna, rehne anak-anakmu murid kabeh wis mbok wejang,

Maukah adikku sekarang berwelas asih pada kakakmu ini dan menjelaskan, karena semua anak-anakmu sudah kau ajari,

pun kakang uga njaluk mbok paringi wejangan maknane Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu,

Kakakmu ini juga mohon diberi wejangan tentang makna Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu.

diarani kebo nusu gudel aku yaw is manut.”

Meski dibilang seperti kerbau menyusu kepada anaknya (yang muda mengajari yang tua), aku ikhlas dan menerima.

Bima Sekti:”Nek pancen kowe duwe karep, nanging kowe njaluk dak wejang ngaku dadi muridku ora tak tampa,

Kalau memang kamu ingin, tapi kalau kamu meminta aku mengajar dan menyatakan dirimu muridku, aku tidak akan menerima.

nek kowe ming takon lak wangsuli merga kowe sedulurku tuwa.”

Tapi kalau kamu hanya bertanya, maka akan aku jawab, karena kamu adalah kakakku.

Anoman: “Yo wis aku kandhanana ngono wae mbok wejang, kandhanana maknane Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu.”

Ya sudah, tolong katakan saja, berilah wejangan tentang makna Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu.

Diskusi antara Bima Sekti dan Anoman dalam cuplikan teks di atas menawarkan sebuah penggalian mendalam tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sebuah ajaran filosofis dalam tradisi Jawa yang kaya makna.

Untuk memahami relevansinya dengan pandangan sekuler materialisme, kita perlu terlebih dahulu mengurai makna filosofis ajaran ini, kemudian menghubungkannya dengan cara pandang materialisme.

Makna Filosofis Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah salah satu konsep spiritual dan etika tertinggi dalam kebudayaan Jawa, terutama dalam pewayangan. Mari kita bedah maknanya berdasarkan dialog Bima dan Anoman:

Sastra Jendra: Secara harfiah berarti “ilmu tertinggi” atau “pengetahuan utama”. Ini merujuk pada kebijaksanaan fundamental yang menjadi inti dari eksistensi. Ini bukan sekadar pengetahuan intelektual, melainkan pemahaman mendalam tentang hakikat diri dan alam semesta.

Hayuningrat: Berarti “keselamatan alam semesta” atau “kesejahteraan dunia”. Ini menunjukkan bahwa tujuan dari Sastra Jendra adalah untuk mencapai keharmonisan dan kesejahteraan.

Tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi seluruh makhluk dan alam semesta. Ini adalah etos kosmopolitan yang melampaui kepentingan pribadi.

Pangruwating Diyu: Bermakna “pembebas dari sifat-sifat raksasa (angkara murka)” atau “penghapus keburukan”. Diyu (raksasa) dalam konteks ini adalah metafora untuk sifat-sifat negatif dalam diri manusia.

Seperti keserakahan, kemarahan, keangkuhan, dan nafsu tak terkendali. Ajaran ini bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu sifat-sifat buruk tersebut.

Dalam dialog, Bima Sekti menjelaskan bahwa Resi Wisrawa gagal dalam menyampaikan ajaran ini karena dia tidak bisa mengendalikan nafsu “Uluhimah”, meskipun sudah mampu mengendalikan nafsu Luamah (rakus), Amarah (marah), Mutmainah (tenang), dan Supiyah (lembut).

Nafsu Luamah: Dorongan untuk makan, minum, dan kepuasan fisik lainnya.

Nafsu Amarah: Dorongan untuk melampiaskan emosi negatif seperti marah, dendam, dan kebencian.

Nafsu Mutmainah: Dorongan untuk mencapai ketenangan, kedamaian, dan kebaikan.

Nafsu Supiyah: Dorongan untuk keindahan, kenyamanan, dan hal-hal yang menyenangkan.

Nafsu Uluhimah: Ini adalah titik krusial dalam penjelasan Bima. Uluhimah dapat diinterpretasikan sebagai ambisi tinggi, dorongan luhur yang belum terkendali. Atau bahkan nafsu spiritual yang melampaui batas kewajaran.

Dalam konteks Resi Wisrawa, Uluhimah inilah yang membuatnya tergoda untuk “merasuk” calon menantunya (Dewi Sukesi), meskipun secara fisik tidak ada wanita di pertapaannya.

Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam upaya mencapai spiritualitas tertinggi, masih ada potensi untuk terjebak dalam godaan ego atau ambisi yang salah arah. Kunci keberhasilan Sastra Jendra terletak pada pengendalian Uluhimah ini.

Dengan demikian, makna filosofis Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah pengetahuan paripurna. Ia membimbing manusia untuk mencapai keseimbangan, harmoni, dan pembebasan dari segala bentuk kemurkaan atau sifat-sifat kebinatangan (diyu) dalam diri, demi mencapai kesejahteraan universal.

Inti dari ajaran ini adalah penguasaan diri yang sempurna, termasuk mengendalikan nafsu-nafsu luhur sekalipun agar tidak terjebak dalam kesombongan atau penyalahgunaan kekuatan spiritual.

Relevansi dengan Pandangan Sekuler Materialisme

Pandangan sekuler materialisme pada dasarnya berpusat pada keyakinan bahwa realitas fundamental adalah materi dan energi. Bahwa semua fenomena, termasuk kesadaran dan pikiran, dapat dijelaskan melalui interaksi fisik.

Ini berarti menolak keberadaan entitas supernatural atau spiritual yang tidak dapat diukur atau diamati secara empiris.

Bagaimana Sastra Jendra dapat relevan dengan pandangan ini? Meskipun Sastra Jendra berakar pada kerangka spiritual dan mistis, esensinya dapat diterjemahkan ke dalam terminologi materialisme sekuler melalui beberapa cara:

1. Pengendalian Diri sebagai Mekanisme Adaptif

Dari perspektif materialisme, “nafsu” dapat dipahami sebagai dorongan biologis atau psikologis yang muncul dari struktur otak dan sistem saraf. Luamah, Amarah, Mutmainah, dan Supiyah bisa diinterpretasikan sebagai ekspresi dari kebutuhan dasar dan reaksi emosional yang telah berevolusi untuk kelangsungan hidup.

Pangruwating Diyu (pembebasan dari sifat raksasa) dapat diartikan sebagai pengembangan kapasitas kognitif dan emosional manusia untuk meregulasi dorongan-dorongan primitif tersebut.

Ini bukan tentang menekan total, melainkan mengarahkan dan mengelola mereka secara konstruktif. Dalam konteks modern, ini relevan dengan konsep kecerdasan emosional (EQ) dan self-regulation.

Kemampuan mengendalikan impuls, menunda gratifikasi, dan mengelola emosi negatif adalah kunci kesuksesan individu dan kolektif, bahkan dari sudut pandang evolusi.

2. Harmoni Sosial dan Kesejahteraan Bersama sebagai Tujuan Pragmatis

Hayuningrat (kesejahteraan alam semesta) dapat dilihat sebagai tujuan pragmatis untuk menciptakan masyarakat yang stabil dan berkelanjutan. Materialisme sekuler tidak menafikan pentingnya etika dan moralitas.

Sebaliknya, banyak filosofi sekuler (seperti utilitarianisme atau etika berbasis hak asasi manusia) berargumen. Bahwa moralitas muncul sebagai sarana untuk memaksimalkan kebahagiaan dan meminimalkan penderitaan dalam masyarakat.

Ajaran Sastra Jendra mendorong perilaku yang berkontribusi pada kebaikan bersama, mengurangi konflik, dan mempromosikan perdamaian.

Ini sangat selaras dengan prinsip-prinsip sosiologi dan psikologi modern yang menekankan bahwa kolaborasi dan empati adalah fondasi masyarakat yang berfungsi dengan baik.

3. Pengetahuan sebagai Kekuatan Adaptif

Sastra Jendra (pengetahuan utama) dapat diinterpretasikan sebagai pemahaman mendalam tentang cara kerja dunia dan diri sendiri yang diperoleh melalui observasi, pengalaman, dan refleksi kritis. Bagi materialisme, pengetahuan adalah kunci kemajuan ilmiah dan teknologi.

Dalam konteks ini, “pengetahuan” bukan lagi tentang wahyu ilahi, melainkan tentang pemahaman tentang psikologi manusia, dinamika sosial, dan prinsip-prinsip yang mengatur alam semesta.

Kemampuan untuk memahami dan memprediksi perilaku manusia serta konsekuensi tindakan adalah bentuk “ilmu penting yang bisa menjadi pedoman hidup di tengah masyarakat.”

4. Tantangan “Uluhimah” dalam Konteks Sekuler

Kasus Resi Wisrawa dan Uluhimah adalah bagian yang paling menarik untuk dibahas dalam konteks materialisme. Jika Uluhimah adalah ambisi tinggi atau dorongan luhur yang tidak terkendali, maka dalam masyarakat sekuler, ini bisa bermanifestasi sebagai:

Ambisi kekuasaan yang tak terbatas: Dalam politik atau bisnis, dorongan untuk mendominasi tanpa mempertimbangkan etika atau kesejahteraan orang lain.

Kesombongan intelektual: Keyakinan bahwa pengetahuan superior memberi hak untuk meremehkan atau mengeksploitasi orang lain.

Fanatisme ideologis: Ketaatan membabi buta pada suatu ideologi (ilmiah, politik, atau lainnya) yang menghalalkan segala cara.

Baca Juga: Nilai-nilai Kementerian Keuangan dalam Filosofi Pewayangan

Narsisme: Fokus yang berlebihan pada diri sendiri dan kebutuhan untuk validasi.

Meskipun materialisme mungkin tidak membahas “nafsu” dengan terminologi spiritual, ia mengakui adanya mekanisme psikologis yang mendorong manusia untuk mencari dominasi, pengakuan, atau pemenuhan diri yang berlebihan.

Kegagalan mengendalikan Uluhimah, bahkan jika di tafsirkan sebagai kegagalan dalam regulasi ego atau ambisi, dapat menyebabkan kerusakan pribadi dan sosial yang parah, seperti yang terjadi pada Resi Wisrawa.

Dalam pandangan sekuler, ini adalah pelajaran tentang pentingnya introspeksi, kerendahan hati, dan pengakuan akan keterbatasan diri, bahkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan atau kekuatan besar.

Kesimpulan

Meskipun Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu berasal dari kerangka spiritual, makna filosofisnya tentang penguasaan diri, pencarian pengetahuan sejati, dan dedikasi terhadap kesejahteraan universal memiliki resonansi yang kuat dengan pandangan sekuler materialisme.

Dari perspektif materialisme, ajaran ini dapat diinterpretasikan sebagai panduan praktis untuk mencapai kehidupan yang bermakna. Dan masyarakat yang berfungsi secara optimal melalui pemahaman mendalam tentang psikologi manusia dan dinamika sosial.

Ini adalah seruan untuk memanfaatkan akal budi dan kapasitas adaptif manusia untuk mengelola dorongan-dorongan internal (termasuk ambisi) dan menciptakan lingkungan yang harmonis dan berkelanjutan bagi semua.

Pada akhirnya, baik dalam kerangka spiritual maupun sekuler, inti dari ajaran ini tetap relevan: bahwa kemajuan sejati tidak hanya terletak pada akumulasi pengetahuan atau kekuatan eksternal.

Tetapi pada kemampuan individu untuk menaklukkan “raksasa” dalam dirinya sendiri demi kebaikan yang lebih besar. Ini adalah pelajaran abadi tentang pentingnya etika dan kebijaksanaan dalam setiap upaya manusia.

Oleh: Ki Pekathik