sastra  

Pelajaran Dari Peradaban Jawa “SASTRA JENDRA” episode 6

Pelajaran Dari Peradaban Jawa “SASTRA JENDRA” episode 4
Hikmah Ajaraan Jawa “SASTRA JENDRA” episode 4

Sastra Jendra dalam Wayang:

Pelajaran Dari Peradaban Jawa “SASTRA JENDRA” – Di balik gemuruh gamelan dan bayangan kulit di kelir, tersembunyi ajaran nilailuhur yang halus yang tak kasat mata:

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Ia bukan sekadar tembang dan kata-kata petuah semata,

tetapi rahasia-rahasia agung tentang asal dan tujuan manusia,

yang di selipkan dalam lakon dan gerak,

di titipkan dalam bisikan tokoh-tokoh wayang yang sejatinya adalah cermin jiwa.

Wayang kulit sebagai pementasan bayangan,

membeberkan  kisah-kisah dari Ramayana dan Mahabharata,

namun di dalamnya mengalir semangat  budaya Jawa yang halus dan dalam.

Sebagaimana di kemukakan oleh Ganesan (1981:81),

kisah Batara Guru dan Batara Kamajaya,

dua tokoh sakral dari langit dan api,

di ilhami oleh epos India, namun tumbuh dalam khasanah kejawen.

Mereka membawa jejak ajaran yang tidak tertulis,

namun mengakar dalam lakon: Sastra Jendra.

Ia tampil berbeda dalam setiap pedalangan,

karena yang membawa bukan teks, melainkan rasa.

Setiap dalang adalah pengarah lakon,

yang menaburkan kearifan itu dengan bahasa yang penuh makna dan rasa,

lewat tokoh Semar, Batara Guru, Durna, bahkan Arjuna dalam tirakatnya.

Baca Juga:

Hikmah Ajaraan Jawa “SASTRA JENDRA” episode 4

Pelajaran dari peradaban Jawa “Sastra Jendra” (episode 5) https://sabilulhuda.org/pelajaran-dari-peradaban-jawa-sastra-jendra-episode-5/

Tergantung laku dalang, ajaran itu bisa muncul sebagai pesan lembut,

atau justru terselip dalam adegan lucu, dalam punakawan yang tampak jenaka tapi bijak.

Sastra Jendra bukan kitab yang di baca dengan mata,

melainkan rahasia yang di selami dengan jiwa.

Ia mengajarkan manusia mengenali asal-usulnya,

menyucikan rasa, menaklukkan hawa nafsu,

dan meniti jalan kembali menuju Hyang Widi Sangkan Paraning Dumadi.

Dalam lakon seperti “Sastra Jendra Hayuningrat”,

atau dalam adegan tapa Arjuna di Gunung Indrakila,

ajaran ini tampil sebagai api sunyi yang menyala di balik perang dan cinta.

Wayang bukan hanya tontonan,

ia adalah tuntunan batin.

Ketika Pandawa dan Korawa berseteru,

bukan semata karena perebutan takhta,

tetapi pertarungan antara aku yang luhur dan aku yang rendah dalam diri manusia.

Dan di sanalah Sastra Jendra hadir:

sebagai kompas untuk menuntun jiwa dalam kabut dunia.

Suara dari Balik Kelir

Dalam kelir wayang, di sela kisah dan dialogserta suluk sang dalang,

Sastra Jendra dengan perlahan mulai menyelaraskan harmoni antara pendengaran dan penglihatan dengan suasana batin mengalir secara alamiah dengan sendirinya.

Ia tak memaksa untuk dipahami,

namun menunggu untuk direnungkan.

Sebagaimana bayang yang bergerak di layar,

hidup manusia adalah wayang yang di gerakkan oleh takdir ilahi.

Ajaran Sastra Jendra  di samakan melalui simbl-simbol merasuk di iringi alunan gamelan tembang suluk dan lakon yang terbeber di balik kelir,

menyentuh kita dengan pertanyaan sunyi:

“Sudahkah engkau mengenali dirimu?”

Ramayana: Epos Cinta, Dharma, dan Pengabdian

Ramayana adalah untaian kisah suci yang mengalir dari zaman purba, bagaikan mata air kejernihan di antara bebatuan zaman. Ia bukan sekadar cerita, melainkan nyanyian kehidupan, di abadikan dalam bait-bait kakawin oleh sang resi agung, Walmiki, pada awal tarikh Masehi.

Karya ini terdiri atas tujuh kanda — tujuh gerbang perjalanan batin manusia menuju cahaya dharma. Dalam bentuk syair yang halus, Ramayana teranyam dalam 24.000 sloka berbahasa Sanskerta, menjadikannya salah satu mahakarya spiritual terbesar yang pernah lahir dari bumi India.

1. Bala Kanda – Awal Kehidupan dan Titisan Cahaya

Di tanah Kosala, berdirilah kerajaan Ayodya yang makmur di bawah naungan Raja Dasarata, seorang penguasa bijaksana namun di liputi kegundahan karena belum di karuniai keturunan. Dalam harap dan doa, ia mengadakan upacara agung memohon restu para dewa.

Doanya di jawab langit dan dari nyala api suci lahirlah empat pangeran: Rama, Bharata, Laksmana, dan Satrugna. Mereka bukan sekadar anak raja, melainkan titisan cahaya ilahiah yang di takdirkan menjaga tatanan dunia.

Rama, sang sulung, adalah penjelmaan Dewa Wisnu. Kecemerlangan akhlaknya dan keteguhan hatinya menuntunnya ke sayembara agung di negeri Widehareja. Di sana, ia mematahkan busur sakti milik Dewa Siwa, menandai awal takdirnya sebagai pelindung dharma.

Kemenangan itu menghadiahkannya Dewi Sita, putri Raja Janaka, yang cantik rupawan, menjadi pendamping setia dalam laku panjang menegakkan kebenaran.

Bala Kanda adalah awal dari kisah agung Ramayana, di mana cahaya turun ke dunia demi menuntun manusia menuju kebajikan.

2. Ayodya Kanda – Pengorbanan dan Keagungan Jiwa

Tatkala takhta kerajaan Ayodya hampir di serahkan kepada Rama, roda takdir berputar akibat intrik ibu tiri dan janji lama yang mengikat. Dengan jiwa besar, Rama menerima pengasingan selama empat belas tahun di hutan Dandaka, di temani Sita dan Laksmana, tanpa amarah dan tanpa dendam sebuah laku dharma yang mencerminkan keagungan jiwa sejati.

Dalam perpisahan yang menggetarkan kalbu, Rama memberikan wejangan kepada adiknya, Bharata, tentang makna kepemimpinan. Wejangan itu di kenal sebagai Astabrata delapan ajaran luhur tentang kepemimpinan dalam Ayodya Kanda (kisah Ramayana).

Ajaran ini menggambarkan bahwa seorang raja atau pemimpin sejati harus meneladani delapan sifat semesta yang berasal dari delapan dewa alam. Masing-masing sifat mengandung makna filosofis dan etika pemerintahan. Berikut isi singkat dari Astabrata:

A. Surya Brata (Sifat Matahari)

Pemimpin harus seperti matahari:

•  Memberi terang dan kehidupan kepada semua

• Menyinari tanpa membeda-bedakan

•Tangguh, disiplin, dan hadir sebagai sumber semangat rakyat

B. Candra Brata (Sifat Bulan)

Pemimpin harus seperti bulan:

Memberi kesejukan dan keteduhan

Lemah lembut, penuh kasih, dan menenteramkan jiwa rakyat

Tidak menyilaukan, tetapi tetap membimbing

C. Bayu Brata (Sifat Angin)

Pemimpin harus seperti angin:

Hadir di mana-mana tanpa pamrih

Meresapi kebutuhan rakyat secara halus dan tak terlihat

Simbol dari gerak, semangat, dan ketekunan

D. Udaka Brata (Sifat Air)

Pemimpin harus seperti air:

Merendah, mengalir menyesuaikan keadaan, namun menghidupi

Mampu menampung, menenangkan, dan menumbuhkan

Tegas bila di bendung, tapi lembut dalam arus

E. Agni Brata (Sifat Api)

Pemimpin harus seperti api:

•             Menyala untuk menerangi dan menghangatkan

•             Tegas dalam menindak kejahatan

•             Menjadi semangat yang membakar kebodohan dan kemalasan

F. Indra Brata (Sifat Dewa Hujan / Petir)

Pemimpin harus seperti Indra:

•             Melindungi rakyat dari kekeringan dan bencana

•             Siap bertindak cepat dan kuat di saat krisis

•             Mampu memberi hujan kebijakan yang menyuburkan kehidupan

G. Yama Brata (Sifat Dewa Kematian dan Keadilan)

Pemimpin harus seperti Yama:

•             Adil, tegas, dan tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum

•             Tak gentar menghukum yang bersalah demi kebenaran

•             Menjadi simbol keadilan yang menenteramkan

H. Kuwera Brata (Sifat Dewa Kekayaan)

Pemimpin harus seperti Kuwera:

•             Bijak dalam mengelola kekayaan negara

•             Dermawan namun tidak boros

•             Menjaga kesejahteraan rakyat tanpa keserakahan

Astabrata bukan hanya ajaran untuk raja zaman dulu, tetapi prinsip kepemimpinan universal yang tetap relevan hingga kini. Seorang pemimpin sejati bukan hanya memegang kekuasaan, tapi juga mampu mencerminkan harmoni alam dalam laku hidupnya: bijaksana, adil, berwelas asih, dan melayani dengan hati

Baca Juga: Wayang ‘Lalu Nasip’ dalam Bingkai Moderasi Beragama

Inilah tuntunan bagi seorang raja, agar memerintah bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan welas asih dan keteladanan.

Ayodya Kanda menjadi babak pengorbanan dan kebijaksanaan, ketika kebenaran di uji bukan di medan perang, melainkan di dalam batin yang hening dan penuh cinta.

(Bersambung).

Oleh: Ki Pekathik