By Bambang Oeban
PEDAGANG RONGSOK REPUBLIK INDONESIA – Aku menulis rangkaian syair khusus untuk dibacakan oleh sahabat baikku: CHAMDY POLOS.
…
Aku berdiri di jalan berdebu, menyusun botol plastik bekas, kaleng penyok, besi tua, mencium bau karat bercampur keringat, menyaksikan senja memerah di atas atap seng berkarat. Aku tersenyum getir, karena aku tahu, lebih mulia aku yang kotor tangannya, daripada mereka yang berjas wangi, tapi hatinya busuk oleh rayuan kuasa.
Aku lebih baik menjadi pedagang rongsokan di kaki lima, menjajakan sisa-sisa peradaban, daripada menjadi budak kursi empuk yang menjilat sepatu penguasa zalim.
Di bawah terik matahari aku belajar arti hidup, bahwa perut lapar bisa ditunda, asal hati nurani jangan sampai ikut digadaikan. Bahwa kemiskinan bisa ditanggung, asal martabat jangan sampai dijual murah di meja rapat yang penuh dusta.

Lihatlah!
Mereka yang menamakan dirinya “wakil rakyat” tapi lebih mirip “wakil cukong”, duduk di kursi berlapis beludru, makan gaji dari keringat petani, buruh, nelayan, tapi lupa pada wajah-wajah yang kuyup oleh hujan dan kulit yang terbakar oleh matahari.
Mereka berpidato dengan suara serak-serak basah, menyebut kata “demokrasi” sambil menekan remote televisi, memainkan narasi seolah pahlawan, padahal di belakang meja mereka sedang menandatangani kontrak busuk, menjual hutan, merampas tanah, menggadaikan laut, menyandera udara.
Oh, betapa menjijikkan suara mereka, yang selalu mengaku pro rakyat, tapi mobil mewah mereka melindas kaki tukang becak, sementara anak anak jalanan menatap kaca jendela dengan mata lapar yang tak pernah mereka jawab.
Aku memilih jalan sederhana: mengumpulkan kardus, botol, besi tua, menjualnya pada pengepul. Nilainya tak seberapa, tapi aku tidur dengan kepala tenang, karena aku tak pernah menindas siapapun, tak pernah memeras air mata orang miskin.
Aku lebih suka bau busuk sampah, daripada bau busuk korupsi. Aku lebih bangga dengan baju kumal penuh noda, daripada jas resmi yang dipakai untuk mencuri hak orang banyak.
Apalah artinya dipanggil “Yang Terhormat” jika cara hidupmu lebih rendah dari sampah yang ku pungut di jalanan? Apalah artinya duduk di ruang ber-AC, jika hatimu beku, membiarkan bayi mati di gubuk reyot, sementara kau tersenyum di depan kamera?
Aku melihat negeri ini ibarat kapal megah yang bocor, dijalankan oleh nakhoda tuli dan awak kapal yang hanya sibuk menjarah logistik. Rakyat hanyalah penumpang kelas kambing, yang disuruh diam ketika kapal miring, sementara kursi penyelamat sudah ditandai untuk keluarga para pejabat.
Dan ketika ombak gelombang krisis datang, yang pertama kali diselamatkan adalah bank, bukan petani yang gagal panen, bukan nelayan yang kehilangan perahu, bukan buruh yang di-PHK. Negeri ini lebih cinta pada kertas kertas saham, daripada darah dan keringat manusia.
Apakah aku harus ikut bersorak menyebut mereka pahlawan pembangunan, sementara yang dibangun hanyalah menara beton di atas kuburan rakyat miskin?
Tidak! Lebih baik aku berteriak di jalan, memanggul karung rongsokan, daripada bertepuk tangan di ruang rapat sambil menunggu remah-remah sogokan.
Wahai penguasa zalim, dengar teriakanku! Aku tak punya partai, tak punya media, tak punya pasukan buzzer untuk membungkam suara lawan. Tapi aku punya satu senjata: kata-kata yang tak bisa kau beli.
Aku tak akan tunduk pada janji-janji palsu, tak akan ikut mencium tanganmu yang berlumur darah rakyat kecil. Aku memilih hidup miskin dengan kehormatan,
Baca Juga:

FILM GETIR IRENG TERBIT PASKA NEGERI TERSULUT RUSUH MEMBARA https://sabilulhuda.org/film-getir-ireng-terbit-paska-negeri-tersulut-rusuh-membara/
daripada kaya dengan menukar jiwa.
Aku lebih baik menjadi pedagang rongsokan, yang menawar kardus di pinggir jalan, daripada menjadi politisi rendahan yang menawar masa depan bangsa dengan kursi dan amplop murahan.
Lihatlah bagaimana negeri ini dikelola: jalan raya penuh lubang, sementara jalan menuju kasino politik dibangun mulus tanpa hambatan. Rumah sakit penuh antrean orang miskin, sementara rumah pejabat penuh kemewahan, dengan dokter pribadi, bahkan penyakitnya pun bisa disembunyikan agar tak jatuh pamor.
Sekolah negeri makin reyot, guru-guru berjuang dengan gaji seadanya, sementara anak pejabat berfoto di kampus luar negeri, dengan senyum lebar, mengacungkan jari telunjuk, seolah berkata: “lihatlah, beginilah kami menguras pajak kalian!”
Aku muak!
Aku ingin memuntahkan semua amarah ini di atas kertas, menjadi pamflet, menjadi spanduk, menjadi grafiti di dinding kota, agar siapa pun yang lewat tahu: bahwa bangsa ini sedang digadaikan oleh generasi penjilat.
Siapa penjilat itu? Mereka adalah orang-orang pintar yang lupa jalan pulang, yang merangkak masuk ke ruang kuasa, menawarkan lidahnya sebagai sapu, menawarkan jiwanya sebagai stempel, menjual gelarnya demi sepiring proyek.
Siapa penjilat itu?
Mereka adalah pengacara yang membela kezaliman, mereka adalah wartawan yang menulis kebohongan, mereka adalah akademisi yang menutup buku, demi jabatan rektor, demi kursi komisaris.
Siapa penjilat itu?
Mereka adalah manusia tanpa tulang punggung, yang bangga menyebut dirinya “dekat dengan kekuasaan”, padahal hakikatnya hanyalah pelayan meja makan, yang rela menelan sisa-sisa hidangan tuannya dengan senyum bangga.
Oh, betapa rendahnya derajat manusia jika martabatnya ditukar dengan sepiring nasi basi!
Aku ingin bertanya: apa arti sebuah negara jika rakyatnya hanya jadi angka statistik? Apa arti sebuah bangsa jika keadilan hanya mainan di bibir hakim? Apa arti pembangunan jika hutan habis, laut kering, sungai hitam, dan langit penuh asap?
Apakah kita akan terus membiarkan? Apakah kita akan terus diam? Atau kita harus menyalakan api, menulis kata-kata perlawanan di tembok, menyuarakan pamflet pamflet kebenaran, hingga dinding istana pun retak oleh gema jeritan rakyat?
Aku tak peduli jika mereka menertawakanku, menyebutku gila, menyebutku hanya pemungut sampah, tak pantas bicara tentang bangsa.
Biarlah. Sebab sejarah selalu ditulis bukan oleh mereka yang duduk manis, tetapi oleh mereka yang berani berdiri di tengah badai. Lebih baik aku berteriak di jalan, membawa poster dari kardus bekas, daripada duduk sopan di meja jamuan, sambil mengangguk pada pidato kosong.
Lebih baik aku menggenggam karung lusuh, daripada menggenggam tangan penguasa yang penuh noda darah.
Aku tahu, suaraku kecil, kadang tenggelam oleh musik dangdut kampanye, kadang kalah oleh gempita konser politik. Tapi aku percaya, setiap kata adalah api, dan api kecil bisa membakar hutan kebohongan.
Maka aku menulis pamflet ini dengan darah dan peluh, dengan hati yang berdenyut, dengan amarah yang jujur. Aku ingin semua orang membaca, dari pasar ke pasar, dari kampus ke kampung, bahwa masih ada yang menolak tunduk, masih ada yang memilih jalan hina di mata kuasa, tapi mulia di mata nurani.
Wahai kawan, jika suatu hari kau melihatku duduk di kursi kekuasaan, dan lidahku mulai basah oleh jilatan, ingatkan aku dengan keras, lempari aku dengan batu, seret aku kembali ke jalan, karena aku pernah berjanji:
Aku lebih baik menjadi pedagang rongsokan di kaki lima, daripada menggadaikan hati nurani sebagai penjilat pada penguasa zalim.
Dari Timur Bekasi
Jumat, 18 Sept 2025
09.09













