Pasrah

Di sebuah pesantren, yaitu di salah satu rumah kyai pesantren tersebut, terlihat seorang anak laki-laki duduk santai sambil berbincang dengan pria paruh baya yang tak lain adalah kyainya. Namun anak laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan pakdhe, ya dia adalah keponakan dari kyai tersebut. Namanya Haikal. Ia biasa membantu kegiatan belajar mengajar di pondok pakdhenya itu.

Ditengah perbincangan mereka, terlihat dari luar jendela kaca seorang anak perempuan berhijab cokelat dengan gamis warna senada, berlari menuju rumah pakdhenya.. Sepertinya, ia hendak menyampaikan suatu hal pada mereka. Nama anak perempuan itu Nina, usianya masih 9 tahun. Yang tak lain adalah sepupu dan putri dari pakdhenya.

 Pondok masih sepi, kegiatan belajar mengajar pun belum dimulai, sebab para santri masih liburan di kampung halaman mereka. Hanya beberapa orang saja yang masih tetap di pondok bergiliran menjaga jika sewaktu-waktu tamu datang, ada santri yang siap membantu menyiapkan hidangan. Hari itu, Haikal berkunjung langsung ke rumah pakdhenya karena ada suatu hal yang ingin pakdhenya sampaikan

Nina : “Abi….. Hah…hah….huhhhhh…. Hmmmhhhh”  (panggil Nina dengan nafas yang memburu menghampiri mereka tanpa salam, masuk ke ruang tamu).  “Haduhhh….abi, besok kan……” (Ucapannya terhenti, pandangan matanya beralih melihat seseorang yang datang).

Yaitu ibundanya yang keluar dari dapur membawa nampan berisi minum dan snack. Tanpa pikir panjang, Nina pun langsung menghampiri uminya mengambil salah satu gelas berisi minuman dan meneguk isi gelas tersebut.

Pakdhe : “Eh, Nina!!! Kalau datang itu salam dulu dong. Nggak sopan itu Nin, mana langsung ambil suguhan orang lagi.” (Tegur pakdhenya, dengan tatapan tajam tak suka pada kelakuan Nina)

Nina :”Haishh panasnya, pahit lagi. Iiihh umi, ini minuman apa sih? (meringis merasakan panas dan pahit pada minuman yang dibawa uminya)¬† eh iya… maaf abi, assalamualaikum. Habis capek bi lari-lari dari kamar santri putri ke rumah. Ehh lihat umi bawa minum, kirain siapin buat aku Bi… Jadi asal ambil deh. Hehehe…l” (mengalihkan pandangan ke abinya yang menatap tajam padanya dan ia pun menjelaskan sambil berusaha menampilkan senyuman termanisnya).

Budhe :” Sudahlah bi, ndak papa tak bikinin lagi, oh iya tadi kamu tanya ini minuman apa kan? (Mengangkat gelas satunya yang masih penuh) Nah ini itu kopi nak, buat Om Haikal itu lho… katanya kangen kopi bikinan umi” (terang budhe, sembari memberikan segelas kopi hitam itu pada Haikal).

Haikal  :”Hehe iya budhe, makasih banyak budhe” (menundukkan badan sebagai tanda menghormat, ketika budhenya itu memberikan segelas kopi padanya)

Nina. :”Wah ada Om Haikal toh, tumben main kesini?” (Tanya Nina sambil mengambil snack yang ada di piring)

Haikal :”Iya Nin, lagi pengen ngobrol sama pakdhe nih!” (Jawab Haikal dengan senyuman)

Pakdhe :”Astaghfirullahh Nin, dah lah sana kamu bantuin umi di dapur dulu. Kalau lapar dan haus tuh ambilnya di belakang jangan yang buat tamu kamu ambil” (mengibaskan tangan meminta Nina untuk segera pergi membantu uminya)

Nina :”Iya abi, lagian sama Om sendiri kok kayak tamu tak dikenal”(ngedumel pelan sambil melangkahkan kakinya menuju dapur)

Pakdhe : (geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya). “Haikal, kamu dah lihat sendirikan anak pakdhe itu, maaf ya kurang sopan perilakunya” (menatap Haikal dengan rasa menyesal)

Haikal :”Ndak kok pakdhe maklum masih kecil, masih butuh bimbingan orang tua. Ooh iya tadi pakdhe mau bilang apa ya?” (Mengingatkan pertanyaan pakdhenya tadi yang terjeda karena kehadiran Nina)

Pakdhe :”Wah iya, untung kamu ingetin. Jadi, besok saya sama istri mau pergi ke Semarang selama dua hari. Bolehkan, titip Nina? Maunya sih diajak sekalian tapi takutnya malah ngribetin. Kalau kamu keberatan dan lagi ada banyak kerjaan jangan dipaksakan ya, takutnya malah ngganggu. Tau sendiri kan, gimana tingkah Nina?” (Menanyakan dengan raut wajah penuh harap, juga takut)

Haikal :”Iya pakdhe, nggak apa-apa kok. lagian kan ini masih liburan jadi bisa jagain Nina, nggak banyak kerjaan juga pakdhe.” (Menjawab dengan senang hati)

Pakdhe :”Alhamdulillah, bener nih? Kalau begitu sekalian sekarang aja ya persiapannya?”

Haikal :”Iya pakdhe silahkan disiapkan sekalian nanti bisa saya bawa pulang”

Pakdhe :”yaudah kamu tunggu bentar yaaa” (beranjak bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar putrinya)

Lima menit kemudian. Pakdhenya itu keluar dari kamar membawa koper dan ransel kecil.

Haikal :”Eh… Banyak ya pakdhe?”(menggaruk rambutnya, bingung)

Pakdhe :”Nah kan mumpung kamu bersedia menjaga Nina jadinya seminggu deh!” (Memberikan koper dan ransel pada Haikal)

Haikal :”Lah kok bisa? Kalau boleh tau ada acara apa ya pakdhe sama budhe ke Semarang” (bertanya pada pakdhenya karena merasa keberatan jika harus seminggu)

Pakdhe :”Ada urusan pondok yang harus diselesaikan Kal, nggak tau juga seminggu bisa kurang bisa lebih. Tadi saya bilang dua hari tuh biar kamu mau” (menepuk bahu Hailkal ponakannya, dan memberinya cengiran yang menampakkan sederetan gigi putihnya)

Haikal :”Oalah iya pakdhe ndak papa kok” (berusaha tersenyum walau sebenarnya berat hati menerima)

Tak lama kemudian Nina dan uminya datang membawa makanan dan menatanya di atas meja makan.

Nina :”Lah kok koper sama ransel Nina ada di sini Bi, emangnya Nina salah apa kok abi tega mau mengusir anak sendiri?”(bertanya dengan raut wajah sedih)

Abi :”wah, kamu lupa ya nak? Besok abi sama umi mau ke Semarang jadi kamu dititipin ke rumahnya Om Haikal dulu gak papa ya?”(mengelus puncak kepala Nina yang berbalut hijab)

Nina :”Ooo iya Bi, jadi inget deh.. tadi Nina kan pulang mau bilang ke abi. kalau Defi sama Rina belum ada yang mau njagain. Orangtua mereka kan juga mau pergi ke Semarang? Gimana kalau sekalian aja bareng aku dititipin ke rumahnya Om Haikal?”( Teringat apa yang mau dia sampaikan ketika pulang berlarian ke rumah tadi, pada abinya. Kemudian Nina memohon pada abinya agar Haikal mau menyetujui untuk menjaganya bersama Defi dan Rina yang akan ditinggal ke Semarang karena mereka juga anak kyai di pondok tersebut)

Pakdhe :”Waduh.. gimana nih Kal? Nggak papa kan? Hehehe….. hitung-hitung sekalian latihan ngurus anak ya? Biar nggak kaget, kalau besok-besok kamu dah nikah, terus punya anak kembar tiga jadi kebal deh ngurusnya…. Ya Kal ya?”(berharap Haikal setuju dengan memberinya dukungan dan senyuman tulus menggoda)

Haikal :”Eeee iya deh pakdhe. Saya manut aja”(dengan mimik wajah pasrah menerima setengah-setengah)

Nina :”Halah santai Om kita nggak bakalan nakal kok”(mengerling jail pada Haikal)

Haikal  :(Dalam batin) ‘Yahhh kuharap, aku bisa melakukannya. Tapi, mengapa harus tiga anak sekaligus? Salahku juga masih melajang, padahal jika dilihat aku ini sudah cukup mapan baik usia ataupun biaya. Bahkan rumah pun sudah ada. Namun apa daya jika jodoh belum ada yang srek dihati?:Yahh harapannya sih setelah aku berhasil mengurus tiga keponakanku itu, maka aku pun juga bisa berhasil menetapkan pilihanku. Biar bisa ngurus anak sendirilahh yaaaa…… Hmmm jadi ga sabar pengen punya anak nihhh eh nikah dulu lah yaaa…’ (kecamuk batin Haikal membuatnya tak sadar pakdhe, budhe dan Nina yang sedari tadi menawarinya makan. Hingga tepukan halus budhe mendarat di pundaknya, seketika membuatnya kembali ke alam sadarnya)

Budhe :”Ayo Kal, dimakan keburu dingin sayurnya”(menepuk halus pundak Haikal)

Haikal :”Ehh iya budhe”.***

( Isnawati )