Parenting 1: Empati Sejak Dini! Kisah Seorang Ibu Dan Anaknya

Parenting 1: Empati Sejak Dini! Kisah Seorang Ibu Dan Anaknya
Parenting 1: Empati Sejak Dini! Kisah Seorang Ibu Dan Anaknya
Parenting 1: Empati Sejak Dini! Kisah Seorang Ibu Dan Anaknya
Parenting 1: Empati Sejak Dini! Kisah Seorang Ibu Dan Anaknya

Parenting 1: Empati Sejak Dini! Kisah Seorang Ibu dan Anaknya – Di suatu pagi yang tenang di Yogyakarta, seorang ibu bernama Lestari memandangi anaknya, Arga, yang sibuk menyusun mainan kayu di ruang tamu.

Bocah lima tahun itu begitu tenggelam dalam dunianya sendiri, belum memahami sepenuhnya bahwa hidup tidak hanya tentang dirinya. Lestari, seorang pendidik yang berhenti bekerja demi mendampingi masa tumbuh kembang anaknya, menyimpan satu harapan besar:

ia ingin Arga tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tapi juga empatik.

Lestari percaya bahwa empati bukan sekadar merasa iba, melainkan kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Baginya, anak yang berempati akan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai perbedaan, peduli pada sesama, dan mampu menjalin hubungan yang sehat.

Hari itu, kesempatan emas datang saat Arga berebut mainan dengan sepupunya, Raka. Raka menangis karena mainannya direbut, dan Arga terlihat tak peduli. Alih-alih memarahi, Lestari duduk di samping Arga dan berkata lembut, “Lihat wajah Raka, sayang.

Kira-kira apa yang dia rasakan?” Arga menoleh dan mulai diam. Untuk pertama kalinya, Lestari melihat keterkejutan di mata kecil itu. Momen sederhana yang menjadi benih empati.

Baca Juga:

Kalau Ibu Rumah Tangga Digaji, Gajinya Bisa Tembus 191 Juta!

Kalau Ibu Rumah Tangga Digaji, Gajinya Bisa Tembus 191 Juta! https://sabilulhuda.org/kalau-ibu-rumah-tangga-digaji-gajinya-bisa-tembus-191-juta/

Membuka Hati dengan Cerita

Sejak itu, Lestari mulai rutin membacakan cerita sebelum tidur kisah tentang anak yang berbagi makanan dengan temannya yang lapar, atau seekor kucing yang membantu burung yang terluka. Setiap cerita diakhiri dengan pertanyaan reflektif: “Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang kamu rasakan?” atau “Apa yang akan kamu lakukan?”

Melalui cerita, Arga mulai belajar bahwa dunia di penuhi beragam emosi dan kondisi. Ia tak hanya tertawa saat membaca kisah lucu, tapi juga termenung saat mendengar kisah sedih. Kadang ia memeluk ibunya sambil berbisik, “Kasihan ya, Bu…” Dan Lestari tahu, benih itu mulai tumbuh.

Praktik Empati dalam Kehidupan Sehari-hari

Lestari percaya bahwa empati bukan hanya di ajarkan lewat kata-kata, tetapi juga di tunjukkan lewat tindakan. Ia sengaja melibatkan Arga dalam kegiatan sosial kecil menyiapkan makanan untuk tetangga yang sakit, mengunjungi panti asuhan, atau sekadar membantu teman sekolah yang tertinggal saat lomba lari.

Arga tidak selalu antusias. Pernah ia merasa takut masuk ke panti asuhan, tapi Lestari sabar menuntunnya. Setelah kunjungan itu, Arga menggambar seorang anak tersenyum dengan tulisan sederhana, “Aku mau jadi temannya.” Bagi Lestari, gambar itu lebih dari sekadar coretan itu adalah cerminan hati yang mulai terbuka.

Empati Di mulai dari Rumah

Dalam keseharian mereka, Lestari selalu berusaha menjadi contoh. Ia tidak hanya meminta Arga untuk “berbaik hati”, tapi juga menunjukkan cara menghadapi konflik dengan tenang, bagaimana mendengar dengan sungguh-sungguh, dan memberi perhatian tanpa pamrih.

Satu pelajaran penting yang selalu ia tanamkan adalah: perasaan orang lain itu sah. Ketika Arga marah, sedih, atau kecewa, Lestari tidak langsung mengalihkan atau menghibur. Ia bertanya, “Boleh Ibu tahu kenapa kamu merasa seperti itu?”

Dengan cara ini, Arga belajar bahwa setiap emosi punya tempat, dan bahwa orang lain pun bisa merasa seperti itu juga.

Kini Arga mulai menunjukkan tanda-tanda anak yang peka. Ia bertanya jika melihat temannya murung, ia membagi camilannya meskipun masih ingin makan lebih, dan kadang memberi pelukan tanpa alasan.

Lestari tahu, perjalanan ini masih panjang. Empati bukanlah tujuan, tapi proses yang terus tumbuh seiring pengalaman dan kasih sayang. Namun ia juga percaya, benih yang di tanam dengan cinta dan ketelatenan akan berbuah indah.

Baca Juga: 7 Rutinitas Self Care yang Bisa Dilakukan di Rumah

Oleh: Bu Ira