Pancasila adalah perekat,
Sebagai simbol satu dalam jiwa bangsa
Pancasila mengubah perbedaan
Menjadi keindahan, menyirat
Keanekaragaman dalam kebersamaan,
Serta menciptakan kedamaian dalam
Berbagai kehidupan……
“Pancasila….
“satu : Ketuhanan yang maha Esa…
“Dua…. “
Terdengar suara yang begitu menggelora dari puluhan siswa yang mengikuti upacara bendera di sebuah sekolah dasar. Suara mereka menggema menembus langit-langit sekolah yang hampir rapuh, membangunkan anak-anak burung gereja yang sedang tidur sambil menikmati semilir angin.
Sudah hampir satu bulan Ega menjadi siswa disekolah dasar Nusa Bangsa, berarti sudah empat kali Ega mengikuti upacara bendera. Ia selalu terkesima dan khidmat setiap mendengar kalimat yang menjadi tonggak dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dibacakan. Lima kalimat yang begitu magis, menghipnotis jiwa Ega yang belum genap tujuh tahun.
Bersama puluhan siswa lainnyaEga berdiri tegap di bawah paparan sinar matahari yang begitu terik. Butir-butir keringat mulai tampak di kening Ega, tapi tak sedikit pun ia menyeka dan malah membiarkan keringatnya mengalir begitu saja. Wajahnya tetap tegak, menghadap lurus ke depan, memandang tiang bendera dari pipa besi yang mulai berkarat di sana sini. Setelah beberapa menit kemudian, upacara usai. Semua siswa berlari memasuki kelas masing-masing. Akan tetapi, ada beberapa siswa yang menuju ke kantin untuk mengisi perutnya. Ega sangat senang sekali mengikuti kegiatan upacara bendera hari ini. Ia tak sabar menunggu minggu depan untuk mengikuti kegiatan upacara bendera kembali.
~*~
“Kring… Kring…kring…“suara bel berbunyi, menandakan waktu pulang sekolah telah tiba. Mendengar suara bel tersebut membuat para siswabersorak-sorai. Setelah pelajaran berakhir mereka semua segera berhambur keluar kelas dan berlari menuju gerbang sekolah. Ega keluar kelas dengan semangat dan ia segera pulang dari sekolah,. Jarak antara sekolah dengan rumah Ega cukup dekat, jadi Ega bisa pulang dengan berjalan kaki bersama teman yang lain.
Sesampainya di rumah, Ega segera mengganti baju sekolahnya dengan baju santai. Selesai berganti baju, Egamenuju ruang makan dan menghampiri ibunya yang sudah menyiapkan makanan untuknya.
“ibu… kok dari dulu ayah tidak pernah jenguk aku? Ayah kemana?“tanya Ega selesai makan.
“Sayang, kamu kangen sama ayah ya? “ tanya ibu Ega yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh anaknya.
“Ayah kan lagi kerjadan kerjaannya itu banyak, makanya ayah sibuk dan enggak sempat jenguk Ega. Kapan-kapan kita jenguk ayah di kantor ya? Ega mau gak jenguk ayah? “Saras berusaha menenangkan anaknya yang sudah mengeluarkan air mata. Ia menghapus bulir air mata yang menetes dari mata Ega dan memeluk putrinya. Ega hanya membalas pertanyaan ibunya dengananggukan dan sedikit tersenyum.
__________________+++++++__________________
Setelah beberapa hari ini, Ega menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tetap semangat walau hatinya merasa kecewa dengan ayahnya. “Tok… Tok… Tok… “suara ketukan pintu dari luar membuat Ega terbangun dari tidurnya.
“Sayang.. “panggil ibu dari arah luar kamar Ega.
“iya ada apa buk. “ucap Ega dengan suara khas orang bangun tidur.
“sayang bangun ini sudah hampir siang loh. Katanya ingin ketemu sama ayah. “ucap ibunya lagi, membuat Ega segera bangun dari tidurnya karena ia baru teringat jika ia akan menemui ayahnya hari ini.
“iya buk aku lupa. “ucap Ega dengan polosnya dan membuat ibu tambah gemas dengan anaknya ini.
“ya sudah kamu mandi dulu ya ibu siapkan bajunya. “ucap Ibu yang diangguki oleh Ega.
Ega memang sudah dilatih untuk mandiri sejak kecil. Setelah beberapa menit kemudian, Ega pun telah siap dengan semuanya. Ia pun segera menghampiri ibunya dan mengajak ibunya untuk bertemu dengan ayahnya.
Setelah sampai di depan kantor ayahnya, Ega merasa sangat senang sekali. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan ayahnya. Melepaskan rindu yang sekian lama sudah tak bisa ditahan lagi.
“pak.. Apakah saya bisa bertemu dengan pak Heri.? “Ucap ibunya kepada pak satpam.
“oh bisa buk kebetulan pak Heri sedang tidak ada kegiatan, mari saya antar ke dalam ruangan pak Heri. “ucap pak satpam tadi yang kemudian, satpam tadi berjalan mendahului sang ibu dan anak untuk menunjukkan jalan.
Tiba di depan kantor milik pak Heri, pak satpam pun ingin mengetukkan pintu ruangan tersebut. Akan tetapi, dilarang oleh sang ibu karena ia ingin memberikan kejutan kepada sang suami.
“Tok… Tok… Tok…. “suara ketukan pintu dari arah luar membuat seorang lelaki bangkit dari tempat duduknya dan membukakan pintu.
“ayah…. “teriak Ega sambil memeluk ayahnya. Akan tetapi, Ega didorong oleh ayahnya yang beranggapan jika ia tak pernah mempunyai anak dan istri. Ia pun dengan teganya mengusir mereka. Selama perjalanan pulang, Ega terus menerus mengeluarkan air matanya.
“Ega, jangan berlarut-larut sedih ya. Egakan masih punya ibu yang selalu sayang sama Ega.” ucap Saras yang kemudian Ega segera memeluknya dan menangis sejadi jadinya di dalam dekapan Sarah atau ibu Ega. Sesampainya di rumah, Ega masih saja memikirkan kejadian tadi siang yang membuat hati Ega hancur atas perlakuan ayahnya.
Keesokan harinya adalah hari Senin yang seharusnya hari yang sangat Ega sukai. Namun hari itu, menjadi hari yang berbeda karena ia masih memikirkan kejadian kemarin,
“Ega kamu kenapa? Kamu sakit ya? “ucap Laila teman sebangku Ega.
“enggak kok aku enggak apa-apa aku hanya sedikit pusing saja. “ucap Ega sambil tersenyum ke arah Laila.
“ya sudah kamu pulang saja ya biar nanti aku izinkanke ibu guru atau pak guru. “ucap Laila, namun ditolak Ega karena ia ingin mengikuti upacara. Ia ingin mendengar butir-butir sila Pancasila yang di bacakan dengan lantang.
Bel pun berbunyi, menandakan upacara akan segera dimulai. Maka, semua siswa siswi pun bergegas menuju lapangan. Saat tiba pembacaan Pancasila, Ega pun menghayatinya. Namun, ia merasa kepalanya semakin berat dan pening. Usai pembacaan Pancasila, Egasudah tak sadarkan diri. Hal itu, membuat teman-temannya panik dan segera memanggil guru untuk menangani Ega yang tak sadarkan diri.
Setelah beberapa lama Ega pingsan, ia pun akhirnya membuka mata. Kemudian Ega diantarkan pulang oleh gurunya. Sesampainya di rumah, tepat di depan kamarnya Ega pingsan lagi yang disertai dengan kejang-kejang. Hal itu membuat ibunya sangat khawatir. Ia pun segera membawa anaknya itu menuju ke rumah sakit. Selesai pemeriksaan, sang dokter meminta wali dari Ega untuk menuju ruang kerja dokter. Sarah pun bergegas menuju ruang kerja dokter. Sampai di ruangan dokter, dokter pun menjelaskan penyebab penyakit yang diderita oleh putrinya.
“jadi begini buk, saya sebagai dokter turut bersedih atas apa yang telah Allah takdirkan kepada putri ibu. “ucap sang dokter yang kemudian dipotong oleh ucapan ibu Sarah. “memang penyakit apa dok yang membuat anak saya seperti ini? “ucap ibunya yang sudah mulai khawatir dengan gadis kecilnya itu.
“sabar ya buk. Ini cobaan dari Allah untuk ibu dan juga Ega, Ega telah mengidap penyakit tumor otak yang mungkin baru timbul beberapa hari ini. “ucap sang dokter.
“Apakah anak saya bisa sembuh dok? “tanya Sarah kepada dokter.
“Insya Allah bisa buk, dengan kehendak Allah dan berusaha untuk menjaga tubuhnya agar selalu sehat juga jangan biarkan Ega berpikir keras diusianya yang masih kecil. Insya Allah kesembuhan akan mudah didapat. “ ucap dokter yang diangguki oleh ibunya. Setelah beberapa menit berbicara kepada dokter akhirnya Sarah pun izin untuk menjenguk anaknya.
Ketika Ega masih belum sadar, Sarah pun pulang untuk mengambil beerapa barang keperluan Ega selama di rumah sakit. Sesampainya di rumah, Sarah pun tak sengaja membuka buku milik anaknya itu dan ia pun membacanya sampai ia meneteskan air matanya. Entah isi surat itu apa, akan tetapi surat itu membuat Sarah merasa kasihan kepada anaknya yang tersayang itu. Secepat mungkin Sarah kembali ke rumah sakit untuk menjaga putrinya itu. Namun, sebelum ia ke rumah sakit ia menuju kantor milik suaminya dan mengirimkan surat untuknya.
Setibanya di rumah sakit, Sarah mendapati anaknya sedang mencoba menghafalkan sesuatu.
“sayang kamu sudah bangun? “ucap ibunya yang diangguki oleh Ega.
“kamu lagi menghafal apa sayang? “tanya ibu penasaran.
“aku lagi mencoba menghafal Pancasila buk soalnya aku ingin banget hafal Pancasila dan makna-maknanya aku terapkan dalam kehidupan sehari-hariku. “ucapnya Ega sambil diangguki oleh Sarah yang paham atas apa yang dikatakan oleh anaknya ini.
“ sayang….. Kamu menginginkan sebuah poster ya? “tanya ibu kepada Ega.
“enggak kok buk aku sekarang cuma ingin selalu dekat dengan ayah sama ibu dan aku selalu ingin bisa menghafalkan Pancasila walau pun itu masih agak susah buat aku buk. “ucap Ega yang kemudian di angguki oleh Sarah.
Setelah beberapa hari kemudian Ega mengajak ibunya pulang ke rumah karena ia sudah tak tahan lagi kalau lama-lama berada di rumah sakit. Sampai di rumah, Ega mendapati sosok seorang lelaki yang sedang duduk di teras rumahnya. Melihat hal itu membuat Ega segera berlari dan mendekati sosok pria itu.
“ Ayah.? “ucap Ega secara tiba-tiba dan membuat sang ibu kaget melihat keberadaan suaminya. Sang ayah pun berjongkok di depan Ega dan meminta maaf atas sikap buruknya kepada Ega dan istrinya. Ega pun bersedia memaafkan sang ayah dan memeluknya. Kemudian ayahnya memberikan sebuah bingkisan untuk Ega. Didalamnya, ada berbagai hal yang ia sukai. Akan tetapi, yang paling ia sukai adalah poster Pancasila yang berlambang kan gambar garuda di belakangnya. Hal itu membuat Ega bersemangat untuk menghafalkannya serta menerapkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-harinya.
Setelah beberapa hari kemudian Ega melewati hari-harinya dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur yang tak pernah ia lupakan. Hari ini adalah hari di mana Ega selalu bangga untuk mendengarkan dan menirukan pembacaan Pancasila di saat upacara bendera. Saat ini semua siswa dan siswi sedang melakukan upacara bendera yang dilaksanakan di lapangan sekolah. Semua mengikuti upacara dengan tertib dan rapi.
Setelah beberapa jam kemudian bel sekolah pun telah berbunyi.Kini, semua siswa berlarian keluar kelas untuk segera pulang ke rumah. Hari ini, Ega pulang dengan berjalan kaki sendirian. Ayahnya tak bisa menjemput karena masih sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan ibunya, entah sedang apa Ega tidak mengetahuinya. Saat di pertengahan jalan Ega merasakan sesuatu yang tak enak, akan tetapi ia tetap berpikiran positif hingga tiba-tiba hujan dengan perlahan mengguyur badannya dan Ega pun berusaha lari. Tetapi hujan semakin deras dan tiba-tiba ada sebuah angin yang berputar-putar, ia tak tahu itu angin apa.Yang pasti itu sangat menakutkan, ia pun menangis sendirian di depan gedung yang sudah tak terpakai dan gedung itu sudah rusak tak beraturan hingga tiba-tiba Ega mendengar seperti ada sebuah bangunan yang roboh dan saat itu juga menimpa badan Ega. Badan Ega tertindih reruntuhan bangunan dan ia pun tak sadarkan diri, tak ada orang yang menolong nya. Hujan dan angin topan sudah berhenti,salah satu orang yang melihat tangan manusia tertimbun reruntuhan langsung memanggil warga lain untuk menolong.
Setelah beberapa jam kemudian di temukan seorang anak kecil yang berada di bawah reruntuhan bangunan tersebut, ia sedang memeluk poster yang bertuliskan Pancasila juga isinya. Mengetahui bahwa Ega adalah anak yang berada di bawah reruntuhan bangunan tersebut, salah satu warga pun memanggilkan kedua orang tua Ega untuk memberitahunya. Dengan cepat Sarah dan juga Heri menghampiri anaknya. Mereka khawatir jika anak semata wayangnya terluka dan terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Walaupun tubuhnya kesakitan akan tetapi Ega senang karena ia bisa menyelamatkan posternya itu.











