Pak Ruslan tiba di depan sekolah. Tak lama kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Pandangannya tertuju pada ruang kelas 3, di sanalah anak semata wayangnya belajar. Anak-anak berebut keluar kelas. Satu di antara mereka terselip bocah gempal berlarian. Ia langsung menuju gerbang sekolah. Senyumnya rekah.
“Halo Ayah!”
“Hai, Budi. Ayo lekas naik motor. Kita pulang,” sahut Ayahnya. Mereka pun gegas menuju rumah.
Ketika sampai rumah, Ibunya bertanya, “Bagaimana sekolahmu? Ada PR, nggak?”
Budi menjawab dengan wajah yang lesu dan tampak capek. “Ada, Bu. Tentang Pancasila. Budi hapal, tapi Budi nggak ngerti.”
“Memangnya apa tugasnya?” tanya Ayah nimbrung.
“Bu Guru minta kita menjelaskan maksud dan nilai-nilai dari setiap bulir Pancasila.”
Mendengar itu ayahnya tersenyum, lalu berkata, “Oh, gampang, nanti ikut Ayah ngeriung habis Ashar.” Budi tidak mengerti maksud ayahnya, apa hubungan dari nilai Pancasila dengan ngeriung, tapi toh ia akhirnya nurut juga.
Saat ikut hadir pada riungan dan mendapatkan posisi duduk, Ayahnya mulai menjelaskan. “Apa sila pertama, Budi?” dengan mantap Budi menjawab, “Ketuhanan yang Maha Esa.”
Lalu Ayahnya menjelaskan. Dalam riungan, kita memuja dan memuji Tuhan yang Maha Esa, itu berarti kita telah mengamalkan sila pertama. Ayahnya bertanya lagi, “Sila kedua apa?”
Budi yakin menjawab, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Ayahnya bangga memiliki putra secerdas Budi.
“Coba kamu perhatikan dari setiap orang yang hadir dalam riungan ini. Secara berpakaian, posisi duduk, bahkan tempat duduknya sama rata sama rasa. Itulah nilai yang ada dalam sila kedua,” Ayahnya menjelaskan. Budi memandang sekelilingnya, ia mulai paham dan mengangguk-angguk.
“Sekarang, apa sila ketiga?”
Budi tampak berpikir sejenak. “Persatuan Indonesia.” Ayahnya menunjuk ke bagian barat. “Lihat, kamu tahu Pak Poltak orang mana?”
“Dari Medan, Yah.”
“Betul. Nah, lalu di sebelahnya ada Pak Sarwono dari Jawa. Di depannya ada Pak Beta dari Papua dan lain-lain. Kamu tahu maksud Ayah apa?” Budi menggeleng tak paham.
“Mereka itu, meskipun berbeda-beda, tetapi, dalam riungan ini mereka bersatu. Duduk bersama dan membaca puja-pujian yang serempak. Itulah nilai dari sila ke….”
“Ketiga, Yah!” Budi memotong. Ayahnya menepuk bahunya bangga.
“Betul sekali. Sekarang apa sila keempat?”
“Budi lupa-lupa ingat, Yah. Kepanjangan….” Budi menundukkan kepalanya.
“Ayo bareng-bareng,” Ayahnya mulai mengucapkan perlahan, karena riungan masih berlangsung, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.” Budi mulai teringat kembali.
“Kamu lihat siapa yang memimpin riungan ini? Tuh, yang ada di tengah.”
“Yang mimpin Pak Kiai Rosyid. Guru ngaji Budi, Yah.”
“Benar. Pak Kiai Rosyid-lah yang memandu puja-pujian, yasinan dan tahlilan. Ayah dan Budi kali ini sebagai rakyatnya. Dan dari sinilah sebagai pemimpin dan rakyat harus saling bijaksana dan menghargai. Penunjukkan pemimpin doa pun lewat musyawarat dulu kan? Lalu Pak Kiai mewakili kita semua. Inilah makna sila keempat,” kali ini ayahnya menjelaskan cukup panjang
Pesaan Trend: hargailah sila sila yang telah ada di Idonesia dan janganlah kalian membeda bedakan antar golongan karena semuanya adalah bangsa indonesia pepatah megatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita berantakan”.***
(Sonef)












