Otok-otok adalah mainan jadul atau tradisional yang terbuat dari bambu dengan cara didorong, sehingga mengeluarkan bunyi otok-otok. Sekarang mainan tersebut sudah berkembang, ada yang dibuat dari plastik ada juga yang dikombinasi dengan wadah kaleng kecil bekas susu atau sarden sebagai sumber bunyi. Apabila didorong, roda berputar, sehingga tuas kecil diantara roda akan menekan wadah kaleng bekas atau bambu kemudian mengeluarkan bunyi otok-otok yang nyaring. Dengan kombinasi sayap di kanan kiri dan berbagai bentuk hewan, menambah daya tarik tersendiri.
Beberapa kali aku melewati pedagang otok-otok itu, pingin rasanya beli satu buat Adi. Tapi entah kenapa motorku nggak berhenti. Akhirnya hanya dipikiranku saja. Hari ini aku beli juga otok-otok itu di pasar. Pulang dari pasar aku ketemu tetanggaku yang jualan sayur didekat pedagang otok-otok itu.
“Beli berapa mbak itu mainannya?” Tanya mbak Wiwik
“20 ribu mbak, sudah lama pingin beli” kataku
“Walaah…larangmen mbak… padahal itu kulakanya hanya 6000 lho. Mbok tadi pas ada aku mbak belinya. Kan bisa nggak semahal itu,” kata mbak Wik, menjawab sapaanku padanya.
“Nggak apa-apa mbak, sudah rezekinya,” kataku
“Itu pedagangnya memang begitu mbak..bla…bla…bla….,” panjang lebar tetanggaku itu bercerita.
Aku hanya tersenyum saja. ‘Namanya pedagang ya mesti cari untung’ batinkuu.
“Biar saja mbak, aku memang nggak nawar, lha wong beli di supermarket saja nggak nawar kok, mosok di pedagang kecil nawar,” kataku menjelaskan.
Rini yang sedari tadi didekatku hanya diam manggut-manggut. Setelah mbak Wik pergi, barulah Rini berkomentar.
“Iya Bu, itu memang kemahalan. Kalau di Magelang paling harganya 10-15 ribu Bu, ” ujarnya.
“Nggak apa-apa Rin. Sudah tak niati beli walaupun mungkin lebih mahal. Yang penting dalam hukum jual beli itu sama-sama ridho antara penjual dan pembeli. InsyaAlloh berkah. Daripada aku atau mbak Wiwik yang menawar, kemudian pedagangnya melepas dengan harga 10 ribu, tapi tidak ikhlas, sambil menggerutu, menurutmu berkah nggak? Seandainya kemahalan, itu memang sudah rezekinya pedagang itu. Yaa…idep-idep sedekah Rin… rezeki mah bisa dari mana saja,” terangku padanya.
“Iya Bu… Memang nggak ada keberkahan kalau pedagangnya melepaskan dagangannya sambil marah-marah. Malah kita jadi nggak enak juga. Tapikan harusnya pedagang juga tidak boleh seenaknya to Bu. Mosok mengambil untungnya banyak banget,” ujar Rini
“Betul… pedagang yang baik itu yang jujur, dan tidak menjebak pembeli. Dalam hal otok-otok ini Rin…kalau aku pribadi nggak apa-apa. Terserah ibunya mau ambil untung berapa, itu haknya. Yang penting aku sebagai pembeli ridho. Keberkahan itu yang utama. Aku juga nggak bisa bikin kok Rin.. wes ra nyandak pikiranku,” ujarku jujur.
“Iyaa Bu, he he… sama” jawab Rini
“Yang penting Adi senang, nanti kan jadi rajin jalan, jadi kuat badan dan kakinya. Dan yang terpenting tidak kebanyakan di gendong, dan mandiri,” kataku menjelaskan.
“Iya Bu, ” kata Rini.
“Adi mana ya?, Kok sepi? Bobok po yo? Mau tak kasih e,” kataku sambil mencari Adi di pondok.
“Iyaa…Adi bobok Bu, baru saja,” sahut Dini.
“Ya sudah, nanti saja kalau sudah bangun,” ujarku.
3 jam kemudian, Adi sudah bangun dan sedang bermain dengan anak-anak yang lain.
“Adi…. ini buat Adi ya….,” Kataku sambil mengulurkan otok-otok itu padanya.
Adi senang sekali, dengan mata berbinar dia menatapku.
“Aciiiiih….” Katanya sambil tersenyum dan membungkukkan badannya.
“Sama-sama sayaang,” kucium pipi gembulnya.
Segera Adi mengambil mainan itu dan berjalan mendorongnya. Senang sekali dia. Bahagianya hatiku melihatnya bahagia. Dan saat itu senyum Adi begitu maniiis sekali. Aaa geemeshhh….***
(Mae ya)












