“Lihat orang itu! Ia begitu mencurigakan. Seolah-olah takut jika ada orang lain yang mengamatinya.” Ucap Reni yang sedang berusaha mengamati orang yang mengendap-endap di belakang rumahnya. Dengan suara lirih, ia memberi tahu kepada Dita yang berada di belakangnya.
Selang beberapa menit, orang tersebut pergi dari belakang rumah Reni. Lalu, mereka pun juga pergi dari tempat persembunyiannya. Tidak berpikir panjang, mereka melupakan orang misterius itu. Namun, Reni sempat takut dengan apa yang terjadi, tetapi ketakutan itu lenyap ketika ia bertemu dengan Rasi, temannya yang lain. Mereka langsung bermain bersama hingga senja tiba.
Malam pun tiba, kini saatnya keluarga Reni berkumpul kembali setelah sejak pagi tadi mereka bekerja di sawah. Reni menceritakan tentang apa yang terjadi di belakang rumahnya. Namun, ibu Reni berbaik sangka jika orang tersebut hanya lewat dibelakang rumahnya.
Keesokan harinya, bapak Reni sudah pergi ke sawah setelah sholat shubuh pagi tadi. Kini tinggal Reni dan ibunya yang berada dirumah. Beberapa menit kemudian, rumah Reni akan sepi kembali karena ibu, bapaknya harus ke sawah dan Reni harus sekolah.
Bel pulang sekolah tengah berdentang, murid-murid berhamburan keluar kelas. Reni, Dita, dan Resi pulang barengan. Mereka berencana pukul dua nanti mereka akan bermain. Lalu mereka menuju ke rumahnya masing-masing.
Namun, rencana Reni, Dita, dan Resi gagal. Ternyata rumah Reni kemalingan. TV kecil mereka hilang tanpa jejak. Tidak berpikir panjang, Reni langsung ke sawah menemui bapak ibunya. Dengan cepat, Reni dan orang tuanya menuju ke rumah mereka. Ibu Reni sempat ingin menangis, mengingat perjuangan dulu ketika ibu Reni ingin beli TV yang telah hilang tersebut. Sedangkan bapaknya menanyai tetangga, jika ada yang lihat seseorang yang tengah membawa TV miliknya.
Tiba-tiba, Reni teringat dengan sesuatu hal. Apakah ada sangkut pautnya dengan orang yang mengendap-endap di belakang rumahnya kemarin?. Namun, ia belum berani bertanya kepada ibu tentang prasangkanya terhadap orang musterius itu.
Beberapa saat kemudian, ibu Reni sudah mulai membaik. Ia mengurungkan pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Yang terpenting, mereka sudah mengikhlaskan apa yang telah hilang. Toh, juga uang bisa dicari. InsyaAllah Allah akan menggantikan dengan yang lebih berharga.***
(Nisa Latifa)











