Nenek Pemungut Daun

Jumat, 25 Februari 2011 17:18 Taufiq Nurhayadi E-mail Cetak PDF

Di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka yang berjualan di pasar. Selalu setiap selesai jualan, Sang Nenek pergi ke masjid Agung. Berwudhu kemudian menunaikan salat Dhuhur. Setelah wirid sekedarnya, Sang Nenek keluar dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di sana. Selembar demi selembar dikumpulkannya tanpa melewatkan satu lembar-pun. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari begitu terik, sehingga tak ayal keringat-pun membasahi tubuh rentanya.
…………

Melihat pemandangan seperti itu, banyak jamaah masjid yang jatuh iba kepadanya. Hingga suatu ketika akhirnya Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan sebelum Sang Nenek datang.

Hari berikutnya, sang nenek-pun datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia hendak melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu daun-pun terserak. Sang Nenek kembali ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”
…………
Singkat cerita, nenek itu akhirnya dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa. Tetapi perilaku ganjil Sang Nenek mengundang pertanyaan di benak jamaah. Maka datanglah Pak Kyai menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan.
Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat :
pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya;
kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang sang nenek sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.
“Saya ini perempuan bodoh, Pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya sedikit. Dan amal yang sedikit itu-pun mungkin juga salah secara syariat saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”
(Dikisahkan oleh seorang ulama Madura).
…………
Sungguh luar biasa. Nenek itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah SWT. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur : Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah.
………….
Jangan sepelekan amalan sederhana. Tetapi yang mesti lebih kita perhatikan lagi apa kekuatan hati yang mendorong dari amalan itu. Agar semua menjadi bernilai luar biasa, maka mari kita dawamkan, kita biasakan Dzikrullah dalam setiap aktivitas kita.

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 27 Februari 2011 15:54

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *