Muslihat Biawak di Bukit Turgo

Muslihat Biawak di Bukit Turgo
Muslihat Biawak di Bukit Turgo
Muslihat Biawak di Bukit Turgo
Muslihat Biawak di Bukit Turgo

Muslihat Biawak di Bukit Turgo – Di lereng Merapi, tepatnya di Bukit Turgo yang anggun dan berkabut, hiduplah tiga sahabat yang kompak: Si Kancil yang cerdik, Landak yang berhati panas tapi setia, dan Trenggiling yang bijak tapi tertutup.

Mereka bertiga menjaga hutan yang rindang dan subur dari ancaman para perusak: manusia-manusia yang datang membawa gergaji, buldoser, bego, dumptruck dan janji kosong reboisasi.

Namun, ancaman kali ini berbeda. Suatu pagi, seekor Biawak besar bernama Bragal muncul di puncak bukit, mengklaim dirinya sebagai utusan dari “Organisasi Penjaga Alam Liar Nasional” atau singkatnya, OPALINA.

“Aku di utus untuk membantu kalian melindungi hutan. Kita akan mengusir perusak, menanam kembali pohon, dan membersihkan sungai. Tapi aku butuh satu hal: kekuasaan penuh untuk mengatur wilayah ini,” kata Biawak dengan suara yang menggelegar dan senyum yang seolah bercahaya (walaupun sebenarnya agak licik).

Landak langsung curiga. “Sejak kapan biawak jadi aktivis lingkungan?” gumamnya sambil meruncingkan duri. Tapi Kancil, seperti biasa, terpesona pada segala hal yang tampak besar dan berbicara indah.

“Ayo beri kesempatan!” seru Kancil. “Lihat ini, kita akhirnya punya sekutu kuat!”

Trenggiling diam saja. Matanya mengamati Biawak seperti sedang membaca teka-teki tua dari naskah leluhur. Tapi ia tidak bersuara.

Awal Perubahan

Seminggu kemudian, Bukit Turgo berubah drastis. Biawak memimpin patroli lingkungan, membangun pos jaga dari bambu, dan mencetak selebaran tentang pentingnya menjaga hutan. Banyak binatang mulai kagum. Bahkan beberapa burung murai menobatkan Biawak sebagai “Penjaga Turgo Terhormat”.

Baca Dongeng Berikut:

Tapi Trenggiling mulai resah.

“Mengapa pos penjagaan itu di bangun tepat di titik mata air?” tanyanya pelan suatu malam.

Landak ikut gelisah. Ia mencium aroma solar dari truk-truk kecil yang belakangan sering naik turun bukit. Kancil? Ia terlalu sibuk ikut konferensi “Binatang Hijau Se-Asia” yang di selenggarakan Biawak setiap hari Rabu sore.

Pertemuan Rahasia dan Pengkhianatan

Malam itu, Trenggiling mengajak Landak dan Kancil ke gua kecil peninggalan leluhur. Ia menunjukkan peta tanah yang sudah di warisi turun-temurun. Tampak jelas: titik-titik merah pada peta bertepatan dengan tempat Biawak mendirikan markas.

“Biawak bukan menjaga. Dia menandai titik-titik tambang pasir ilegal. OPALINA ternyata perusahaan properti, bukan organisasi lingkungan!” ujar Trenggiling lirih.

Landak murka. “Gigit saja dia!” serunya sambil menghentakkan kaki.

Tapi Kancil tampak terpecah. “Tapi dia bilang ingin membangun taman belajar…”

“Itu hanya dalih. Seperti para perusak zaman dulu—datang membawa slogan hijau, tapi lengan mereka membawa alat berat,” Trenggiling menatapnya tajam.

Kancil bungkam. Tapi matanya menyala—seperti baru sadar ia sedang di peralat.

Konfrontasi di Puncak

Hari Minggu pagi, ketika awan menggantung dan suara burung hening, trio penjaga Bukit Turgo menghadap Biawak di pos komando. Ratusan binatang berkumpul. Ketegangan menebal seperti kabut sebelum hujan.

“Bragal!” pekik Kancil. “Kami tahu niatmu. Kau bukan penyelamat. Kau perampas!”

Biawak tersenyum. “Sayang sekali, kalian baru sadar. Tapi sudah terlambat. Kontrak sewa lahan dengan tanda cakar kalian—sudah masuk notaris.” Ia mengangkat dokumen bersigil daun.

Semua binatang terkejut. Tanda cakar?

Kancil tampak limbung. “Aku… aku pikir itu daftar hadir…”

Pecahnya Rahasia Trenggiling

Sebelum semua harapan pupus, Trenggiling maju.

“Memang, kami salah percaya padamu. Tapi ternyata… kau juga salah baca.”

Dengan pelan Trenggiling membuka bagian punggungnya. Di balik sisik yang keras, tersembunyi stempel kerajaan kuno: Segel Waris Resi Turgo.

“Aku bukan sekadar penjaga. Aku ahli waris Bukit Turgo. Menurut hukum leluhur, semua transaksi harus mendapat restu ‘Yang Membawa Nama Gunung’—itulah gelarku. Dan aku… tidak merestui.”

Biawak tercekat. Binatang-binatang bersorak.

“Dengan hak warisku, aku membatalkan kontrakmu, dan mencabut gelar ‘Penjaga Turgo’. Kau hanyalah penipu berbadan keras!”

Landak menyeringai sambil berkata, “Siapa sangka Trenggiling adalah raja tanpa mahkota.”

 Penutup dan Harapan

Biawak pun di usir dari bukit, meninggalkan jejak ban yang pelan-pelan di telan ilalang. Kancil menunduk pada Trenggiling.

“Maafkan aku… aku terpesona janji manis dan lupa suara alam sendiri.”

Trenggiling hanya tersenyum, “Belajar dari kesalahan pun juga bagian dari menjaga bumi.”

Hari itu, Bukit Turgo menyambut sinar mentari dengan nyanyian baru. Binatang-binatang kembali menanam pohon, kali ini tanpa selebaran atau slogan, hanya dengan cangkul kecil dan hati besar.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh: Izzayumna