Jumat, 16 Juli 2010 17:30 — Taufiq Nurhayadi
Pendahuluan: Musibah Sebagai Bagian dari Iman
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” Al Ankabuut 29 : 2
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. Al Anbiya 21 : 35
Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa ujian dari Allah adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Jika seseorang menisbatkan diri sebagai orang beriman, maka ia pasti akan menghadapi ujian dalam hidupnya, baik berupa kebaikan maupun keburukan.
Hakikat Musibah dan Cara Memandangnya
Hakikat musibah bukan hanya sekedar kesedihan atau penderitaan. Musibah adalah cara Allah untuk menguji keimanan hamba-Nya.
Kondisi sulit, suasana yang menyayat hati, tekanan batin, kehilangan orang yang dicintai, kecelakaan, kehilangan harta, usaha yang seret, nilai ujian yang buruk, hingga dihina orang. Semuanya adalah bagian dari skenario Allah untuk menguji umat-Nya.
Baca Juga:
Musibah bukan tanda kebencian.
Musibah adalah proses peningkatan derajat.
Seperti murid yang harus menghadapi ujian sebelum naik kelas, begitu pula manusia. Semakin besar ujian yang mereka hadapi, semakin besar pula derajat yang Allah siapkan. Asalkan mereka mampu lulus dalam ujian tersebut.
Maka, apakah masih pantas marah atau menghujat Allah ketika tertimpa musibah? Sementara justru Allah sedang ingin meninggikan kedudukan kita?
Empat Bentuk Peninggian Allah kepada Hamba-Nya
Ketika seorang hamba bersabar, ada empat balasan besar yang Allah sediakan. Inilah inti dari kesabaran dalam menghadapi cobaan. Sebab setiap musibah pastinya membawa hadiah besar bagi mereka yang ridha dan tetap taat.
1. Allah Mengganti dengan yang Lebih Baik
Dari Ummu Salamah:
“Tiada seorang muslim pun yang ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan… Ya Allah berikanlah pahala kepadaku atas musibah ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR Muslim)
Kisah Ummu Salamah yang kehilangan suaminya dan kemudian Allah menggantinya dengan Rasulullah adalah bukti nyata bahwa musibah adalah jalan menuju kebaikan yang lebih tinggi.
2. Musibah Menjadi Penghapus Dosa (Kaffarah)
Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Setiap musibah yang menimpa seorang muslim pastilah Allah menjadikannya kaffarah, meskipun itu hanya tertusuk duri.”
Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa ujian akan terus datang hingga seorang hamba menghadap Allah tanpa membawa dosa. (HR Ahmad)
3. Surga sebagai Balasan Tertinggi
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Allah berfirman:
“Tidak ada pahala bagi hambaku yang beriman, yang jika Aku ambil kekasihnya dari penduduk dunia, lalu ia ikhlas, kecuali surga.” (HR Bukhari)
4. Allah Mengajarkan Ilmu Kehidupan
Setiap ujian adalah proses belajar, sebagaimana seseorang belajar naik motor: grogi, takut, tidak nyaman. Namun jika diteruskan, muncullah ilmu baru.
Begitu juga kehidupan. Orang yang lari dari masalah mereka tidak akan bertambah cerdas. Namun yang tabah dan sabar akan menjadi ulil albab, yaitu orang yang pandai mengambil hikmah.
Inilah makna dari surah Al Insyirah (94: 5–6):
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan…”
Baca Juga:
Musibah Sebagai Peringatan: Tanda Cinta Allah
Selain peninggian, musibah juga bisa menjadi bentuk peringatan dari Allah. Terkadang manusia perlu “dicubit” agar tersadar. Jika tidak peka, Allah “memukul” lebih keras sebagai bentuk kasih sayang agar tidak terjatuh ke jurang yang lebih berbahaya.
Namun, jika seseorang tetap membangkang, barulah musibah besar turun sebagai bentuk pembinasaan. Karena itu, pandai-pandailah membaca tanda. Musibah bukan semata hukuman, tetapi bentuk kasih sayang Allah untuk mengembalikan hamba ke jalan yang benar.
Semua yang Kita Alami Adalah Kasih Sayang Allah
Musibah adalah kasih sayang Allah.
Kenikmatan juga kasih sayang Allah.
Maka seluruh rangkaian kehidupan adalah bentuk cinta dan perhatian Allah kepada hamba-Nya.
Ar Rahman 55 : 13
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manalagi yang akan kamu dustakan?”
Jika semua adalah nikmat Allah, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak mencintai-Nya.
Mulai sekarang, mari kita menghadapi semua yang terjadi — nikmat maupun musibah — dengan ikhlas, ridha, sabar, dan syukur. Karena semuanya adalah jalan untuk menaikkan derajat kita.
Doa Penutup
Ya Allah, mampukanlah kami untuk senantiasa taat kepada-Mu.
Ampuni kami atas kesalahan sikap kami dalam mensyukuri kenikmatan-Mu.
Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.
Subhanallah. Alhamdulillah. Laa ilaha illahu. Allahu Akbar.
Laa haula walaa quwwata illa billah.
Baca Juga: Ujian dan Cobaan Kehidupan















