Opini  

Menyoal Kredibilitas UGM Di Tengah Pusaran Kekuasaan

Menyoal Kredibilitas UGM Di Tengah Pusaran Kekuasaan
Menyoal Kredibilitas UGM Di Tengah Pusaran Kekuasaan
Menyoal Kredibilitas UGM Di Tengah Pusaran Kekuasaan
Menyoal Kredibilitas UGM Di Tengah Pusaran Kekuasaan

Menyoal Kredibilitas UGM di Tengah Pusaran Kekuasaan – Universitas Gadjah Mada (UGM) selama ini dikenal sebagai salah satu pilar intelektual bangsa. Dengan sejarah panjang sebagai universitas perjuangan dan pengawal peradaban.

UGM telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang membentuk lanskap sosial, politik, dan budaya Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, suara-suara kritis mulai menggema dari berbagai arah, mempertanyakan integritas dan independensi institusi ini.

Pertanyaannya menjadi sangat relevan: masihkah UGM berdiri sebagai benteng kebenaran dan akal sehat, atau justru mulai tergelincir menjadi alat legitimasi kekuasaan?

UGM Dan Reputasi Historisnya

UGM lahir dari semangat revolusi. Ia berdiri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam aspek akademik serta membentuk karakter kritis, etis, dan visioner.

Para mahasiswa dan dosennya dahulu berada di garis depan dalam membela demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan sosial. UGM menjadi simbol perlawanan terhadap kebodohan dan ketidakadilan.

Idealisme masa lalu tak selalu linier dengan realitas hari ini. Dunia akademik, termasuk UGM, tidak hidup dalam ruang hampa. Ia terhubung dengan dinamika kekuasaan, politik, dan ekonomi yang kadang merusak integritas lembaga.

Ketika Nalar Kalah Oleh Kepentingan

Dalam beberapa peristiwa nasional, masyarakat melihat UGM tidak lagi seberani dulu menyuarakan kebenaran. Diamnya kampus dalam isu-isu penting kebangsaan seperti pelanggaran demokrasi, manipulasi hukum, konflik agraria, hingga kriminalisasi aktivis dan mahasiswa.

Memunculkan kecurigaan bahwa institusi ini mulai “jinak” terhadap kekuasaan. Lebih dari itu, beberapa keputusan rektorat yang tampak menyesuaikan diri dengan arah kebijakan pemerintah telah memicu kritik keras dari alumni, dosen, dan mahasiswa sendiri.

Apakah ini bagian dari strategi bertahan hidup dalam sistem kekuasaan yang menekan? Ataukah ini cermin bahwa sebagian elite kampus telah berkompromi dengan nilai-nilai yang dulu mereka bela?

Ketika universitas menjadi terlalu dekat dengan kekuasaan, ada risiko besar bahwa nalar kritis akan di gantikan dengan loyalitas pragmatis. UGM, dalam posisi simboliknya sebagai institusi penjaga peradaban, tidak boleh di biarkan terperosok dalam jebakan semacam ini.

Baca Juga:

Dari Sindiran Ke Simbol PSI, Prabowo, Dan Politik Yang Tak Lupa

Dari Sindiran Ke Simbol PSI, Prabowo, Dan Politik Yang Tak Lupa https://sabilulhuda.org/dari-sindiran-ke-simbol-psi-prabowo-dan-politik-yang-tak-lupa/

Kampus Dan Netralitas Ilmiah Masihkah Objektif?

Salah satu pilar kredibilitas akademik adalah independensi dalam berpikir, meneliti, dan menyampaikan gagasan. Namun, publik sering mendapati laporan riset, hasil kajian, atau forum akademik yang di gunakan sebagai alat pembenaran kebijakan penguasa tanpa kritisisme yang memadai.

Fenomena ini mengganggu. Ketika universitas tidak lagi menjadi ruang debat terbuka, ketika pendapat berbeda dianggap subversif. Dan ketika profesor lebih banyak tampil sebagai juru bicara kekuasaan ketimbang ilmuwan merdeka, maka jelas ada yang salah.

Apalagi bila institusi seperti UGM ikut-ikutan dalam pembungkaman opini mahasiswa atau justru menyebar narasi yang seolah netral, namun manipulatif, demi menjaga hubungan baik dengan pemilik modal dan kekuasaan.

Luka Di Akal Sehat Mahasiswa Dan Dosen Yang Terpinggirkan

UGM semestinya menjadi ruang di mana akal sehat bertumbuh, kini yang terjadi justru para pemikir kritis baik mahasiswa maupun dosen sering kali merasa terpinggirkan. Suara yang menyoal keadilan sosial, lingkungan, dan demokrasi terkadang di cap sebagai ancaman stabilitas kampus.

Beberapa kasus menunjukkan bagaimana aktivisme mahasiswa berujung pada tekanan administratif atau intimidasi terselubung.

Bagaimana mungkin sebuah institusi yang di dirikan untuk membela akal sehat justru mencederai semangat itu sendiri?

Harapan Untuk Kebangkitan Moral Akademik

Meski demikian, masih ada harapan. Di tengah kelesuan moral sebagian elit kampus, tetap ada dosen dan mahasiswa yang teguh menjaga nurani akademik.

Forum-forum diskusi alternatif, kajian kritis yang lahir dari inisiatif akar rumput, serta gerakan mahasiswa yang menolak di bungkam, menjadi tanda bahwa api kebenaran belum sepenuhnya padam.

Nyala ini butuh perlindungan. Jika UGM ingin tetap menjadi penjaga peradaban, maka ia harus berani berbenah dari dalam. Menolak kooptasi kekuasaan, menghidupkan kembali etos intelektual yang bebas dan jujur, serta melindungi ruang akademik dari intervensi politik dan ekonomi.

UGM, Kembalilah Ke Jalanmu

Kredibilitas tidak di bangun dari reputasi masa lalu semata, melainkan dari keberanian untuk berkata benar hari ini, walau itu tidak populer. UGM harus menjawab pertanyaan publik dengan jujur: apakah ia masih jujur dan independen, atau telah menjadi manipulatif dan melukai akal waras?

Karena bila universitas setua dan sebesar UGM pun tak mampu menjaga integritasnya, bagaimana mungkin kita berharap peradaban bangsa akan bertumbuh dalam terang nalar yang merdeka?

Kini saatnya membuktikan bahwa UGM tetap menjadi garda depan kebenaran tanpa takut, tanpa pamrih.

Oleh: Ki Pekathik