Libur selama pandemi ini aku merasa senang sekaligus jenuh. Sebab, hari-hari liburanku hanya di rumah saja. Waktu liburku berkisar tidur, makan, main HP dan mandi. Apalagi aku tinggal dipondok pesantren, yang mana aku tidak bisa pulang kampung dan tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuaku. Karena infonya pandemi yang tengah melanda kali ini sangat berbahaya. Lebih hebohnya lagi, pandemi ini melanda hampir di seluruh dunia. Jadilah aku hanya bisa menikmati liburanku bersama teman-teman sepondok.
Selama liburan ini pula kegiatanku hanya memenuhi tugas piket dan mendampingi adik-adik bermain, belajar atau mengaji. Tidak ada kegiatan liburan di luar pondok, seperti tamasya atau berkunjung ke suatu tempat. Tetapi untungnya bapak dan ibu pengasuh selalu berusaha mencarikan solusi dan memberikan ide untuk kami melepas rasa jenuh. Salah satunya dengan nonton film. Semua santri dikumpulkan di aula untuk menonton bersama, dengan lampu dipadamkan dan putaran film melalui LCD proyektor. Dengan suasana seperti itu, menonton film pun layaknya di bioskop. Ditambah teriakan atau gema tawa kami, menjadi lebih menyenangkan dan seru.
Yaa begitulah… yang kurasakan, senang dan jenuh menjadi satu. Aku harus bisa menyikapinya dan mengelolanya dengan baik. Aku pun hanya bisa pasrah dan bersyukur atas semua yang tengah terjadi dalam hidupku ini. Karena pada dasarnya, apa yang Allah timpakan pada hambanya pasti ada imbal balik antara baik dan buruk. Inilah takdirku.***
(Yoo Chan & Dini)
Mensyukuri Nikmat Allah










