Menjaga Perasaan

“Lihat anak itu, terlihat lusuh dan terlantar! ” Ucap salah satu penumpang bus kota hari itu. Mendengar cemoohan itu, Azam hanya menunduk lesu. Tidak jarang ia mendapat hinaan dari orang-orang yang tidak pernah mengerti apa itu kerja keras. Terima ataupun tidak terima atas hinaan yang orang lain berikan padanya, ia harus tetap sabar dan sebisa mungkin tidak mendengarkannya.
Langit sudah menunjukkan warna senja. Azam merasa lelah sekali. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini dagangannya sedikit yang membeli. Ia tidak tega dengan memberikan hasil dagangannya hari ini kepada ibunya. Namun apa boleh buat, ia harus tetap memberikan hasil dagangannya kepada ibu.
Sesampainya di rumah, Azam menemui ibunya dan menyembunyikan uang hasil dagangannya, dengan perasaan bersalah ia memberikan uang itu kepada ibu. Tidak ada perasaan sedih sama sekali di raut wajah Ibu Azam. Justru, ia bersyukur dan berterimakasih kepada Azam atas apa yang telah ia usahakan. Melihat hal itu, Azam pun ikut lega walaupun sebenarnya tidak tega.
Semua kejadian yang Azam alami hari ini, tidak berani ia ceritakan kepada ibunya, begitupun dengan hari-hari lalu. Dari dulu Azam menyimpan rapat-rapat semua cerita sedih yang ia dapatkan selama jualan ataupun ketika tidak sedang bersama ibunya. Ia tidak ingin ibunya kepikiran tentangnya, takutnya menjadi beban pikiran ibu Azam.
Tiada seorang bapak dan keadaan ibu yang sidah sakit-sakitan, membuat Azam merasa seperti tulang punggung keluarga. Ia rela pergi pagi pulang sore hanya demi sesuap nasi. Ia ingin sekali sekolah, namun keadaan yang tidak mendukung. Ia percaya keprihatinan yang ia jalani sekarang akan diganti dengan kebahagiaan dikemudian hari.***

(Nisa)

Artikel yang Direkomendasikan