Menggali Pancasila dan Menerapkannya

Pada suatu pagi yang cerah di Hari Minggu, Cika sedang berkumpul bersama temannya di taman. Mereka berkumpul membahas tentang penerapan Pancasila, sambil menikmati segarnya udara pagi. Dalam perbincangan itu mereka membahas banyak hal seputar penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Di situ Cika menjelaskan tentang penerapan sila ke-1.

“ Teman-teman kalian tahu ga apa maksud dari sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa?” Tanya Cika kepada teman-temannya.

“Bukannya gimana-gimana ya, tapi aku kalo ditanya tiba-tiba suka jadi lupa-lupa ingat gitu.“ Jawab  Aldo dengan senyum kaku.

“Halah, bilang aja gak tau do!.” Kata Kecin yang duduk di samping Aldo.

“Ok aku akan jelasin ke kalian. Dalam sila pertama itu mengandung pengertian bahwa setiap rakyat bangsa Indonesia memiliki kebebasan memilih agama, dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.” jelas Cika sembari menatap dedaunan pohon.

“Bener  juga sih, terus kalo penerapannya di kehidupan sehari-hari contohnya gimana Cik?” Tanya Kevin serius.

 “Wah pertanyaan yang bagus! . Contoh penerapannya itu, kita ngga boleh nih yang namanya maksa orang untuk memeluk agama kita, suruh dia ngikutin cara ibadah kita, kita harus menghargai mereka. Misal sedang ada perayaan Hari Natal, nah kita yang agamanya berbeda dengan orang-orang yang sedang merayakan harus bisa menghargai dengan cara mengucapkan selamat. Kita juga ngga boleh ganggu  mereka ketika sedang beribadah.” Cika menjelaskan kepada teman-temannya.

Setelah Cika menjelaskan penerapan sila pertama, dia bertanya kepada temannya apakah mereka mengetahui tentang sila kedua. Karena Cika belum mengerti tentang bagaimana penerapan sila kedua dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian Aldo menjelaskan kepada Cika dan Kevin.

“Sila ke-2 itu kan bunyinya ‘Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab’, Nah karena aku orangnya adil juga beradab, biar aku yang  jelasin.” Kata Aldo sambil memberikan cengiran khasnya. Jadi gini… maksud sila ke-2 adalah bangsa Indonesia diakui dan diperlakukan sesuai harkat dan martabat sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Lebih jelasnya, setiap makhluk ciptaan

Tuhan memiliki derajat, hak, dan kewajiban yang sama. Kita ga boleh rasis atau membanding-bandingkan ras terhadap orang yang berbeda warna kulit, bahasa, suku, agama, dan budaya. Kita juga harus adil terhadap masyarakat lain di Indonesia. Selain itu kita juga tidak boleh mengambil hak yang dimiliki orang lain.” Sambung Aldo menjelaskan panjang lebar.

Hari semakin siang, saatnya mereka pulang ke rumah  masing-masing. “guys,  udah sore nih… ayo kita pulang. Kita lanjutin besok aja.” Ajak Cika kepada teman-temannya sambil berdiri dari tempat duduknya.

Keesokan harinya, mereka berkumpul lagi di kantin sekolah saat jam istirahat . Seketika Aldo pun teringat bahwa mereka ada janji akan melanjutkan pembahasan mereka saat di taman kemarin.

“Eh, katanya kita mau lanjut bahas Pancasila yang kemarin, mau lanjut ga nih?” tanya Aldo.

Cika dan Kevin pun langsung ingat dengan janji mereka kemarin. “Oh iya aku lupa, kemarin kan kita baru sampe sila ke-2 yak. Berarti sekarang gantian Kevin nih yang jelasin ke kita berdua.” Kata Cika menunjuk ke arah Kevin sambil tersenyum, mengejek.

“Sudah kuduga kalian bakalan nunjuk aku. Untung semalam aku sempat cari-cari soal sila ketiga.” Kat Kevin dengan wajah semsemanga

“Jadi, di sila ketiga yang berbunyi ‘Persatuan Indonesia’, mengandung arti bahwa sebagai rakyat bangsa Indonesia kita ini harus menjadi satu, nggak boleh sampai tercerai-berai. Karena di Indonesia memiliki beragam pulau, etnis, suku, agama, bahasa daerah, dan budaya yang berbeda-beda, tapi kita tetap memiliki persamaan kesejahteraan dan kedudukan agar Indonesia tidak terpecah belah.” Kevin menjelaskan.

Bel masuk pun berbunyi, saatnya mereka masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya yaitu pelajaran PPKN. Setelah guru masuk dan membuka pelajaran, Cika bertanya kepada guru tentang penerapan sila ke empat dan kelima. “Baik akan Bapak jelaskan. Makna dari sila keempat adalah mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara. Nah, contoh penerapannya adalah mengadakan musyawarah untuk membuat keputusan, saling menghargai pendapat, dan menerima kritik dari orang lain. Sedangkan, makna dari sila kelima yaitu menjelaskan mengenai keadilan yang harus didapatkan oleh seluruh masyarakatnya.

Penerapannya adalah menghargai hasil karya orang lain, saling tolong menolong, tidak bertindak semena-mena, dan berani memperjuangkan keadilan untuk orang lain dan diri sendiri.” Pak guru menjelaskan kepada Cika dan teman-temannya.

Akhirnya Cika dan teman-temannya mengerti apa makna dan penerapan dari sila pertama sampai sila kelima. Dengan begitu mereka juga bisa menerapkannya di kehidupan sehari-hari mereka.***

( IZZA)