Mengenal Borobudur! Candi Di Atas Bukit Yang Sarat Makna Kehidupan

Mengenal Borobudur! Candi Di Atas Bukit Yang Sarat Makna Kehidupan
Mengenal Borobudur! Candi Di Atas Bukit Yang Sarat Makna Kehidupan
Mengenal Borobudur! Candi Di Atas Bukit Yang Sarat Makna Kehidupan
Mengenal Borobudur! Candi Di Atas Bukit Yang Sarat Makna Kehidupan

Mengenal Borobudur! Candi di Atas Bukit yang Sarat Makna Kehidupan – Candi Borobudur bukan hanya sekedar bangunan yang megah peninggalan sejarah. Tetapi di balik ribuan batu yang tersusun rapat itu, menyimpan pesan kehidupan yang dalam, terbagi ke dalam sepuluh tingkat dan tiga dunia.

Candi ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan.

Asal-Usul Nama Borobudur

Nama Borobudur sendiri terdiri dari dua kata yaitu “Boro” yang berarti candi atau biara, dan “Budur” berasal dari kata “Beduhur” dalam bahasa Jawa Kuno, yang berarti di atas bukit. Jadi, Borobudur adalah candi yang di bangun di atas bukit.

Tepatnya bukit kecil yang di timbun tanah lalu di lapisi batu-batu besar membentuk struktur bertingkat.

Borobudur sendiri terdiri dari sepuluh tingkat yang terbagi dalam tiga level utama:

Baca Artikel Berikut:

Gunung Rinjani! Pendakian Tersulit di Asia Tenggara Yang Menyimpan Keindahan Dan Bahaya

Gunung Rinjani! Pendakian Tersulit di Asia Tenggara Yang Menyimpan Keindahan Dan Bahaya. https://sabilulhuda.org/gunung-rinjani-pendakian-tersulit-di-asia-tenggara-yang-menyimpan-keindahan-dan-bahaya/

Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Ke tiga tersebut mempunyai filosofi yang berbeda beda.

1. Kamadhatu

Di tingkat paling bawah adalah Kamadhatu, berasal dari kata “Kama” yang berarti nafsu dan “Dhatu” yang berarti alam atau dunia. Ini menggambarkan dunia yang di kuasai oleh hawa nafsu.

Meskipun pada bagian ini tertutup oleh tanah dan tidak terlihat secara langsung. Terdapat sekitar 160 relief pahatan yang menggambarkan hukum karma. Bahwa setiap perbuatan baik maupun buruk akan mendapat balasannya.

2. Rupadhatu

Tingkatan kedua hingga keenam di sebut Rupadhatu. “Rupa” artinya bentuk atau wujud, dan “Dhatu” tetap berarti dunia. Inilah dunia bentuk, di mana tempat manusia masih terikat pada bentuk-bentuk fisik dan visual.

Jadi Relief di level ini terdapat banyak cerita, salah satunya tentang Siddhartha Gautama, sang Buddha, yang merupakan titisan dewa yang turun ke dunia untuk menyebarkan ajaran kebaikan.

Di bagian ini juga terdapat jendela batu khas Borobudur yang di kenal dengan sebutan “jalusi”. Yang berarti di setiap lantainya memiliki patung Buddha. Dengan posisi tangan (mudra) yang berbeda-beda sesuai arah mata angin:

Timur berarti tangan menyentuh bumi, simbol panggilan pada bumi sebagai saksi.

Selatan tangan terbuka sebagai simbol pemberian.

Barat tangan di pangkuan, simbol meditasi.

Utara tangan terangkat, simbol perlindungan.

3. Arupadhatu

Tingkatan ketujuh hingga kesepuluh disebut Arupadhatu. Tambahan huruf “A” di depan kata Rupa yang berarti menandakan ketiadaan bentuk. Ini adalah simbol Nirwana, kondisi bebas dari nafsu, bentuk, dan keterikatan duniawi.

Di bagian ini tidak ada relief, hanya ada stupa-stupa. Yang paling terkenal adalah stupa induk berbentuk lonceng raksasa yang menjadi ikon utama Borobudur.

Terdapat 72 stupa kecil yang melingkari stupa utama. Di dalamnya terdapat patung Buddha dalam posisi duduk dengan tangan membentuk mudra. Yang berarti memutar roda kehidupan atau Dharma Chakra Mudra.

Makna Dan Filosofi Borobudur

Borobudur bukan hanya tempat wisata atau sebagai monumen batu, tapi juga sebagai arah spiritual. Ia mengajarkan manusia tentang perjalanan dari dunia yang penuh nafsu menuju pencerahan. Sehingga totalnya ada 504 patung Buddha, yang masing-masing patung tersebut menyampaikan pesan tertentu lewat posisi tangannya.

Jika semua tingkatan dan patung itu kita teliti dan memahaminya secara keseluruhan. Maka akan tampak seperti tarian spiritual atau gerakan menuju kesadaran hakiki yang bebas dari penderitaan.

Dari uraian diatas, Candi Borobudur adalah warisan dunia yang luar biasa. Ia bukan hanya keindahan arsitektur, tapi juga sebagai kitab ajaran hidup yang diukir dalam batu.

Dalam Setiap langkah menaiki anak tangga Borobudur seolah olah ia mengajak kita untuk melepaskan beban dunia, menuju kedamaian yang sejati.

Baca Juga: Menteri Kebudayaan RI Resmikan Borobudur Cultural Center