Mengapa Tembang Lir-Ilir Menyebut Belimbing untuk Mencuci? Ini Jawaban Lengkapnya!

Ilustrasi laki-laki Jawa memegang belimbing wuluh dengan latar alat mencuci tradisional dan judul “Mengapa Tembang Lir-Ilir Menyebut Belimbing untuk Mencuci?”.
Ilustrasi belimbing wuluh dan aktivitas mencuci tradisional sebagai simbol yang digunakan dalam tembang Lir-Ilir.

Sabilulhuda, Yogyakarta: Mengapa Tembang Lir-Ilir Menyebut Belimbing untuk Mencuci? Ini Jawaban Lengkapnya! – Tembang Lir-Ilir adalah salah satu karya budaya Jawa yang paling populer hingga hari ini. Hampir semua orang pernah mendengarnya, baik melalui pelajaran sekolah, pengajian, pertunjukan seni, maupun hanya sebatas lantunan yang dibawakan orang tua saat menidurkan anak.

Namun, di balik keindahannya, tembang ini ternyata menyimpan banyak makna yang tidak selalu dipahami oleh pendengarnya. Salah satu baris yang sering menimbulkan pertanyaan kita adalah:

“Penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro…”

Panjatlah belimbing itu, licin-licin panjatlah, untuk mencuci bajumu…

Pertanyaannya adalah, Mengapa tembang Lir-Ilir menyebut belimbing sebagai alat untuk mencuci? Apakah ini cuma sebagai simbol, atau memang ada fakta sejarah dan budaya di baliknya?

Menariknya, kedua jawaban tersebut adalah benar. Dalam budaya Jawa, penyebutan belimbing di bait itu punya landasan secara faktual. Tetapi juga memiliki lapisan makna filosofis yang lebih dalam. Yuk kita bahas satu per satu secara lengkap.

Belimbing dalam Tradisi Jawa Bukan Belimbing Bintang, Tapi Belimbing Wuluh

Jika kita membaca baris tembang ini secara literal, banyak orang modern yang mungkin masih bingung:

“Belimbing untuk mencuci? Memangnya bisa?”

Di sinilah letak kesalahpahaman yang paling umum terjadi. Belimbing yang dimaksud dalam teks kuno Jawa ini bukan belimbing bintang (Averrhoa carambola) yang rasanya manis dan biasa kita makan.

Tetapi yang dimaksud adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), yaitu buah yang bentuknya kecil, hijau, rasanya sangat asam, dan sudah lama dipakai orang Jawa dulu sebagai pembersih alami.

Belimbing wuluh sendiri mengandung asam alami yang kuat. Bahkan hingga kini, banyak keluarga Jawa kolot yang masih menggunakan belimbing wuluh untuk:

  • membersihkan noda minyak di pakaian,
  • mencuci kerak lemak pada alat masak,
  • menghilangkan daki pada kain atau serat alami,
  • bahkan membersihkan bilah keris atau pisau tiap bulan Sura.

Jadi, secara faktual dan historis, penggunaan belimbing sebagai sabun alami memang ada dan sudah diterapkan dalam keseharian masyarakat Jawa berabad-abad sebelum deterjen modern ditemukan.

Baca Juga:

Sebelum Ada Deterjen, Buah Asam Jadi Andalan untuk Mencuci

Dalam kehidupan tradisional orang  Jawa dulu , kegiatan mencuci pakaian itu mereka lakukan dengan bahan-bahan yang alami. Ada tiga bahan yang paling umum mereka gunakan adalah:

1. Belimbing wuluh

  • Sumber asam kuat untuk mengangkat minyak dan lemak.

2. Jeruk nipis

  • Biasanya di pakai untuk menghilangkan bau, noda berminyak, dan menyegarkan kain.

3. Buah lerak

  • Bahan pencuci yang paling populer untuk batik tulis karena menjaga warna dan serat kain tetap awet.

Hingga sekarang pun, baju batik tulis yang harganya sampai  jutaan rupiah masih dicuci dengan menggunakan lerak atau belimbing wuluh. Hal ini agar kainnya tidak cepat rusak dan warnanya juga tidak mudah pudar. Kerena deterjen justru dianggap terlalu keras.

Cara menggunakan belimbing wuluh pun terbilang sederhana:

  • buah dipotong menjadi dua,
  • kemudian di gosokkan ke bagian yang bernoda,
  • setelah itu lalu diamkan 15 sampai 30 menit,
  • selanjutnya dikucek secara perlahan.

Bahan alami memang bekerja lebih lambat, sehingga biasanya proses ini diulang dua hingga tiga kali. Tapi hasilnya lebih lembut dan juga lebih aman.

Dengan memahami konteks budaya ini, kita bisa melihat bahwa bait mbasuh dodotiro bukanlah hal yang asing dalam budaya Jawa lama. Karena pada waktu itu belimbing memang benar-benar orang jawa gunakan untuk mencuci kain (dodot).

Makna Literal dalam Lir-Ilir Yang Realistis, Bukan Hanya Sebagai Simbol

Tembang tersebut sering dianggap seluruhnya sebagai metaforis, namun pada lapisan pertama, bait tentang belimbing hadir sebagai gambaran aktivitas sehari-hari yang sangat familiar bagi masyarakat Jawa pada masa itu.

“Penekno blimbing kuwi…” bisa kita pahami secara literal sebagai:

  • panjatlah pohon belimbing wuluh,
  • ambil buahnya,
  • gunakan untuk mencuci pakaianmu yang kotor.

Ini kalimat yang sangat membumi, serta sangat dekat dengan tradisi rumah tangga Jawa pada masa pra-industri.

Namun tembang ini adalah karya para wali. Dan seperti lazimnya strategi dakwah mereka sebagai lapisan literal yang biasanya hanya pembuka menuju makna yang lebih dalam.

Makna Simbolik Dari Belimbing

Selain makna secara faktual, penyebutan belimbing dalam Lir-Ilir juga memiliki makna secara simbolik yang sangat kuat.

Belimbing memiliki lima rusuk pada bentuk buahnya. Lima sisi ini sering orang jawa memahami sebagai simbol Lima Rukun Islam islam:

  1. Syahadat
  2. Salat
  3. Zakat
  4. Puasa
  5. Haji

Para wali dulu sering kali memanfaatkan benda-benda yang akrab dalam kehidupan masyarakat jawa dulu. Seperti janur, belimbing, padi, kerbau, air, yang semua itu untuk menyampaikan ajaran tauhid.

Dalam konteks ini:

  1. Pohon belimbing = rukun Islam
  2. Memanjat belimbing = menjalankan rukun Islam
  3. “Lunyu-lunyu penekno” = meskipun sulit, tetap laksanakan
  4. “Dodotiro” = pakaian dirimu = hati & amalmu

Dengan kata lain, rukun Islam-lah yang akan mencuci dosa, sebagaimana belimbing wuluh di gunakan untuk mencuci noda pada pakaian.

Makna ini semakin jelas ketika masuk ke bait berikutnya:

“Dodotiro kumitir bedah ing pinggir…”
Pakaianmu robek di pinggir…

Baca Juga:

Ini menggambarkan tentang kondisi iman seseorang yang koyak, banyak kekurangannya. Maka, tembang itu menyuruh untuk:

“Dondomana jrumatana…”
Jahitlah, perbaikilah…

Semuanya ditutup dengan ajakan untuk bersegera sebelum terlambat:

“Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane…”
Selagi masih ada waktu, selagi jalannya masih lapang…

Faktual dan Filosofis Dua Lapisan yang Berjalan Bersama

Jawaban yang tepat mengenai pertanyaan utama “Mengapa belimbing di pakai untuk mencuci?” adalah:

1. Karena secara faktual, belimbing wuluh memang sudah digunakan sebagai pembersih di budaya Jawa.

  • Ini hal yang sehari-hari orang jawa lakukan, sehingga sangat masuk akal jika di gunakan dalam sebuah tembang rakyat.

2. Karena belimbing dipakai sebagai simbol rukun Islam, yang dapat ‘membersihkan’ dosa.

  • Para wali selalu merangkai dakwahnya dengan bahasa simbol yang dekat dengan kehidupan masyarakat jawa.

Kedua makna ini tidaklah saling bertentangan. Justru, inilah keindahan khas dari budaya Jawa. Yang faktual dan filosofis dapat berjalan secara beriringan, tidak memisahkan dunia keseharian dari ajaran spiritual.

Lir-Ilir Bukan Hanya Sebagai Tembang, Tetapi Strategi Komunikasi Para Wali

Tembang Lir-Ilir banyak orang yang meyakininya merupakan karya Sunan Kalijaga, walaupun sebagian tradisi juga mengaitkannya dengan Sunan Bonang. Tetapi siapa pun penciptanya, keduanya memiliki ciri dakwah yang sama yaitu:

  • lembut,
  • simbolis,
  • memanfaatkan budaya lokal,
  • dekat dengan aktivitas sehari hari masyarakat Jawa.

Sehingga para wali itu tidak mengajarkan agama dengan cara memaksa, tetapi melalui ungkapan-ungkapan indah yang meresap ke dalam hati. Belimbing hanyalah satu dari sekian banyak simbol yang mereka gunakan.

Belimbing dalam Lir-Ilir Adalah Jembatan antara Tradisi dan Spiritualitas

Kini kita bisa melihat bahwa penyebutan belimbing dalam Lir-Ilir bukanlah hanya sebagai hiasan kata. Ia memiliki akar budaya dan makna spiritual yang sangat kuat.

  • Ia nyata dalam tradisi mencuci pakaian orang Jawa.
  • Ia juga simbol rukun Islam yang membersihkan hati.
  • ia menjadi jembatan yang menghubungkan keseharian rakyat dengan pesan dakwah yang halus.

Tembang Lir-Ilir adalah bukti bahwa budaya Jawa mampu mengemas ajaran agama dalam bentuk yang indah, halus, dan mudah di terima hingga ratusan tahun kemudian.

Baca Juga Artikel Berikut: Blangkon Jogja : Filosofi dan Makna yang Tersirat