Mengalah Bukan Berarti Salah

Banyak orang lebih memilih mengalah dari suatu hal karena tidak ingin memperpanjang hal tersebut menjadi suatu masalah yang berlarut-larut. Tidak salah dengan pilihan tersebut, karena kekuatan mental seseorang itu berbeda-beda. Ada yang kuat dan bahkan melawannya dengan cara yang tidak masuk akal. Ada juga yang lebih memilih diam menahan rasa sakitnya sendirian. Mengalah dalam banyak hal contohnya seperti menerima atas perlakuan ketidakadilan, menerima sifat egois dari orang lain dan masih banyak lagi.

Namun, perlu diketahui bahwa orang yang selalu mengalah itu tidak akan seterusnya mengalah. Suatu saat nanti ketika kesabaran mereka sudah berada di puncaknya. Maka mereka akan memberontak dan membalaskan semua ketidakadilan yang didapatkannya. Hal itu sesuai dengan seseorang yang bersifat pendiam. Mereka yang sikapnya tertutup dan lebih memilih menghindar dari segala hal yang membuat dirinya terkena masalah, bisa berubah lebih buas dari seekor singa manakala tempat mereka diusik oleh orang lain dengan berlebihan. Karena, marahnya orang yang diam itu lebih berbahaya daripada mereka yang dengan mudahnya mengungkapkan apa yang dirasakan.

Pendiam bukan berarti selamanya selalu menerima atas perlakuan ketidakadilan. Terkadang terlihat diam tetapi ternyata diam-diam sedang menyusun strategi untuk membalas orang yang telah menyakitinya. Kita harus sama-sama paham dan belajar bagaimana cara bersikap kepada orang lain. Jangan menggunakan sebuah kekuasaan dan uang untuk memperbudak mereka yang berada di bawah kita.

Hidup seperti roda yang berputar. Ada kalannya kita di bawah, merasakan sebagi orang yang selalu ditindas dan mengalah. Ada kalannya juga, yang selalu diperlakukan tidak adil akan merasakan diatas ketika semua orang menghormatinnya.

Semua itu tergantung sikap kita terhadap orang lain. Ingat, seburuk apapun perlakuan orang terhadap kita, tetaplah menjadi baik. Mengalah boleh tapi ada kalannya menentang atas ketidakadilan perlu dilakukan jika sudah melampaui batas.***

(Selin)