Memperbanyak Doa Sehat

Abul A’la at-Taimi rahimahullah bertutur,

Perbanyaklah berdoa memohon kesehatan kepada Allah. Karena seseorang yang diuji dengan penyakit meskipun terasa berat tidaklah lebih berhak memperbanyak berdoa, daripada orang sehat yang tidak aman dari datangnya sakit di kemudian hari (Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar).

Diantara petikan doa yang Nabi shallallahu ‘alahi wasallam panjatkan,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hilangnya kenikmatan yang sudah Engkau berikan. Dan dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan (HR. Muslim 2739).

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

_”Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”_ (At-Taghabun: 11).

 Muhammad Thahir ‘Asyur رَحِمَهُ الله berkata, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”, terdapat isyarat kepada perintah untuk tegar dan sabar ketika musibah menimpa; karena penunjukan Allah terhadap hati orang Mukmin ketika musibah, berkonsekuensi memotivasi orang-orang Mukmin agar mereka tegar dan sabar ketika musibah tersebut datang. Oleh karena itu, ayat ini ditutup dengan kalimat, وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

( Eva)