
Membiasakan Diri Dengan Perasaan Senang Dan Bahagia – Bersyukur adalah salah satu pilar keimanan yang kokoh dalam Islam, dengan ucapan lisan “alhamdulillah”, disertai kondisi hati yang merasakan, mengakui, dan mengagungkan nikmat-nikmat Allah SWT.
Seringkali kita lupa bahwa ada syarat mendasar untuk bersyukur yang tulus dan berkelanjutan: membiasakan diri dengan perasaan senang dan bahagia.
Bagaimana mungkin kita bisa bersyukur atas sesuatu jika hati kita diselimuti keluh kesah, kegelisahan, atau ketidakpuasan? Rasa syukur yang sejati lahir dari jiwa yang lapang, pikiran yang positif, dan hati yang merasakan keindahan serta kebaikan dalam setiap karunia, sekecil apapun itu.
Ini bukan berarti kita harus selalu berada dalam kondisi euforia yang tidak realistis, melainkan sebuah latihan mental dan spiritual untuk memilih kebahagiaan sebagai respons default terhadap kehidupan.
Mengapa Bahagia Adalah Kunci Syukur?
Kebahagiaan, dalam konteks ini merupakan sebuah sarana untuk mencapai tingkat syukur yang lebih tinggi. Ketika hati kita dipenuhi kebahagiaan, kita menjadi lebih peka terhadap nikmat-nikmat kecil yang sering terabaikan.
Udara segar yang kita hirup, secangkir kopi hangat di pagi hari, senyum anak-anak, kesehatan tubuh – semua ini menjadi lebih terasa nilai dan keberkahannya saat hati kita damai dan gembira.
Sebaliknya, jika kita selalu diliputi kesedihan, kekhawatiran, atau kemarahan, mata hati kita cenderung tertutup. Kita fokus pada kekurangan, pada apa yang tidak kita miliki, atau pada masalah yang sedang menimpa.
Akibatnya, nikmat-nikmat besar sekalipun terasa hambar dan tidak berarti, bahkan cenderung mengarah pada kufur nikmat.
Baca Juga:

Hati Sebagai Wadah Cahaya Ilahi https://sabilulhuda.org/hati-sebagai-wadah-cahaya-ilahi/
Perintah Allah Untuk Bersyukur
Allah SWT berkali-kali memerintahkan kita untuk bersyukur dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa pentingnya sifat ini di mata-Nya. Bersyukur disanping membawa kebaikan bagi diri kita sendiri di dunia, juga menjadi penentu kebahagiaan di akhirat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”
Ayat ini dengan jelas menyatakan janji Allah akan penambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Namun, bagaimana mungkin kita bersyukur jika kita tidak merasakan kegembiraan atau kepuasan atas apa yang telah di berikan?
Perasaan senang dan bahagia adalah fondasi yang memungkinkan kita mengakui dan menghargai tambahan nikmat tersebut. Tanpa kebahagiaan, “tambahan” nikmat mungkin akan terasa biasa saja, bahkan tidak di sadari.
Kebahagiaan Sebagai Respon Profetik
Nabi Muhammad SAW, teladan kita, adalah pribadi yang paling bersyukur. Beliau tidak pernah mengeluh, bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun. Beliau selalu menemukan kebahagiaan dan optimisme dalam setiap situasi, dan inilah yang memungkinkannya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.
Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan RA, Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan itu tidak terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jika dia di timpa kesulitan, dia bersabar, dan itu lebih baik baginya.”
Hadis ini menegaskan bahwa seorang mukmin sejati selalu berada dalam kebaikan, baik dalam suka maupun duka. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, yang mana rasa senang itu sendiri adalah pendorong syukur.
Ketika di timpa kesulitan, ia bersabar, yang merupakan bentuk syukur juga karena ia menerima ketetapan Allah dengan lapang dada. Intinya, ia selalu menemukan celah untuk merasa tenang, menerima, dan positif, yang merupakan akar dari kebahagiaan.
Sebuah Latihan Hati Membiasakan Diri
Membiasakan diri dengan perasaan senang dan bahagia adalah sebuah latihan, sebuah pilihan sadar yang harus kita pupuk setiap hari.
1. Mengubah Perspektif:
Alih-alih fokus pada apa yang kurang, latihlah diri untuk melihat apa yang sudah ada. Syukuri udara yang kita hirup, detak jantung yang teratur, fungsi panca indera, dan segala hal kecil yang sering kita anggap remeh. Ini adalah latihan untuk menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.
2. Meninggalkan Keluh Kesah:
Keluh kesah adalah racun bagi hati dan musuh bagi syukur. Setiap kali keinginan untuk mengeluh muncul, segera hentikan dan alihkan perhatian pada nikmat yang lain. Ingatlah bahwa mengeluh hanya akan menambah beban dan menjauhkan kita dari kebahagiaan.
3. Memperbanyak Dzikir Dan Istighfar:
Dzikir adalah nutrisi bagi hati. Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang dan damai, yang merupakan landasan kebahagiaan. Istighfar membersihkan hati dari dosa-dosa yang bisa mengeraskan hati dan menutup pintu kebahagiaan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Ketenangan hati adalah bentuk kebahagiaan yang mendalam, dan ketenangan inilah yang akan memicu rasa syukur.
4. Bergaul dengan Orang-Orang Positif:
Lingkungan sangat mempengaruhi suasana hati. Bergaullah dengan orang-orang yang memiliki pandangan positif, yang selalu bersyukur, dan yang memancarkan energi kebahagiaan. Energi positif mereka akan menular dan membantu kita untuk mempertahankan suasana hati yang baik.
5. Membiasakan Senyum:
Senyum adalah sedekah termudah dan paling ampuh untuk memicu perasaan bahagia, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan membiasakan senyum, kita melatih otot-otot wajah dan pikiran untuk merespons dunia dengan positif.
Baca Juga: Bangun Negeri Dengan Hati
6. Menerima Ketentuan Allah:
Kebahagiaan sejati datang dari penerimaan penuh atas qada dan qadar Allah. Ketika kita memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya dan pasti ada hikmah di baliknya, hati akan menjadi lebih tenang dan mudah merasakan kebahagiaan, bahkan di tengah cobaan.
Syukur Membawa Lebih Banyak Kebahagiaan
Paradoksnya, semakin kita bersyukur, semakin banyak alasan yang kita temukan untuk bahagia. Syukur menciptakan lingkaran positif: kebahagiaan memicu syukur, dan syukur membawa lebih banyak kebahagiaan.
Ini adalah siklus berkelanjutan yang terus-menerus meningkatkan kualitas hidup kita, baik secara spiritual maupun emosional.
Bersyukur adalah sebuah jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bahagia. Syarat utama untuk mencapai tingkat syukur yang mendalam adalah dengan membiasakan diri dengan perasaan senang dan bahagia.
Ini adalah sebuah latihan hati, sebuah pilihan sadar untuk melihat kebaikan dalam setiap aspek kehidupan, dan sebuah penyerahan diri yang tulus kepada Allah SWT.
Dengan memupuk kebahagiaan dalam diri, kita membuka gerbang menuju syukur yang hakiki, yang akan mengundang lebih banyak nikmat, keberkahan, dan ketenangan dari Allah SWT.
Mari kita jadikan kebahagiaan sebagai gaya hidup, bukan hanya sebagai respons terhadap peristiwa tertentu, sehingga rasa syukur senantiasa tercurah dari lisan dan hati kita.
Oleh: Ki Pekathik













