Memahami Fase Tumbuh Anak & Cara Mendidik Sesuai Usia Dengan Santun

Ilustrasi ibu berhijab sedang membimbing anak laki-lakinya belajar di meja dengan latar tulisan “Memahami Fase Tumbuh Anak: Cara Mendidik Sesuai Usia”.
Seorang ibu mendampingi anaknya belajar sebagai simbol pentingnya peran orang tua dalam memahami setiap tahap tumbuh kembang anak.

Memahami Fase Tumbuh Anak & Cara Mendidik Sesuai Usia Dengan Santun – Setiap anak pastinya tumbuh dengan caranya masing-masing. Tapi tahukah kamu, cara anak dalam belajar dan menerima nasihat ternyata selalu berubah  seiring dengan bertambahnya usia?

Kalau orang tua itu paham fase-fasenya, maka dalam mendidik anaknya bisa terasa jauh lebih ringan, menyenangkan, dan juga efektif. Yuk, kita bahas satu per satu dengan cara yang simpel supaya mudah kita pahami bersama.

Ilustrasi ibu berhijab sedang membimbing anak laki-lakinya belajar di meja dengan latar tulisan “Memahami Fase Tumbuh Anak: Cara Mendidik Sesuai Usia”.
Seorang ibu mendampingi anaknya belajar sebagai simbol pentingnya peran orang tua dalam memahami setiap tahap tumbuh kembang anak.

Cara Mendidik Anak Yang Santun Sesuai Dengan Fasenya

1. Usia 0–6 Tahun: “Kata Ibu Aku”

Di fase ini, orang tua adalah dunia bagi anaknya. Semua yang ia lihat, dengar, dan rasakan akan ia serap tanpa filter. Karena itu, kalimat yang paling sering kita dengar dari anak usia dini adalah “kata ibu aku…” atau “kata ayah aku…”.

Itulah sebabnya, masa ini di sebut sebagai masa emas dari perkembangan otak. Sehingga anak tersebut sangat mudah dalam meniru dan belajar dari lingkungan terdekatnya.

Maka, kalau kita ingin menanamkan nilai kebaikan, disiplin, dan sopan santun, pada fase inilah saatnya. Sayangnya, banyak orang tua yang malah justru mereka itu sedang sibuk meniti kariernya  di fase ini. Padahal kehadiran dan perhatian mereka adalah “bahan bakar” utama tumbuh kembang sang anak.

2. Usia 7–12 Tahun: “Kata Guru Aku”

Begitu anak sudah masuk SD, pusat perhatiannya mulai bergeser. Anak sudah mulai mengenal sosok lain yang ia kagumi yaitu gurunya. Ia mulai percaya bahwa guru adalah sumber pengetahuan yang tak kalah penting dari orang tuanya.

Baca Juga:

Keluarga Muslim Indonesia sedang belajar bersama di ruang tamu, orang tua mendampingi anak-anak menulis dan membaca dengan penuh kasih sayang.

Memahami Otak Anak Zaman Sekarang Untuk Membentuk Karakter Yang Hebat https://sabilulhuda.org/memahami-otak-anak-zaman-sekarang-untuk-membentuk-karakter-yang-hebat/

Maka, jangan heran kalau anak kadang berkata, “Kata guru aku, nggak boleh gitu, Bun.” Sebagai orang tua, kita tidak perlu tersinggung atas jawaban anak tersebut. Justru kita perlu bekerja sama dengan pihak sekolah.

Maka orang tua perlu memilih sekolah dan guru yang sejalan dengan nilai keluarga, supaya pesan-pesan kebaikan dari rumah bisa dapat tersambung dengan ajaran di sekolah. Dengan begitu, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang selaras antara rumah dan tempat belajarnya.

3. Usia 13–20 Tahun: “Kata Temanku”

Ketika masuk usia remaja, anak sudah mulai mencari identitas diri mereka sendiri. Ia ingin diterima oleh lingkungannya, ingin punya teman, dan mereka ingin diakui keberadaanya. Itulah mengapa kalimat “kata temanku” sering kali muncul di masa ini.

Orang tua jangan panik dulu, karena ini merupakan dari bagian secara alami dari tumbuhnya kemandirian anak tersebut dalam berpikir.

Yang bisa kita lakukan adalah dengan tetap hadir dan mendampinginya, tapi tidak mendikte. Bangun komunikasi yang terbuka dan kenali teman-teman anak kita.

Menariknya, kadang anak lebih mudah mendengarkan nasihat dari orang tua temannya. Jadi, tak apa jika sesekali kita titip pesan lewat orang lain, asalkan tetap dengan cara yang bijak.

4. Usia Dewasa (20 Tahun Ke Atas): “Menurut Aku” Dan “Kata Allah”

Saat anak tumbuh menjadi dewasa, ia sudah mulai punya cara pandangnya sendiri. Di tahap ini, nilai-nilai yang dulu kita tanamkan akan mulai berbuah. Ia akan belajar dalam mengambil keputusan, menentukan arah hidupnya, dan kembali mencari makna spiritualnya.

Biasanya, di fase ini mereka sudah mulai aktif ikut kajian, taklim, atau kegiatan keagamaan. Itu artinya, nilai iman yang dulu kita tanam tidak hilang,  hanya saja kita menunggu waktunya untuk tumbuh.

Setiap Fase Punya Bahasanya Sendiri

Dalam mendidik anak itu bukan soal kita membandingkan, tapi kita sendiri harus memahami mereka. Bukan juga membuat mereka agar sama seperti kita, tapi kita yang menemani mereka menjadi versi terbaik dari dirinya.

Tugas kita sebagai orang tua hanyalah menemani, menuntun, dan terus belajar bersama mereka dengan sabar dan kasih sayang.

Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK