Melangkah Menuju Impian

Namaku Sinta. Tahun ini, aku lulus SMA tanpa ujian seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada pesta perpisahan, tidak ada pula ucapan selamat tinggal secara langsung. Yang ada hanyalah kebingungan diri memikirkan apa yang akan kulakukan untuk langkah selanjutnya. Akankah ku pilih bekerja? Atau kuliah?…Namun untuk bekerja sepertinya tidak mungkin. Sebab saat ini pula aku memiliki kewajiban untuk mengabdi selama satu tahun di pondok. Jadilah pilihanku tinggal di pondok, fokus membantu bapak ibu pengasuh atau mengabdi sambil kuliah.

Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Aku adalah anak ke empat dari lima bersaudara. Dari kakak-kakak ku, belum ada yang bisa meneruskan pendidikan hingga kuliah. Oleh karena itu, Kuliah menjadi salah satu harapanku untuk dapat mewujudkan cita-cita ku tersebut. Akan tetapi, banyak sekali pertimbangan yang harus kupikirkan ulang. Aku sadar, aku adalah seorang anak dari keluarga sederhana yang jauh dari kata merdeka. Bagaimana mau merdeka? Adik-adik ku masih ada dua. Mereka pun juga masih memiliki jalan panjang untuk meneruskan pendidikannya. Namun, keinginan untuk tetap bercita-cita menjadi seorang guru itu tetap terpatri kuat dalam diriku.

Masih terngiang jelas kata kakakku yang paling tua, berkata “Biar aku aja yang begini. Nggak bisa nerusin kuliah dan nikah muda. Seberapapun kalian, adik-adik ku butuh bantuan, bilang aja ke mbak. In sya Allah kalau aku bisa bantu, pasti tak tolongin kok. Aku pingin lihat adik-adik ku bisa belajar lebih tinggi daripada mbak mu ini. Bisa membanggakan orang tua juga tercapai cita-cita kalian dan dapat menjadi orang yang sukses kedepannya yaaaa…” Nasehatnya ketika menanyakan apa yang akan kulakukan setelah lulus dari SMA kelak.

Maka, bermodalkan keinginan kuat dan dorongan dari kakakku, aku pun mulai mencari informasi tentang dunia perkuliahan. Biaya menjadi salah satu penghalang bagiku untuk bisa memilih universitas seperti keinginanku. Oleh karena itu, aku pun berusaha mendaftarkan diri lewat jalur beasiswa. Ikut seleksi lewat jalur SNMPTN, nilai akademik dan non akademik juga SPAN-PTKIN telah kucoba. Namun tak ada satu namaku dalam daftar calon mahasiswa baru di universitas yang kupilih melalui jalur itu. Hingga salah seorang teman memberikan saran padaku untuk mengikuti seleksi beasiswa lewat kartu KIP-Kuliah. Aku pun tertarik dan mulai memfokuskan diri mempersiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan.

Setelah berminggu-minggu kemudian, akhirnya aku bisa lolos dan terdaftar menjadi mahasiswa baru dengan beasiswa tersebut. Bukan universitas ternama, bukan pula universitas idola. Namun aku yakin, disanalah awal perjuanganku menjadi salah satu tokoh berjasa dalam dunia pendidikan di negeri ini.***

(Isnawati)