“Hoammm…” Lenguh Nia sembari menggeliatkan tubuhnya. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Sehabis subuhan tadi Nia sudah tidak kuat untuk menahan kantuknya dan memutuskan kembali tidur hingga ia terbangunkan kembali oleh suara bising di kamarnya.”Weh ngga bisa, orang ini tadi udah aku duluan ya… kamu baru datang kok udah main rebut aja! Sini kasih ke aku!!!” Teriak Defi marah-marah”Ngga, ngga mau! Kan kemarin dah aku boxing duluan!!!” Teriak Asih tak kalah tinggi sembari mempertahankan apa yang digenggamnya. Astaghfirullah… Apa lagi ini? Pagi-pagi dah pada sarapan Toa apa ya… Berisik amat!!!’ batin Nia hingga akhirnya…..”Nggak percaya? tanya aja sama mbak Nia soalnya kemarin tuh aku udah bilang dulu buat makek ini!” Kata Asih tak mau kalah. ” ” Nah kan, sampek ke aku! Dah lah aku balik tidur aja” Nia sambil mencoba memejamkan matanya kembali.Tapi….”Mba… Mba Nia… Bangun mba, ni lho mba, Asih tuh ngrebut surinya mbaknya padahal baru aku pake mba.” Kata Defi sembari membangunkan Nia.’Oalah Gusti, do rebutan suriku tohh. Waduh gaswat iki bocil-bocil dah pada berani ngobrak-abrik barangku!’ batin Nia dan langsung membuka matanya.”Kalian tuh berisik tau nggak sih! Ganggu orang tidur! Apa? Heh dah pada berani ya ambil barang mba ngga bilang dulu! Bla..bla..bla……” Omel Nia Jadilah Defi dan Asih kena omel Nia lantaran mengganggu tidurnya serta mengambil barangnya tanpa sepengetahuan dan seizinnya. Begitulah pagi Nia yang selalu diwarnai keributan kecil diantara adik pondok yang tidur sekamar dengannya. Kamar Nia dihuni oleh lima orang. Tiga bocil dan duanya lagi ia sendiri bersama seorang temannya yang bertugas mengurus ketiga bocil-bocil tersebut. Tiada hari tanpa ada keributan diantara adik-adik pondoknya itu. Tiada hari pula Nia jalani harinya tanpa mengomel meski omelan pendek. Seperti keributan pagi itu yang akhirnya berujung keduanya tidak diperbolehkan Nia memakai surinya. Sudah berkali-kali Nia mengingatkan hingga mengancam mereka untuk tidak seenaknya meminjam atau mengambil barangnya. Namun berkali-kali pula mereka tidak mengindahkan dan bahkan melupakan apa yang ia katakan. Hingga terkadang ia frustasi oleh ulah nakal mereka. Padahal Nia sendiri merupakan mba-mba pondok yang paling galak dalam pandangan sebagian besar santri di pondoknya. Tapi tetap saja bocil-bocil itu masih berani sekali dua kali hingga berkali-kali mengabaikannya. Mungkin mereka sudah kebal akan kegarangan Nia. Dalam pandangan Nia sendiri, ia benar-benar membenci bocil-bocil yang selalu saja berbuat ulah nakal. Ia seolah ingin menyerah dan berhenti untuk mengurus, berurusan, bersentuhan, melihat, mendengar dan bahkan tidur bersama mereka. Ia ingin sekali bisa bebas dari bocil-bocil menyebalkan itu dan bisa melalui hari-harinya di pondok dengan tenang tanpa keributan ataupun keribetan. Ia ingin seperti santri lain yang dapat bercanda ria, tertawa-tawa dan melakukan aktivitas bersama tanpa harus memikirkan keadaan ketiga bocil itu. Akan tetapi Nia sadar, mengurus mereka merupakan amanah yang ibu pengasuh percayakan padanya. Seberapapun ia benci pada ulah menyebalkan mereka, Nia akan selalu mengingat bahwa itulah tugas mulia yang harus ia usahakan dalam pengabdiannya pada pondok. Ia pun juga menyadari bahwasannya apa yang ia lakukan tidak akan pernah cukup untuk membalas semua kebaikan, kemurahan dan rasa aman juga nyaman yang keluarga besar pondok berikan padanya.Ulah nakal mereka pun tak selamanya membuat Nia terbebani. Kadang Nia bisa terhibur dan melupakan segala kebencian dan keinginannya untuk menyerah, manakala mereka berulah lucu dan menggemaskan. Biarpun lebih banyak sikap menyebalkan mereka yang sering Nia hadapi, ia akan tetap mengingat posisinya dan mengusahakan yang terbaik demi kebaikan bagi dirinya dan seluruh keluarga besar pondok. Menjelang waktu dhuhur, ketika Nia hendak mengambil air wudhu. Datanglah seorang bocil yang bernama Hani. Ia memegangi lututnya sambil menangis begitu kencang. Nia pun menunda untuk berwudhu dan menunggu ia mendekat kearahnya.”Huhuhu…. Mba Nia, Hani tadi jatuh terus lututku jadi berdarah banyak. Mba Defi sama Asih malah ngetawain terus ngledekin aku ceroboh kayak kebo. Huhuhu…” Kata Hani menuju ke arahku.’Yahh beginilah… Saatnya aku tegakkan keadilan!!!’ batin Nia sok pahlawan”Defiiiii…. Asih…… Sini kalian!!! Kalian apain nih si Hani??? Oke sekarang kalian udah berani membuli adik kalian sendiri ya… Mulai hari ini juga, kalian nggak boleh bla…bla…bla..” kata Nia dengan lantang dan tegas menghukum sekaligus menasihati keduanya.
***
( Samaran )









