Senja di tanah Jawa,
Sabilulhuda, Yogyakarta: MAWAR EMAS DUA SETENGAH SUKU UNTUKMU KEKASIH – Di tepian sawah yang berkilau oleh sisa matahari, aku menulis namamu di udara — dengan ujung jemari yang gemetar oleh rindu.
Kau datang dari arah barat, mengenakan kebaya putih sederhana, rambutmu disanggul separuh, mata teduhmu menatap lembut namun menyimpan badai yang tak kukenal.
Di tanganmu ada segenggam bunga melati, dan di dadaku ada jantung yang tak lagi mengenal irama.
Kala itu aku tahu, cinta bukanlah hujan yang bisa dipanggil sesuka waktu, melainkan petir yang tiba-tiba menyambar, menyisakan bau tanah basah dan kenangan tak terduga.
Aku memanggilmu “Mawar”, karena engkaulah satu-satunya yang berani mekar di antara duri kehidupanku.
Dan aku menjanjikan satu hal—akan kuberikan padamu “Mawar Emas Dua Setengah Suku” sebagai lambang cinta yang tak tergadaikan.
Kita berdua berjalan di bawah payung yang kecil, langit meneteskan kenangan satu per satu, angin membelai rambutmu, dan aku berdoa dalam diam:
“Tuhan, biarlah dunia berhenti di sini.”
Kau tertawa kecil, “Dua setengah suku? Mengapa bukan tiga atau empat?” Aku menjawab dengan senyum setengah getir,
“Karena cinta yang sejati tak pernah genap, ia selalu menyisakan ruang bagi takdir untuk menulis akhir yang lain.”
Kau menatapku lama, seolah memahami rahasia yang tak pernah kuucapkan. Kita berjalan, meninggalkan jejak di tanah becek, dan aku menatap langkahmu —
Baca Juga:

MANAKALA BUNG KARNO MENUJU TUTUP PINTU NAFAS https://sabilulhuda.org/manakala-bung-karno-menuju-tutup-pintu-nafas/
setiap jejakmu adalah puisi, setiap diamnya adalah doa yang tak sempat kusebutkan.
Bertahun-tahun kemudian, aku menjadi lelaki yang berumah di kesunyian, bekerja pada mesin waktu yang bernama kenangan. Kau telah pindah ke kota seberang,
mengejar cita-cita, menjadi wanita karier yang tak lagi menoleh pada masa lalu. Namun aku masih menulis, tentangmu, tentang payung itu, tentang tawa yang kini hanya menggema di ruang pikiranku. Di meja kerjaku tergeletak selembar desain kecil, gambar setangkai mawar berlapis emas, di bawahnya tertulis:
“Dua Setengah Suku – Untuk Mawar yang Tak Pernah Layu.”
Setiap malam aku menabung, seperempat gaji, setengah harapan, kupesan kepada pengrajin emas di ujung kampung:
“Buatkanlah mawar ini, dari logam yang bisa menangis bila disentuh rindu.”
Ia mengangguk pelan, tak bertanya siapa yang akan menerima. Sebab setiap orang yang pernah mencintai,
pasti tahu: ada hadiah yang lebih berat dari sekadar benda, yakni janji yang tak bisa ditepati.
Aku menulis surat untukmu setiap akhir bulan, dengan tinta biru dan kertas beraroma melati. Surat pertama berisi rindu, surat kedua berisi doa, surat ketiga berisi pengakuan, dan surat keempat—tak pernah kukirim, karena di dalamnya ada luka yang tak sempat kusulam.
Aku menulis:
“Kekasih, tahukah engkau? Setiap kali matahari terbit, aku melihat wajahmu di cahaya pagi. Setiap kali hujan turun, aku mendengar suaramu di antara butiran air. Aku hidup di antara yang nyata dan yang seharusnya, di antara cinta dan kehilangan yang belum selesai.”
Surat-surat itu kini kusimpan di dalam kotak kayu jati, bersama sehelai selendangmu yang tertinggal. Aroma tubuhmu masih menempel di sana, meski waktu telah memudarkan segalanya, kecuali satu: namamu.
Butuh dua tahun untuk menyelesaikannya. Mawar itu berwarna keemasan, setiap kelopaknya diukir dengan ayat cinta, dan di tengahnya kutanamkan batu kecil berwarna merah darah. Aku memandangi hasilnya dengan mata basah:
“Ini bukan sekadar perhiasan,” kataku, “Ini adalah perjanjian antara aku dan kenangan.” Aku menyelipkan secarik kertas dibdalam kotak kecil:
“Untukmu, Mawar Emas Dua Setengah Suku. Dua untuk cinta, setengah untuk restu yang tak pernah tiba.”
Aku berencana mengantarkannya padamu. Kabar kudengar, kau akan kembali ke kota kelahiranku untuk menghadiri pesta pernikahan teman lama. Aku tahu, aku akan menemuimu di sana, di bawah langit yang dulu menyatukan kita dalam hujan.
Baca Juga:

SOEMPAH PEMOEDA 1928 – SUMPAH PEMUDA 2025: BUMI – LANGIT https://sabilulhuda.org/soempah-pemoeda-1928-sumpah-pemuda-2025-bumi-langit/
Hari itu, angin membawa aroma bunga sedap malam. Langit tampak bersih, tapi di dadaku, badai berputar tanpa arah. Aku datang dengan jas sederhana, membawa kotak kecil di saku kanan. Hatiku berdegup — bukan karena harapan, melainkan karena ketakutan:
Bagaimana jika semuanya sudah terlambat?
Dan benar.
Ketika musik pesta mulai berdentang, kulihat kau — berdiri di altar kecil, mengenakan kebaya putih seperti dulu, namun kini tanganmu digenggam lelaki lain.
Wajahmu bahagia, matamu bersinar dengan cahaya yang dulu pernah kumiliki, namun kini bukan untukku.
Aku menatap dari jauh, dunia seolah berhenti berputar, sementara detak jantungku pelan-pelan kehilangan nadanya. Kau sempat menatap ke arahku — sekilas, hanya sekilas. Ada sesuatu di sana: kejut, haru, dan maaf yang tak terucap. Lalu kau tersenyum, dan senyum itu adalah pisau paling lembut yang pernah menembus jantungku.
Setelah pesta usai, aku berdiri di bawah pohon flamboyan di depan gedung. Kukeluarkan kotak itu dari saku, kubuka perlahan — Mawar emas itu berkilau, seindah luka yang tak bisa disembuhkan. Aku ingin memberikannya padamu, namun langkahmu telah diapit pelukan suamimu, dan aku tak ingin menjadi bayang di antara kebahagiaan yang baru. Lalu aku berbisik pada malam:
“Tuhan, bila cinta ini salah, biarlah aku menanggungnya sendirian.” Kutelan air mata seperti racun yang manis, dan dengan tangan gemetar, aku menaruh kotak itu di bawah batu nisan ibuku.
“Bu, jagalah ini,” kataku pelan,
“karena mawar ini bukan untuk dunia yang bisa melihat, melainkan untuk dunia yang hanya bisa merasakan.”
Tahun-tahun berlalu seperti daun gugur di musim yang sama. Aku tetap menulis tentangmu — tentang payung, hujan, dan janji dua setengah suku itu. Kadang aku membayangkan: bagaimana jika dulu aku lebih berani? bagaimana jika aku sempat mengatakannya sebelum semuanya terlambat? Namun cinta sejati, barangkali bukan tentang memiliki, melainkan tentang mendoakan diam-diam, seumur hidup.
Di beranda rumahku, aku menatap langit sore yang berwarna emas, dan aku tahu — di suatu tempat, mungkin kau sedang tersenyum bahagia. Aku tersenyum pula, karena cinta ini, meski patah, telah memberiku alasan untuk tetap menjadi manusia.
“Mawar Emas Dua Setengah Suku itu, Kekasih, kini kupendam di dada waktu. Tak jadi kuberikan padamu, sebab cintaku telah menemukan jalannya sendiri — menjadi doa, menjadi udara, menjadi kisah yang abadi di antara puisi dan sunyi.”
Malam menua, lampu-lampu kota padam satu per satu, dan aku menulis lagi, sekadar memastikan bahwa namamu masih hidup di antara huruf-hurufku.
“Kekasih, bila kelak dunia bertanya mengapa aku tak pernah menikah, katakan padanya: karena aku pernah mencintai dengan terlalu dalam, hingga tak tersisa ruang bagi yang lain.”
Aku memejamkan mata, mendengar suara hujan pertama setelah sekian lama, dan di tengah rinainya, aku mendengar bisikan lembut — seperti suara masa lalu yang datang memeluk dari kejauhan:
“Terima kasih, telah mencintaiku dengan cara yang tak egois.” Air mata pun jatuh, tanpa sedih, tanpa gembira — hanya lega. Sebab aku tahu, bahwa Mawar Emas Dua Setengah Suku itu telah menemukan maknanya, bukan di tangan sang kekasih, melainkan di hati sang pencinta yang rela kehilangan demi cinta itu sendiri.
Baca Juga: Kemenag Raih Satu Emas dan Dua Perak Pornas Korpri 2025
Di Palembang Emas 1 Suku Emas, kalau tak salah: 6,7 gram. Tinggal dihitung saja sekiranya Mawar Emas itu berjumlah 2,5 suku.
Dari Timur Bekasi
Rabu, 22 Okt 2025
20.25













