Dalam kehidupan, kita terbina antara rasa pahit dan manisnya kehidupan. Mereka saling berkesinambungan, kadang pahit kadang kala juga manis. Jikalau selalu saja pahit, mungkin hati kita akan rentan dan mudah hancur. Dan jika saja senantiasa manis, mungkin hati kita akan bosan.
Rasa pahit, mengajarkan kita betapa manisnya kebahagiaan sekecil apapun itu. Mungkin jika terlalu dirasakan, pahitnya kehidupan akan sangat menyakitkan. Seperti jarak, yang membuat rindu hadir dengan sendirinya. Rindu yang mengekang jiwa, hingga hadir rasa sakit dan penyesalan didalamnya.
Jarak yang membentang antara Aku dan Engkau seakan sangat pahit. Terkadang semua kenangan tentang Aku dan Engkau terulang kembali dalam memori. Memperdalam rindu yang selama ini aku tutupi. Kengangan itu sangat indah, namun terasa sangat perih.
Namun tenanglah, aku yakin. Dibalik jarak yang membentang, dibalik rindu yang menggebu, dan dibalik airmata yang membungkam. Akan hadir rasa manis dari kepahitan itu. Semuanya akan segera berakhir. Tunggu aku ibu, percayalah padaku, jarak antara Aku dan Engkau akan segera terkikis. Dan berganti kebahagian yang sangat indah. **
(Puji)











