Mana Hati Nuranimu?

Mana hati nuranimu wahai para wakil rakyat? Kemana akal sehatmu? Kalian dipilih untuk menjadi wadah aspirasi para rakyat. Diberikan sebuah amanah yang cukup besar dari para rakyat untuk membantu mereka. Kemana sumpah dan janjimu dulu untuk membantu rakyat kecil yang haus akan keadilan dari pemerintah. Sekarang, dengan enaknya kalian mengesahkan undang-undang yang justru membuat rakyat semakin miskin. Akibat ulah kalian yang tidak bisa berpikir dengan otak, yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Setelah dulu mengemis-ngemis suara kepada rakyat, dan saat sudah mendapatkannya,bahkan lupa siapa yang membawa kalian sampai di kursi terhormat.

Kemana hati nuranimu? Ketika hanya bisa berbicara manis saja di depan rakyat tanpa bisa membuktikannya. Apakah tidak melihat saat mata kami begitu berbinar bahagia sekali, ketika kalian mengucapkan berbagai janji-janji manis yang kami kira sebagai jalan keluar dari masalah-masalah rakyat? Mungkin mata kalian tertutup oleh kekuasaan dan uang yang ingin kalian dapatkan. Begitu kejamnya, ketika para wakil rakyat yang berulah justru masyarakat yang menanggung akibatnya. selalu bertindak sesuai dengan kehendak kalian, tanpa memikirkan akibatnya.
Sekarang, dengarkanlah rintihan dari para rakyat kecil yang menginginkan sebuah keadilan. Mendambakan sebuah kesejahteraan, keamanan, dan pembuktian janji-janji dari kalian. Bagaimana negara ini akan maju,ketika para wakil rakyatnya tidak bisa mencontohkan hal-hal yang baik. Begitu mudahnya ketika kalian dalan sebuah masalah, ada Kekuasaan yang dalam sekejap akan menyelamatkan , dan uang yang membuat hal sulit menjadi mudah. Jangan egois dengan mempentingkan diri sendiri, karena ada rakyat-rakyat kecil yang tidak mempunyai kuasa diatas sana menunggu keadilan datang.

Bagian mana yang akan kami ceritakan kepada anak cucu, ketika semua hanya berisi pengkhianatan, keegoisan,dan ketidakadilan dari para wakil rakyat. Biarkan mereka akan memahami sendiri,begitu kejamnya negara ini yang pemerintahannya hanya mengikuti nafsu para tikus berdasi. Semoga saja, para generasi muda bangsa ini bisa berfikir lebih cerdas lagi untuk tidak mengikuti jejak para wakilnya terdahulu yang Hanya bisa berbicara manis saja tanpa membuktikannya.***

(Selin)