Makna “Matamu” Dalam Bahasa Jawa Dan Budaya Kesantunan – Ungkapan matamu mungkin terdengar sederhana. Tapi di telinga orang Jawa, kata ini mempunyai makna lebih dari hanya menyebut anggota tubuh. Ia bisa menjadi umpatan, bisa juga menjadi tanda emosi yang sudah memuncak.
Di balik itu semua, ada nilai budaya tentang bagaimana orang Jawa menjaga lisan dan mengelola perasaan.

Dari Mripat Ke Mata
Dalam bahasa Jawa, kata untuk mata adalah mripat. Bentuk dari kata ini dianggap netral dan sopan, sehingga bisa dipakai dalam percakapan sehari-hari. Baik ketika dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua.
Namun, ketika seseorang itu marah, kata yang keluar sering kali bukan mripat, melainkan mata. Sebuah ragam kasar yang jarang diucapkan dalam kondisi normal.
Fenomena ini serupa dengan kata sirah (kepala) dan bentuk kasarnya ndhas. Pilihan kata bukan hanya sebatas soal arti, tetapi juga emosi.
Saat suasana tenang, bahasa yang dipakai halus. Tapi ketika hati menjadi terbakar oleh amarah, maka bentuk kata kasar yang akan muncul sebagai pelampiasan.
Kenapa Dianggap Tabu?
Orang Jawa percaya, ajining diri saka lathi (harga diri seseorang tercermin dari lisannya). Ucapan bisa saja dapat meninggikan martabat, tetapi sebaliknya bisa saja dapat menjatuhkan.
Oleh karena itu, kata-kata kasar seperti matamu itu dianggap tabu jika di ucapkan secara sembarangan.
Menyebut bagian tubuh lawan bicara dengan nada marah, seolah oleh merendahkan keberadaannya. Kata ini pun akhirnya melekat sebagai umpatan, sesuatu yang keluar ketika logika tak lagi bekerja dan emosinya yang mengambil alih.
Baca Juga:

Filosofi Jawa “Monggo Pinarak” Dan Makna Tersirat Di Baliknya https://sabilulhuda.org/filosofi-jawa-monggo-pinarak-dan-makna-tersirat-di-baliknya/
Peran Intonasi
Menariknya, tidak semua kata Jawa memiliki padanan kasar. Kesantunan sering kali di tentukan oleh gaya intonasinya. Kata yang sama bisa terdengar lembut atau menyakitkan, tergantung bagaimana cara mengucapkannya.
Bayangkan dua kalimat berikut:
“Dhengkulmu kena apa, Le kok getihen?”
Nada perhatian, penuh rasa ingin tahu dan kepedulian.
“Kepenak dhengkulmu! Direwangi nyambut gawe rekasa ora koreken.”
Nada sindiran, kasar, dan jelas merendahkan.
Kedua kalimat tersebut sama-sama menyebut dhengkul (lutut), tapi karena gaya intonasinya membuat maknanya menjadi berbeda.
Inilah kehalusan budaya Jawa: bahasa bukan hanya soal kata, tapi juga soal rasa.
Menjaga Lisan, Menjaga Rasa
Di tengah keseharian, orang Jawa terbiasa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar. Umpatan seperti matamu biasanya hanya keluar di momen ekstrem, saat emosi benar-benar tak terbendung. Itu pun sering kali di sesali setelahnya.
Di balik larangan mengucapkan kata ini, tersimpan pesan penting: menjaga ucapan sama artinya dengan menjaga hubungan. Bagi orang Jawa, harmoni sosial lebih utama daripada melampiaskan ego pribadi.
Kearifan Yang Tetap Relevan
Meski lahir dari tradisi lama, pandangan ini tetap relevan hari ini. Di era digital, ketika komentar kasar mudah terucap lewat media sosial.
Kearifan Jawa mengingatkan kita: kata-kata adalah cermin diri. Satu kalimat bisa merusak perasaan orang lain, tapi juga bisa mempererat hubungan.
Matamu adalah contoh kecil, tapi sarat makna. Ia mengajarkan bahwa dalam budaya Jawa, kesantunan bukan hanya soal tata bahasa, melainkan juga bagaimana kita menata hati.
Baca Juga Artikel Berikut: Blangkon Jogja : Filosofi dan Makna yang Tersirat













