Sabilulhuda, Yogyakarta: Makna Filosofi Ojo Dumeh, Nasehat Jawa Kuno Tentang Rendah Hati & Kesadaran Diri – Kalau kita berbicara soal budaya Jawa, hampir di setiap katanya selalu ada makna yang tersembunyi di baliknya. Tidak hanya dalam tembang, pepatah, ataupun ungkapan, tetapi juga dalam tutur kata sehari-harinya. Salah satu yang paling sering kita dengar namun jarang sekali benar-benar kita renungkan adalah kata Ojo Dumeh.
Sekilas, kata ini mungkin terdengar seperti bahasa pada umumnya yang berarti “jangan mentang-mentang”. Tapi bagi orang Jawa, kat Ojo Dumeh bukan hanya sebatas larangan untuk bersikap sombong.
Tetapi merupakan sebuah falsafah hidup yang mengajarkan bagaimana manusia itu seharusnya bersikap terhadap dirinya sendiri, kepada orang lain, dan terhadap kehidupan yang terus berputar.
Filosofi Ojo Dumeh, Yaitu Menjadi Manusia Yang Eling Lan Waspodo
Dalam bahasa Jawa, kata “ojo” berarti jangan, dan “dumeh” berarti mentang-mentang. Kalau disatukan, maknanya menjadi “jangan mentang-mentang.” Tapi makna yang tersirat di dalam kata tersebut sebenarnya jauh lebih luas. Ojo dumeh adalah sikap batin seseorang, cara pandang, sekaligus juga sebagai pengendalian diri.
Baca Juga:
Orang Jawa meyakini bahwa hidup itu seperti roda, yaitu mereka kadang di atas, kadang juga di bawah. Maka ketika seseorang sedang berada “di atas”, entah itu karena kekuasaan, jabatan, harta, atau ilmu. Maka sebenarnya orang itu sedang diingatkan untuk tetap eling lan waspodo (selalu ingat dan waspada).
Mereka ingat bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan, dan waspada agar tidak tergelincir oleh rasa kesombongan.
Ungkapan ini seperti penyeimbang. Di saat manusia itu tergoda untuk merasa lebih hebat dari yang lain, maka ojo dumeh ini hadir sebagai pengingat. Bahwa tinggi rendahnya derajat seseorang itu tidak diukur dari kekayaannya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan kepada sesamanya.
Ketika Kata Ojo Dumeh Diterapkan Dalam Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ojo dumeh bisa kita lihat dari berbagai banyak hal. Misalnya, ketika kita sedang sukses dalam pekerjaan, jangan sampai kita melupakan teman lama yang dulu pernah membantunya.
Ketika memiliki ilmu yang lebih, maka jangan memandang rendah kepada mereka yang belum tahu. Atau ketika menjadi seorang pemimpin, jangan menggunakan kekuasaan itu untuk menindas bawahannya.
Orang Jawa percaya, bahwa kesombongan hanya akan memperpendek usia keberuntungan. Maka dari itu, pitutur ojo dumeh ini selalu disandingkan dengan ajaran tansah eling lan waspodo yaitu agar setiap keputusan yang mereka ambil itu selalu disertai dengan kesadaran dan juga kehati-hatian.
Bagi masyarakat Jawa, seperti kekuasaan, jabatan, bahkan kepintaran, bukanlah sebagai alat untuk meninggikan diri, tetapi menjadi kesempatan untuk menebar manfaat.
Pemimpin yang memegang teguh falsafah ojo dumeh ini biasanya mereka tidak hanya dihormati. Tetapi juga mereka dicintai karena ia menjadi sebagai tempat berlindung dan tempat berkeluh kesah bagi banyak orang.
Baca Juga:
Ojo Dumeh Merupakan Kerendahan Hati Dan Keseimbangan Hidup Seseorang
Makna ojo dumeh juga tidak berhenti pada larangan untuk sombong, tapi juga untuk mengajarkan keseimbangan antara hati dan juga pikiran. Hidup, bagi orang Jawa, adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan pilihan.
Maka setiap kali kita mengambil keputusan tentu juga membawa konsekuensinya, entah itu baik atau buruk. Maka sebelum bertindak, seseorang diajak untuk berpikir dengan jernih, kemudian menimbang sebab dan akibatnya.
Nilai ini juga mengajarkan kepada kita untuk tidak terburu-buru, tidak dikuasai oleh emosi, dan tidak merasa paling benar. Karena dengan diam dan kerendahan hati, sering kali justru muncul kebijaksanaan yang sejati.
Lebih dari itu, ojo dumeh juga menyiratkan pesan sosial. Bahwa kebahagiaan itu bukan hanya milik diri sendiri. Tetapi sesuatu yang akan terasa lebih lengkap jika bisa kita bagikan juga kepada orang lain. Kita bahagia bukan karena lebih tinggi dari yang lain, tapi karena bisa ikut membuat orang lain menjadi bahagia.
Ojo Dumeh Di Tengah Dunia Modern Seperti Sekarang Ini
Di era modern yang seperti sekarang ini, falsafah ojo dumeh terasa semakin penting. Media sosial sering kali membuat manusia itu lupa batas antara berbagi dan pamer, antara percaya diri dan sombong. Tanpa kita sadari, kita bisa terjatuh pada sikap dumeh (merasa lebih, dan meremehkan yang lain).
Maka, menjaga nilai ojo dumeh di masa sekarang ini, berarti juga kita menjaga hati agar tetap tenang di tengah hiruk pikuk dunia. Tidak mudah terprovokasi, tidak cepat menghakimi, dan tidak merasa paling benar. Sebab, yang sejati bukanlah mereka yang paling bersinar di luar, tapi yang paling bersih di dalam.
Baca Juga: Memaknai Filosofi Jawa dalam Menjalankan Peran ASN















