Makna Filosofi Jawa Dari Kata “Tumbas” – Di dalam keseharian masyarakat orang Jawa terutama, kata tumbas sering kali kita mendengar di pasar, warung, atau ketika ada antarwarga yang sedang ngobrol. Secara harfiah, kata tumbas ini berarti beli atau membeli.
Namun, kata tumbas ini ternyata mengandung nilai-nilai filosofi yang mencerminkan cara berpikir dan budaya masyarakat Jawa yang halus, sopan, serta saling menghormati kepada sesama.
Tingkatan Bahasa Dan Nilai Kesopanan
Bahasa Jawa juga terkenal kaya akan tata krama dan tingkatan dalam bahasa. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Jawa menggunakan tingkatan yang berbeda tergantung kepada siapa lawan bicaranya. Ada ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, hingga krama alus.
Kata tuku biasanya mereka gunakan dalam ngoko lugu. Yaitu bentuk bahasa yang paling sederhana yang biasanya mereka pakai dengan teman sebaya atau orang yang lebih muda.
Sementara itu, kata tumbas biasanya mereka menggunakan dalam ngoko alus atau krama lugu. Yang menandakan adanya rasa hormat namun tetap akrab.
Baca Juga:

Makna Filosofi Jawa “Ngalor Ngidul” Dan Nilai Kehidupan Di Baliknya https://sabilulhuda.org/makna-filosofi-jawa-ngalor-ngidul-dan-nilai-kehidupan-di-baliknya/
Adapun bentuk yang paling halus adalah mundhut, yang biasanya mereka gunakan dalam krama alus ketika berbicara kepada orang yang lebih tua atau yang mereka hormati.
Dari sini kita bisa melihat, bahwa kata tumbas itu sendiri bukan hanya sebagai kata bahwa kita akan beli. Tetapi juga sebagai simbol dari sikap kita yang halus dan kesadaran menghormati orang lain.
Orang Jawa tidak hanya berbicara untuk menyampaikan maksudnya saja, tetapi mereka juga bermaksud untuk menjaga perasaan orang lain dan menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial.
Tumbas Sebagai Cerminan Relasi Sosial
Dalam budaya Jawa, kegiatan membeli sesuatu (tumbas) bukan hanya soal transaksi ekonomi. Tetapi lebih dari itu, ada hubungan sosial yang terbangun di dalamnya. Saat seseorang itu tumbas di warung atau di pasar tradisional, biasanya akan terjadi interaksi antara penjual dan pembeli.
Ketika terjadi interaksi itu maka akan ada sapaan, senyuman, bahkan basa-basi kecil yang bisa mempererat hubungan mereka.
Inilah yang menjadi nilai luhur dari kata tumbas. Bahwa membeli bukan semata mata soal uang, tetapi soal guyub rukun (kebersamaan). Dalam pandangan masyarakat Jawa, setiap interaksi adalah kesempatan untuk menebar kebaikan dan menjaga hubungan sosial.

Makna Hari Kebudayaan Nasional Dan Kesadaran Kolektif Bangsa https://sabilulhuda.org/makna-hari-kebudayaan-nasional-dan-kesadaran-kolektif-bangsa/
Makna Filosofis Dari Kata Tumbas Sebagai Bentuk Rasa Syukur
Secara filosofi, kata tumbas juga dapat kita maknai sebagai bentuk rasa syukur dan usaha. Ketika seseorang itu mampu tumbas sesuatu, itu berarti ia telah bekerja, berusaha, dan di beri rezeki oleh Tuhan. Dengan membeli dari pedagang kecil, seseorang juga turut berbagi rezeki dan juga menumbuhkan ekonomi di sekitarnya.
Dalam konteks ini, tumbas bukan hanya sebagai tindakan ekonomi, melainkan juga sebagai bentuk sedekah sosial. Yang mana pembeli dan penjual saling menghidupi. Itulah sebabnya masyarakat Jawa sangat menghargai proses jual beli yang mereka lakukan dengan rasa, bukan hanya sebatas angka.
Jadi, ketika orang Jawa berkata “Aku arep tumbas roti”, sesungguhnya bukan hanya berarti “Saya mau beli roti,” tapi juga membawa pesan bahwa ketika seseorang itu tumbas, disitu ada niat baik, penghormatan, dan rasa syukur atas rezeki yang ia terima.
Baca Juga Artikel Berikut: Blangkon Jogja : Filosofi dan Makna yang Tersirat













