Solidaritas Ala Santri Sabilulhuda.

         Assalamualaikum, kali ini saya akan membahas tentang solidaritas anak pondok sabilul huda. Jika membahas tentang solidaritas maka tentunya tidak lepas dari yang namanya chemistry, namun chemistry disini bukanlah tentang ilmu kimia. Chemistry bisa diartikan sebagai hubungan antar perorangan yang hanya bisa bisa dipahami oleh orang itu dan temannya, jadi antara satu orang dan orang itu sudah paham kebiasaan dan tingkah lakunya sehingga bisa memahami satu sama lain dengan baik.

         Solidaritas ini didasari oleh kesetaraan sebagai santri dan kesetaraan keadaan yang ada. Solidaritas kami bisa dilihat ketika saat ada gotong royong pembangunan pondok, saat itu kami semua langsung terjun ke lapangan untuk melakukannya bersama – sama. Lelah, pegal, panas semua bergabung menjadi satu tanpa kecuali, tetapi disaat kami lelah dan letih ada – ada saja yang bisa mencairkan suasana dan membuatnya menjadi tidak terasa. Lawakan, tawa, canda menemani kita disaat itu sehingga beban seberat apapun seperti tak berpengaruh bagi kita karena disamping lawakan itu kami bekerja dengan penuh rasa ikhlas dan senang.

Mungkin sebagian orang diluar sana melihat kami atau disebut anak kecil bekerja dengan keras menganggapnya hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang seusia kami, tetapi bagi kami kesan mereka, ejekan mereka, omongan mereka tidak bisa sampai kepada kami karena mungkin ini bisa menjadi tempat untuk mencari keberkahan selama berada di pondok ini sehingga tak berpengaruh sedikitpun. Solidaritas disaat kami bekerja ini sebagai jam terbang atau tempaan yang akan menguatkan dan bekal di masa depan nanti. Itu jenis solidaritas dalam hal pekerjaan

             Macam solidaritas lainnya bisa dilihat disaat ada masalah percintaan yang ada di pondok ini. Wajar saja karena usia remaja berhubungan dengan emosional seseorang dan di usia ini seseorang mulai menyukai lawan jenisnya. Ketika seseorang mulai menyukai lawan jenisnya maka ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bertemu atau mendekati orang yang dia suka, entah itu meminta nomer WAnya, entah mengirimkan surat untuknya, atau bertemu dengannya. Akan tetapi yang namanya pondok pasti jauh dari hal seperti itu dan dilarang untuk melakukanya, Bahkan bisa sampai dihukum karena melakukannya.               Tetapi itu tidak berpengaruh sama sekali ketika suka cinta menyelip di hati seseorang, makanya ada istilah “Cinta itu buta” “Cinta itu tuli”. Tapi jangan salah sangka dulu, justru karena Cinta seorang santri pun bisa memperlihatkan solidaritasnya. Contohnya ketika ada seorang santri laki – laki yang suka pada santri perempuan pastinya dia akan berusaha untuk mendekatinya meski harus sembunyi – sembunyi dan mencuri – curi, makanya dia butuh teman untuk membantu mendekati santri perempuan itu tanpa diketahui oleh pengasuh. Tapi tidak

semulus itu rencana yang dijalankan, terkadang ada juga yang memanfaatkan momen itu untuk mendekatinya juga sehingga terjadilah teman makan teman.

            Solidaritas terakhir yang ada di pondok adalah solidaritas ketika melakukan kegiatan pribadi contohnya adalah meminta tetring teman lainnya saat kuota internet habis. Sebagai seorang santri masalah kehabisan keperluan pribadi sudah sangat wajar dan sering terjadi bahkan dalam urusan HP sekaligus, yang punya memberi yang kekurangan sudah biasa sekali termasuk memberi sabun cuci, meminjamkan HP, meminjamkan pakaian, dan lain – lain.

Contoh lain lagi adalah  makan bersama – sama, ini sudah sangat langka dan jarang di jumpai dimanapun, namun untuk seorang santri ini wajib dan harus karena kita hidup bersama – sama. Makanpun tidak harus menggunakan piring, alat apapun bisa dijadikan tempat makan seperti wajan, plastik, kresek, daun pisang, baskom, dan masih banyak lagi

Banyak sekali solidaritas di pondok yang unik dan menarik sehingga tak cukup untuk membahasnya lebih dalam, ketika sudah lulus atau keluar pondok semua itu hanya akan menjadi sebuah kenangan indah yang masuk terbesit dihati dan tidak akan terlupakan hingga tua nanti.***

(NADZIF)