Berita  

Leptospirosis Di Jogja Makin Mengganas! 7 Warga Meninggal Dunia

Leptospirosis Di Jogja Makin Mengganas! 7 Warga Meninggal Dunia
Leptospirosis Di Jogja Makin Mengganas! 7 Warga Meninggal Dunia
Leptospirosis Di Jogja Makin Mengganas! 7 Warga Meninggal Dunia
Leptospirosis Di Jogja Makin Mengganas! 7 Warga Meninggal Dunia

Leptospirosis di Kota Jogja Makin Mengganas! 7 Warga Meninggal Dunia – Kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta semakin mengkhawatirkan. Hingga akhir Juli 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja telah mencatat tujuh kasus kematian akibat penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus ini.

Angka tersebut menjadi alarm yang serius bagi pemerintah dan masyarakat, mengingat jumlah kasus penularan juga terus meningkat dari bulan ke bulan.

Sebaran Kasus Leptospirosis Di Enam Kemantren

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Kota Jogja, Endang Sri Rahayu, menjelaskan bahwa tujuh kasus kematian itu ditemukan di enam kemantren. Rinciannya adalah:

Umbulharjo                        : 1 kasus (terbaru)

Dempelan                          : 2 kasus

Wirobrajan                         : 1 kasus

Pakualaman                       : 1 kasus

Gedongtengen                 : 1 kasus

Jetis                                    : 1 kasus

Menurut Endang, kasus tersebut tercatat sepanjang periode mulai Januari hingga Juni 2025. Selain kematian, terdapat juga jumlah penderita leptospirosis di Kota Jogja juga meningkat. Hingga Juli saja, terdapat 21 kasus penularan, naik dua kasus di bandingkan bulan sebelumnya.

“Untuk kasus memang mengalami kenaikan. Per minggu kemarin sudah tercatat 21 kasus,” ujarnya, Senin (28/7/2025).

Baca Juga:

Potensi Status Kejadian Luar Biasa (KLB)

Menanggapi situasi ini, Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menyatakan akan segera menggelar rapat koordinasi bersama Dinkes. Salah satu agenda penting yang di bahas adalah kemungkinan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosis di Kota Jogja.

Meski begitu, Hasto mengaku optimistis penyebaran leptospirosis bisa di tekan. Terutama karena saat ini wilayah Yogyakarta mulai memasuki musim kemarau. Menurutnya, musim kering lebih mendukung upaya pencegahan melalui kegiatan bersih-bersih lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus.

“Kalau musim hujan agak berat karena banyak yang becek-becek. Saat kemarau, lebih mudah untuk membersihkan lingkungan,” ujarnya.

Fokus Pada Pencegahan Di Wilayah Rawan

Hasto juga menyoroti bahwa leptospirosis ini kerap di temukan di wilayah permukiman yang padat dan kumuh, khususnya di bantaran sungai. Karena itu, pihaknya akan melakukan pemetaan wilayah rawan agar upaya pencegahan lebih tepat sasaran.

Selain itu, pemerintah berencana mempergencar sosialisasi terkait gejala awal leptospirosis. Sebab, banyak kasus kematian terjadi karena masyarakat terlambat mengenali tanda-tanda awal penyakit ini.

“Masalah obat sebenarnya sudah cukup tersedia. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat bisa mengenali gejala dininya,” tambahnya.

Pentingnya Kesadaran Masyarakat Setempat

Leptospirosis adalah penyakit menular yang di sebabkan bakteri Leptospira, dan umumnya menyebar melalui air atau tanah yang tercemar kencing tikus. Gejalanya mirip flu, seperti demam, sakit kepala, hingga nyeri otot, sehingga sering terlambat terdeteksi.

Untuk itu, masyarakat di himbau lebih waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan. Menghindari kontak dengan air banjir atau genangan. Serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mencurigakan.

Baca Juga: Waspadai Musim Hujan dan Banjir!!! Leptospirosis Diam-diam Mematikan