Oleh: Ki Pekathik
Sabilulhuda, Yogyakarta: Lelakon Lan Penandhang Jalan Pasrah Dalam Keadilan Semesta – Dalam kehidupan orang Jawa, ungkapan bukan sekadar rangkaian kata — ia adalah warisan kebijaksanaan yang lahir dari perenungan panjang. Salah satu pepatah yang sarat makna adalah:
“Lelakon adile yo mung kudu dilakoni, penandhang adile yo mung kudu disandhang.”
Sekilas, ungkapan ini terdengar sederhana. Namun bila direnungkan, ia memuat inti ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya memaknai hidup, takdir, dan penderitaan.
Di dalamnya ada nilai pasrah, ikhlas, dan kesadaran akan keadilan ilahi yang melampaui ukuran manusia. Mari kita uraikan maknanya satu demi satu, dari harfiah hingga makna batin terdalam.
Makna Harfiah Lelakon dan Penandhang
Ungkapan ini terdiri dari dua bagian yang saling melengkapi.
Pertama, “Lelakon adile yo mung kudu dilakoni”
Yang secara harfiah berarti segala peristiwa atau nasib yang menjadi jalan hidup seseorang, memiliki keadilannya sendiri, dan manusia hanya perlu menjalaninya dengan kesadaran dan keikhlasan.
Kata lelakon dalam bahasa Jawa berasal dari akar kata lakon — yang berarti peran, kisah, atau perjalanan. Dalam dunia wayang, “lakon” adalah naskah yang menentukan arah cerita, siapa tokoh utamanya, apa konfliknya, dan bagaimana akhirnya. Maka, dalam kehidupan pun, setiap manusia sedang memainkan “lakon”-nya sendiri di panggung semesta.
Baca Juga:

Makna Filosofi Jawa Dari Kata “Tumbas” https://sabilulhuda.org/makna-filosofi-jawa-dari-kata-tumbas/
Keadilan (adilé) di sini bukan berarti semua orang mendapat nasib yang sama, tetapi bahwa setiap nasib ditempatkan pada tempatnya yang paling sesuai dengan pelajaran hidup yang harus dijalani.
Kedua, “Penandhang adile yo mung kudu disandhang.”
Artinya, segala beban, penderitaan, atau kewajiban hidup juga memiliki keadilannya sendiri. Ia harus disandhang — dikenakan, diterima, seperti seseorang mengenakan pakaian yang pas dengan tubuhnya. Penandhang berarti sesuatu yang ditanggung, baik berupa kesusahan, tanggung jawab, maupun ujian batin.
Dalam pepatah ini, orang diajak untuk tidak menolak penderitaan, karena setiap beban telah “diukur” oleh Gusti sesuai kemampuan pemikulnya.
Makna Filosofis Keadilan Kosmis dan Laku Pasrah
Dari sisi filsafat hidup Jawa, pepatah ini mengandung ajaran yang sangat dalam tentang laku pasrah dan kebijaksanaan menerima hidup.
Hidup tidak diminta untuk selalu indah, tetapi untuk dijalani dengan sadar. Orang Jawa percaya bahwa segala peristiwa dalam hidup baik suka maupun duka memiliki keadilannya sendiri.
Keadilan di sini bukan sekadar hukum duniawi yang bisa diukur oleh logika, melainkan keadilan kosmis keseimbangan alam semesta yang ditetapkan oleh Gusti Kang Murbeng Dumadi.
“Saben lelakon iku wis ana tatananing, ora ono sing luput saka paugeran.”
Artinya, setiap kejadian sudah punya aturannya sendiri; tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Maka tugas manusia bukanlah menentang, menyalahkan, atau menuntut keadaan, tetapi melakoni menjalaninya dengan kesadaran, kesabaran, dan kebeningan hati.
Ketika seseorang mampu melakoni lelakon-nya tanpa banyak keluh, ia sedang meniti jalan menuju kebijaksanaan sejati.
Karena sejatinya, penderitaan yang diterima dengan ikhlas bukan lagi beban, melainkan pakaian jiwa yang membuat manusia lebih lembut, lebih dalam, dan lebih eling marang asal-usulnya.
Dalam pepatah lain disebutkan:
“Sing ora nrimo ora bakal nemu rahayu.”
(Barang siapa tidak menerima, tak akan menemukan ketenteraman.)
Baca Juga:
Dengan menerima setiap peristiwa sebagai bagian dari tatanan adil Tuhan, hati menjadi lapang. Orang tidak lagi sibuk membandingkan nasib atau mempersoalkan keadilan di luar dirinya, karena ia tahu, keadilan sejati tidak selalu tampak di mata, tetapi pasti seimbang di mata Gusti.
Makna Batin (Spiritual) Laku Nrima, Sabar, lan Eling
Dalam pandangan kejawen yang beririsan dengan tasawuf Islam, pepatah ini menuntun manusia untuk nrima, sabar, lan eling.
“Urip iku mung titipan lan ujian, saben lelakon wis ana adile saka Gusti.”
Artinya, hidup hanyalah titipan dan ujian. Semua peristiwa, sekecil apa pun, sudah diatur dalam keadilan-Nya.
Yang tampak tidak adil di mata manusia, bisa jadi adalah cara Tuhan menyeimbangkan hidup agar manusia tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Sikap nerima ing pandum (menerima bagian hidup tanpa iri) adalah wujud kesadaran bahwa setiap orang punya “lakon” sendiri-sendiri.
Sikap sabar nglakoni (tabah menjalani) adalah wujud kepercayaan bahwa di balik setiap penderitaan, ada cahaya hikmah.
Dan sikap eling marang Gusti (selalu ingat Tuhan) adalah pondasi batin agar hati tidak goyah saat badai kehidupan datang.
Dalam tasawuf, jalan ini disebut ridha — menerima segala ketentuan Allah dengan hati yang tenang. Seperti doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا مَرْضِيًّا
Allāhummaj‘alnī rāḍiyan marḍiyyan
(Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ridha dan Engkau ridhoi.)
Ridha bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru, ia adalah kesadaran tertinggi bahwa setiap usaha dan hasil hanyalah bagian dari kehendak-Nya.
Maka, orang yang ridha tidak malas, tapi tenang; tidak menyerah, tapi ikhlas.
Dalam keheningan batin, orang Jawa sering berkata:
“Sing ora ngelawan urip, malah bakal dimulyakaké urip.”
Yang tidak melawan hidup, justru akan dimuliakan oleh hidup.
Simbolisme “Lelakon” dan “Sandhangan”
Dua kata kunci dalam pepatah ini lelakon dan penandhang memiliki makna simbolik yang indah.
Lelakon adalah perjalanan, drama kehidupan yang sedang dimainkan.
Ia melambangkan gerak luar manusia interaksi, peristiwa, perubahan, ujian, dan keberhasilan.
Penandhang adalah apa yang kita tanggung di dalam beban jiwa, tanggung jawab, rasa, dan pengalaman batin.
Ia melambangkan gerak dalam manusia pergulatan hati yang membentuk kepribadian sejati.
Dan dua tindakan yang menyertainya dilakoni (dijalani) dan disandhang (dikenakan) menandakan bahwa manusia harus menyatu dengan kehidupannya sendiri, tidak menolak, tidak pura-pura, tapi hidup sepenuhnya di dalam apa yang sudah digariskan.
Dengan melakoni dan menyandhang dengan ikhlas, manusia sedang berdamai dengan dirinya sendiri. Dari situ lahir kebijaksanaan yang sejati dari dalamnya penerimaan bukan dari banyaknya ilmu.
Nilai Etis dan Sosial
Pepatah ini juga mengandung pesan sosial yang dalam. Orang yang mampu nerima lan sabar nglakoni tidak akan mudah iri pada nasib orang lain, tidak mudah menyalahkan keadaan, dan tidak pula sombong ketika diberi kelimpahan.
Sikap ini menciptakan masyarakat yang guyub, tenteram, dan penuh welas asih.
Dalam dunia yang kini serba cepat dan kompetitif, pepatah ini seakan menjadi oase — mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari kemenangan atas orang lain, melainkan hasil dari keselarasan dengan diri sendiri dan dengan kehendak Gusti.
Keseimbangan Hidup dan Kebijaksanaan Pasrah
Pepatah “Lelakon adile yo mung kudu dilakoni, penandhang adile yo mung kudu disandhang” mengajarkan bahwa setiap takdir dan setiap beban hidup memiliki keadilannya sendiri.
Manusia tidak perlu menentang atau menolak, cukup menjalani dan menerima dengan kesadaran, karena di dalam penerimaan itu tersimpan kekuatan dan kedamaian sejati.
Keadilan Tuhan tidak selalu tampak di depan mata, tetapi selalu hadir dalam keseimbangan semesta.
Maka, siapa yang bisa melakoni hidup dengan sabar, menyandhang derita dengan ikhlas, dan tetap eling marang Gusti, ia akan menemukan rahayu — ketenteraman batin yang tidak bisa dibeli, tidak bisa direbut, hanya bisa dirasakan oleh hati yang pasrah dan bersih.
“Urip iku dudu sapa sing menang, nanging sapa sing meneng lan eling.”
(Hidup bukan tentang siapa yang menang, tapi siapa yang tenang dan ingat pada Tuhan.)
Baca Juga Artikel Berikut: Blangkon Jogja : Filosofi dan Makna yang Tersirat















