Legenda Asal Usul Kediri: Cerita Rakyat Dari Jawa Timur – Cerita rakyat dari Jawa Timur selalu menyimpan kisah menarik yang sarat makna dan nilai sejarah. Salah satunya adalah kisah asal usul Kediri, sebuah daerah yang kini menjadi salah satu kota penting di Jawa Timur.
Dalam legenda yang berkembang di masyarakat, Kediri lahir dari perjalanan panjang sejarah Prabu Airlangga, seorang raja besar yang bijaksana dan arif dalam memimpin Kerajaan Medang Kahuripan.

Prabu Airlangga, Raja Medang Kahuripan
Alkisah, pada zaman dahulu berdiri sebuah kerajaan besar di Jawa Timur bernama Medang Kahuripan. Kerajaan ini di pimpin oleh seorang raja bernama Prabu Airlangga, putra dari pasangan Gunapriyadharmapatni dan Udayana dari Bali.
Prabu Airlangga berhasil naik takhta di Medang Kahuripan karena menikahi putri dari kerajaan tersebut. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan Medang berkembang pesat dan dikenal sebagai salah satu kerajaan besar di Jawa Timur kala itu.
Namun, seiring bertambahnya usia, Prabu Airlangga mulai merasa ingin melepaskan diri dari urusan duniawi dan memilih jalan sebagai seorang pertapa. Sebelum itu, ia harus menyerahkan tahtanya kepada penerus yang layak.
Putri Dyah Sanggramawijaya Menolak Takhta
Prabu Airlangga memiliki seorang putri cantik dari permaisuri bernama Dyah Sanggramawijaya. Sang Prabu berharap putrinya itu dapat menggantikan dirinya sebagai ratu penerus kerajaan.
Namun, ternyata harapan itu tidak sesuai kenyataan. Sang putri justru menolak keinginan ayahandanya. Ia tidak tertarik untuk memimpin kerajaan, melainkan memilih jalan hidup sebagai seorang pertapa.
Dengan penuh hormat, Dyah Sanggramawijaya menyampaikan kepada ayahnya bahwa dirinya ingin mengabdikan hidup untuk bersemedi.
Prabu Airlangga pun akhirnya merestui pilihan putrinya. Sang putri kemudian pergi ke sebuah gua bernama Gua Selomangkleng dan berganti nama menjadi Dewi Kilisuci. Sejak saat itu, takhta kerajaan tidak lagi bisa diwariskan kepada putri semata wayangnya.
Baca Juga:

Legenda Umbul Nogo: Kisah Mistis Dari Jawa Tengah https://sabilulhuda.org/legenda-umbul-nogo-kisah-mistis-dari-jawa-tengah/
Kebimbangan Prabu Airlangga
Karena sang putri menolak, Prabu Airlangga terpaksa menyerahkan takhta kepada putra dari salah satu selirnya. Namun, hal ini tidak mudah karena sang selir memiliki dua orang putra, yakni Raden Jayengrana (juga di kenal sebagai Mapanji Garasakan) dan Raden Jayawarsa (Sri Samarawijaya).
Prabu Airlangga bingung, sebab jika ia memberikan takhta hanya kepada salah satu putra, besar kemungkinan akan menimbulkan kecemburuan dan bahkan peperangan di antara keduanya. Ia pun memikirkan cara terbaik agar kedua putranya bisa menerima dengan adil, namun tetap buntu.
Hingga akhirnya, sang prabu teringat pada Mpu Bharada, seorang pertapa yang terkenal sakti dan bijaksana. Ia pun memanggil Mpu Bharada untuk membantu menemukan jalan keluar dari masalah perebutan tahta ini.
Kesaktian Mpu Bharada Dan Sungai Brantas
Pada awalnya, Prabu Airlangga meminta Mpu Bharada untuk mencari tahu apakah masih ada takhta kosong di kerajaan leluhur di Bali. Namun setelah di telusuri, ternyata kerajaan di Bali sudah di pimpin oleh raja lain. Maka, jalan satu-satunya adalah membagi kerajaan Medang Kahuripan menjadi dua.
Mpu Bharada setuju dengan usulan tersebut. Dengan kesaktiannya, ia mengambil kendi sakti yang diisi dengan tujuh sumber mata air. Keesokan harinya, Mpu Bharada terbang sambil membawa kendi itu. Sesampainya di tengah wilayah kerajaan Medang, ia menumpahkan air kendi tersebut.
Ajaibnya, air itu berubah menjadi aliran sungai yang deras. Aliran tersebut kemudian membentuk sebuah sungai besar yang hingga kini di kenal dengan nama Sungai Brantas. Sungai ini menjadi batas alami yang membagi Kerajaan Medang menjadi dua wilayah yang sama besar.
Lahirnya Kerajaan Jenggala Dan Panjalu
Setelah pembagian wilayah selesai, Prabu Airlangga pun menyerahkan takhta kepada kedua putranya.
Wilayah timur Sungai Brantas di serahkan kepada Raden Jayengrana dan di namakan Kerajaan Jenggala.
Sementara itu, wilayah barat Sungai Brantas di berikan kepada Raden Jayawarsa dan di beri nama Kerajaan Panjalu.
Kerajaan Panjalu inilah yang kemudian berkembang pesat dan berganti nama menjadi Kadiri, yang sekarang di kenal sebagai Kediri. Sejak saat itulah, Kediri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban penting di Jawa Timur.
Prabu Airlangga Menjadi Pertapa
Setelah urusan kerajaan selesai, Prabu Airlangga dengan tenang melepaskan jabatannya sebagai raja. Ia memilih hidup sebagai pertapa di sebuah tempat bernama Pucangan dan mengganti nama menjadi Maharesi Gentayu.
Kebijaksanaan dan pengorbanannya untuk membagi kerajaan secara adil di kenang hingga kini. Dari kisah inilah lahir cerita rakyat tentang asal usul Kediri yang penuh dengan nilai sejarah, kebijaksanaan, dan keadilan.
Cerita rakyat asal usul Kediri bukan hanya sebuah legenda, melainkan juga gambaran betapa pentingnya keadilan dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan.
Dari pembagian kerajaan oleh Prabu Airlangga, lahirlah dua kerajaan besar, Jenggala dan Panjalu. Panjalu kemudian berkembang menjadi Kadiri atau Kediri yang kita kenal sekarang.
Kisah ini menjadi salah satu bukti bahwa cerita rakyat Jawa Timur sarat akan nilai budaya, sejarah, dan ajaran moral yang masih relevan hingga hari ini.
Baca Juga: Dongeng Anak ala Rasulullah













