Kyai As’ad Syamsul Arifin

Senin, 25 Oktober 2010 15:22 administrator E-mail Cetak PDF
Terbayang sosok tokoh seorang kyai yang mbapaki, akrab dan suka humor.

Maka begitulah, dengan langkah yang mantab sayapun sowan. Saya diterima di ndalem (rumah). Waktu itu sudah lewat tengah malam. Beliau seperti sudah menunggu. Di tengah-tengah ruangan yang pengap dan ‘amburadul’ bertolak belakang dengan ruangan santrinya yang bersih dan rapi, beliau duduk di kursinya yang antik dan ‘pakaian kebesarannya’ yang khas : sarung kotak-kotak putih, baju potong gulon putih, dan peci haji mleyat-mleyut (Saya sempat melirik dipan kecil beralaskan tikar pandan, di sana-sini penuh bergelantungan dan berserakan pakaian-pakaian beliau yang campur acak dengan pakaian baru yang warna-warni, bahkan saya melihat untaian jagung kering bergelantungan di sana. Ah, disitulah beliau sare (tidur).
Saya jadi kecil dan kecut (padahal saya sowan lengkap pakai sorban yaman segala) yang berhadapan berduaan dengan kyai kaya di istananya yang kumuh ini.
Dan saya lebih mati kutu lagi, ketika ternyata beliau tidak menghadapi saya ‘secara langsung’. Beliau menggunakan bahasa asing (bahasa Mbok Bariyah – Madura) dan menyuruh Pak Koen menjadi penerjemahnya. Saya betul-betul merasa seperti duta negara gurem menghadap presiden negara adikuasa di antah berantah.

…………………

Benar saja setelah mendengar penjelasan dan keberatan beliau, ternyata – paling tidak menurut pribadi saya – masalah yang menjadi ‘ganjalan’ beliau tidak begitu prinsipil. Hanya soal redaksional. Seandainya waktu itu saya langsung menerima apa yang beliau kehendaki, saya kira ya bisa saja. Tetapi karena gengsi sebagai delegasi dan terutama karena saya ingin berlama-lama menikmati suasana kedekatan yang langka di depan kyai ‘bersejarah’ ini, sayapun agak ngeyel juga.
Namun ketika beliau akhirnya ‘naik pitam’ langsung dengan Bahasa Indonesia ‘nyemprot’ saya dengan suara keras, koplok juga dengkul saya dibuatnya. “ Sudah terserah Sampeanlah! Tetapi ingat Sampean dan kawan-kawan Sampeanlah yang bertanggung jawab terhadap umat dan Yang di sana nanti!” Berkata begitu beliau sambil menunjuk langit-langit ‘istananya’ yang rasa-rasanya hendak meruntuhi diri saya saat itu. Tapi entah ‘Jin Gengsi’ mana yang merasuki saya saat itu, saya masih juga matur. “ Kalau mengikuti kata Kyai, apa Kyai akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah dan umat ?” “Tentu!” Sergah beliau, “ Saya akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah dan umat.”
……………….
Asembagus, Pertengahan Rabiul Awal 1405 H
Di sela-sela pesta NU paling akbar yang pernah saya saksikan, Muktamar NU XXVII 14 – 18 Rabiul Awal 1405, saya sering ikut atau diajak nimbrung di majlis masyayikh (saya sendiri yang menamakan begitu, karena banyak kyai sepuh yang duduk-duduk kongkow) di halaman depan ndalem. Biasa duduk-duduk di situ, selain Kyai As’ad sendiri, Almaghfurlah KH Mahrus Ali, dan Almaghfurlah KH Ali Maksum. Juga kyai-kyai yang lebih muda hanya ikut duduk dan menjadi ‘pemerhati’ saja ,kecuali jika acaranya serius dan secara syarih diajak bicara. Pada waktu acara ‘guyon’ paling-paling yang muda cuma urun ketawa. Di saat-saat seperti itu saya hampir tidak bisa membayangkan Kyai As’ad yang angker dan kering-emosi, seperti yang pernah saya sowani setahun yang lalu (cerita di paragraph sebelumnya). Beliau membuat joke-joke yang lucu dan segar. Tertawa lepas hingga mengeluarkan air mata.
……………..
Asembagus, 1 Sya’ban 1410 H
… Sampai acara hiburan. Grup hadrah dari Madura tampil dengan ‘kostum’ jas hitam, peci hitam, dan sarung bercorak terang menyala. Sangat lucu. Mereka mendendangkan kasidah pujian kepada Nabi Muhammad SAW, yang mereka padukan dengan gerakan-gerakan penghormatan bersahaja. Saya mbatin “Wah ini ditampilkan di TIM pun, saya kira tidak malu-maluin.”
Saya benar-benar menikmati sajian tradisional pesantren ini. Tapi hanya sebentar. Saya mendengar isak tangis. Saya toleh, ternyata Kyai As’ad terguguk-guguk menangis, sambil berulang-ulang melontarkan semacam takbir atau salam kepada junjungannya, junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Seolah-olah sang nabi memang ikut rawuh di tengah-tengah majelis. Air mata beliau berlelehan, meskipun sesekali sudah diusap dengan sapu tangan beliau yang lusuh. Saya melihat suatu kerinduan aneh oleh sesuatu yang melampaui penghayatan. (Pernah juga di TIM saya melihat penyair kenamaan, Taufiq Ismail, putera Kyai A Ghafar Ismail, menangis saat mendengar Syubah Asa membaca terjemahan Al Barzanji, namun tidak sepilu Kyai As’ad saat itu)

(Tulisan Gus Mus (Kyai Haji A Mustafa Bisri) “Sekelumit Kenangan Bersama Kyai As’ad” yang dimuat dalam Warta, No 31/TH VI/September 1990/ Shafar 1411, hal 1 – 11. Meskipun Gus Mus bukan terhitung orang dekat beliau, tetapi tulisannya mampu memotret sosok Kyai As’ad dari berbagai sisi, kezuhudannya, ketegasannya, keakrabannya dan ketundukan dan ketaatannya kepada Allah.)
………………………..

Meskipun Sabilul Huda bukanlah organisasi yang menginduk di NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis, Tarbiyah atau organisasi dakwah lainnya. Tetapi kita berguru, belajar, mengambil teladan dari siapapun, ulama manapun yang memberikan ilmu, petunjuk, keteladanan menuju keridhaan Allah.
Beliau adalah sosok Kyai Besar yang menjadi penyebar Islam, baik melalui Pesantren (Beliau adalah pimpinan Al Ma’had Al Islamy As Salafiy Asy Syaf’iy Sukorejo, Asembagus, Situbondo), juga melalui organisasi (ikut membidani kelahiran dan nggulawenthah NU, salah satunya beliau adalah ketua Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dalam muktamar NU tahun 1984, meskipun beliau lebih suka di balik layar). Bahkan ketika terjadi gonjang ganjing politik, beliau tampil sebagai pembela Islam, seperti ketika tahun 1982 dalam buku PMP disebutkan semua agama benar, beliau langsung menghadap presiden untuk mengajukan revisi, atau tahun 1983 ketika akan diterapkan Pancasila sebagai asas tunggal, beliau segera berinisiatif untuk mengklarifikasi hal tersebut. Beliau adalah ulama yang dalam keilmuannya, sederhana, berwibawa, berjiwa kebapakan, akrab, humoris, lembut, berani, tegas dan segudang sifat mulia lainnya.
Semoga kisah di atas cukup memberikan gambaran kepada kita untuk mengenal pribadi beliau untuk kemudian dijadikan teladan dalam rangka membentuk kepribadian kita agar sesuai dengan kepribadian Qur’an, dan membumikan Syariat Islam dalam keseharian kita. Agar mampu empan papan, bener tur pener (benar dalam syariat dan tepat penerapannya dalam konteks persoalan), bil hikmah.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 30 Desember 2010 10:25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *