KOMITMEN FILM INDONESIA, KATANYA

Ilustrasi kritis bioskop gelap dengan proyektor tua dan kursi kosong, simbol hilangnya komitmen film Indonesia.
Ruang bioskop kosong dengan cahaya proyektor tua yang menyorot layar putih, menggambarkan kritik terhadap perfilman Indonesia.

By Bambang Oeban

KOMITMEN FILM INDONESIA, KATANYA – Katanya cinta tanah air, tapi naskah dijual murah ke pasar luar negeri. Katanya mendidik bangsa, tapi layar lebar penuh komedi receh basi.

Industri katanya berkembang, padahal cuma poster berkilau, isi kosong, dialog asal bunyi.

Sutradara sibuk pesta penghargaan, sementara penonton kenyang dengan drama klise dan tubuh seksi.

Komitmen? Hanya kata manis di podium konferensi pers.

Visi? Sekadar jargon agar investor percaya diri.

Kualitas? Ditukar dengan sensasi murahan, demi trending semalam.

Apakah kita hanya bangsa penonton, yang digiring menelan tawa hambar dan air mata artifisial? Apakah film hanyalah iklan panjang

Ilustrasi kritis bioskop gelap dengan proyektor tua dan kursi kosong, simbol hilangnya komitmen film Indonesia.
Ruang bioskop kosong dengan cahaya proyektor tua yang menyorot layar putih, menggambarkan kritik terhadap perfilman Indonesia.

untuk produk sponsor yang numpang beken?

Anak-anak butuh pahlawan,

bukan figuran berotot tanpa isi kepala.

Pemuda butuh cermin, bukan kaca retak penuh bayangan konsumsi.

Bangsa butuh film sebagai nurani, bukan sekadar mimpi palsu di layar lebar.

Maka aku bertanya-komitmen film Indonesia mau dibawa ke mana?

Ke ruang gelap penuh glamour semu, atau ke cahaya yang membentuk jiwa bangsa?

Katanya perfilman Indonesia bangkit, katanya industri layar lebar sedang meroket, katanya sineas makin kreatif, tapi benarkah itu kenyataan, atau sekadar ilusi di spanduk festival?

Bangkit macam apa, jika yang dijual hanya sensasi murahan, gosip aktor dan aktris lebih panjang tayangnya daripada film itu sendiri?

Bangkit macam apa, jika satu-satunya yang dipuja hanyalah angka penonton,

tanpa peduli apakah cerita memberi arti atau hanya polesan kosmetik?

Film seharusnya jadi cermin bangsa, penyambung lidah nurani rakyat, perekam luka sejarah, penyulut harapan masa depan.

Tapi apa yang terjadi di sini? Sejarah dikemas jadi melodrama setengah matang, kisah rakyat jelata terpinggirkan, lalu yang tersisa hanya parade romansa kelas menengah

yang tak tahu rasanya harga beras naik.

Sensor katanya melindungi moral, padahal hanya menyelamatkan ego penguasa.

Adegan kritis dipotong, dialog berani dicukur, film yang bicara kebenaran dibungkam sebelum sempat menyalakan api kesadaran.

Ironisnya, adegan vulgar demi rating dibiarkan, seolah tubuh telanjang lebih berbahaya daripada pikiran merdeka.

Kapitalisme tertawa lebar di balik layar, produser menghitung profit, sponsor menyetir jalan cerita, artis jadi pajangan merk dagang.

Baca Juga:

Film tak lagi bicara tentang manusia, hanya etalase konsumsi yang menjual gaya hidup palsu.

Apakah ini komitmen yang kita banggakan?

Sutradara berpidato lantang di panggung, bicara soal idealisme, bicara soal visi bangsa,

tapi begitu lampu sorot padam, semua tenggelam di meja kontrak, dimabukkan honor dan tiket box office.

Penonton pun dibodohi dengan janji promosi: “Film ini mendidik,” “Film ini inspiratif,” padahal hanya cerita usang dengan bumbu klise, yang meninggalkan otak kosong dan perut penuh popcorn.

Anak-anak butuh film yang membentuk imajinasi, bukan sekadar animasi yang meniru luar negeri.

Remaja butuh film yang memberi arah, bukan sekadar ajakan menertawakan kebodohan.

Bangsa butuh film yang membuka jalan, bukan menutup mata dengan glamor sesaat.

Maka, aku bertanya: komitmen film Indonesia mau dibawa ke mana?

Ke layar kosong penuh sponsor, atau ke ruang batin rakyat yang haus kebenaran?

Ke festival asing demi gengsi semu, atau ke rumah-rumah penonton yang rindu kejujuran?

Film seharusnya jadi darah bangsa—jangan biarkan ia mengalir hanya demi iklan dan angka.

Film seharusnya jadi cahaya— jangan redupkan ia dengan sensor dan keserakahan.

Film seharusnya jadi komitmen—bukan komoditas murahan.

Sampai kapan kita terus menonton kebohongan ini?

Atau beranikah kita merebut kembali layar

untuk menayangkan kebenaran?

Katanya perfilman Indonesia sedang memasuki era emas,

katanya industri layar lebar tumbuh pesat, katanya sineas makin bebas berkreasi.

Tapi aku bertanya: emas untuk siapa?

Tumbuh untuk siapa? Bebas untuk siapa?

Bagi segelintir orang yang duduk manis di kursi empuk bioskop premier,

film hanyalah tiket menuju festival luar negeri, foto-foto glamor di karpet merah, piala mengkilap untuk dipajang di ruang tamu. Tapi bagi rakyat jelata yang membeli tiket dengan gaji harian, film hanyalah hiburan setengah matang, klise yang diulang-ulang, janji pendidikan yang berubah jadi dagelan receh.

Sensor berdalih menjaga moral bangsa, padahal ia hanya pisau tumpul yang dipakai penguasa untuk memotong lidah para pembuat film yang berani bicara.

Sejarah kelam? Disunat.

Kritik sosial? Dihapus. Sindiran politik? Dilarang tayang. Seolah-olah bangsa ini lebih takut pada kalimat jujur

daripada tubuh setengah telanjang.

Ironi paling besar adalah ketika layar lebar menjadi suci dari kritik, namun penuh dengan adegan konsumtif yang meracuni generasi.

Produser bukan lagi seniman, mereka berubah jadi akuntan dingin yang menghitung jumlah kursi penonton lebih penting daripada isi cerita.

Sponsor menyetir jalan film:

tokoh utama minum kopi tertentu, pahlawan tersenyum sambil menyebut nama produk, cerita disesuaikan dengan brand guidelines.

Apakah ini film, atau iklan 120 menit?

Dan penonton pun menelan semua itu dengan tawa hambar dan air mata artifisial.

Banyak sutradara suka bicara soal idealisme,

visi bangsa, cinta tanah air.

Tapi begitu lampu sorot mati, semua tenggelam di meja kontrak sponsor.

Aktor jadi komoditas, artis jadi papan iklan berjalan.

Popularitas lebih penting daripada kualitas.

Talent show televisi melahirkan bintang instan,

yang dipuja sebentar, lalu dilupakan. Seni peran hancur diganti viralitas.

Katanya penonton ingin hiburan ringan, katanya rakyat butuh tertawa, katanya pasar tak mau film serius. Benarkah? Atau memang penonton sengaja dididik untuk bodoh, disuapi candaan murahan,

dihibur dengan cerita cinta klise, dibutakan agar tidak pernah bertanya: “Kenapa hidupku begini?” Film seharusnya membuka mata,

tapi yang terjadi justru menutup telinga.

Ada segelintir nama besar yang dielu-elukan, disebut sebagai ikon perfilman, padahal sebagian hanya pandai bernegosiasi dengan penguasa atau lihai merangkai skandal agar tetap relevan.

Mereka bicara tentang “membawa Indonesia ke dunia”, padahal yang mereka bawa hanyalah wajah cantik dan cerita yang dipoles agar ramah bagi festival asing.

Apakah dunia benar-benar mengenal Indonesia dari situ? Atau hanya mengenal kepalsuan yang kita sajikan?

Hollywood masih menancapkan kuku tajamnya. Film impor masuk dengan layar lebar yang disiapkan khusus, sedangkan film lokal harus berebut slot, ditendang ke jam sepi, dibuang dari bioskop setelah seminggu.

Distributor lokal seolah jadi pesuruh kapital asing, bangga ketika bisa memutar blockbuster luar,

sementara karya bangsa sendiri dianggap sampah.

Ironisnya, sebagian sineas justru meniru habis gaya Hollywood, alih-alih mencari identitas sendiri.

Maka jadilah kita bangsa pengekor, yang lupa punya cerita sendiri.

Anak-anak kita tumbuh tanpa pahlawan sejati. Superhero impor lebih dikenal daripada tokoh Nusantara. Remaja lebih akrab dengan cerita cinta glamor, daripada kisah perjuangan rakyat kecil.

Film kita gagal jadi cermin,

malah jadi jendela palsu yang hanya menunjukkan ilusi modernitas. Padahal, kalau mau, film bisa jadi senjata, bisa jadi guru, bisa jadi sahabat. Tapi komitmen itu hilang,

ditukar dengan rating, trending, dan uang instan.

PERTANYAAN TERAKHIR

Maka aku bertanya dengan getir: Komitmen film Indonesia mau dibawa ke mana? Apakah hanya jadi alat propaganda kekuasaan?

Apakah hanya jadi iklan raksasa untuk kapitalisme?

Apakah hanya jadi tontonan kosong yang meninabobokan rakyat?

Atau, bisakah kita kembali pada akar—film yang jujur,

film yang berani, film yang lahir dari luka dan cinta bangsa? Film seharusnya jadi darah yang mengalir di nadi rakyat.

Film seharusnya jadi cahaya yang menembus gelap. Film seharusnya jadi ingatan, pengetahuan, dan keberanian. Bukan sekadar tontonan glamor yang basi dalam seminggu.

Komitmen itu bukan janji di atas panggung, bukan poster megah di jalanan,

bukan piala emas yang berdebu.

Komitmen itu adalah keberanian membuat film yang jujur, meski dilarang, meski dipotong, meski tak laku di pasar.

Komitmen itu adalah dedikasi pada penonton

sebagai manusia, bukan konsumen.

Komitmen itu adalah keberanian melawan arus,

meski layar bioskop menutup pintu.

Jadi, sekali lagi aku bertanya—dan biarlah pertanyaan ini menggema di ruang sunyi industri:

MAU DIBAWA KEMANA?

Di layar yang padam, tinggallah bayangan wajah-wajah kita sendiri.

Di kursi kosong bioskop,

bergema pertanyaan yang tak berjawab: apakah kita hanya penonton, atau juga saksi yang diam atas kebohongan?

Film bukan sekadar hiburan,

ia adalah cermin—yang bisa memantulkan kebenaran, atau memantulkan ilusi palsu.

Pilihan ada di tangan kita:

menelan tawa murahan,

atau menuntut cerita yang jujur.

Jika film hanya mengejar angka, maka bangsa ini hanya akan dihitung, bukan dihargai.

Jika film hanya mengejar piala, maka bangsa ini hanya akan berkilau sebentar, lalu tenggelam kembali dalam gelap.

Tapi jika film kembali pada nurani, ia bisa jadi obor, menyulut jiwa yang letih,

menuntun langkah yang hilang arah.

Maka biarlah perenungan ini terjaga: komitmen film Indonesia bukan soal pasar,

bukan soal sensor, bukan soal glamor.

Komitmen sejati adalah keberanian untuk berkata:

inilah wajah bangsa, apa adanya—dan biarlah dunia menonton tanpa topeng.

Desa Singasari Bogor

Sabtu, 06 Sept 2025

10.47