Cerita  

Kisah Seorang Penjual Puthu Bumbung dan Putrinya

Kisah Seorang Penjual Puthu Bumbung dan Putrinya
Kisah Seorang Penjual Puthu Bumbung dan Putrinya
Kisah Seorang Penjual Puthu Bumbung dan Putrinya
Kisah Seorang Penjual Puthu Bumbung dan Putrinya

Kisah Seorang Penjual Puthu Bumbung dan Putrinya – Di sebuah desa kecil, tinggal seorang ayah tua yang setiap hari menjajakan puthu keliling. Dengan pikulan berat di pagi hari, ia berjalan dari gang ke gang, menyapa ramah setiap orang yang dijumpainya.

Puthu yang terbuat dari tepung beras, tepung ketan parutan kelapa dan tengahnya dikasih gula kelapa buatannya sederhana, tapi penuh citarasa khas. Hasil penjualan hari itu tidak seberapa, cukup untuk membeli beras, minyak, dan sepotong tahu untuk makan bersama putrinya yang masih kecil.

Putrinya bernama Laila, gadis mungil berusia tujuh tahun yang selalu menunggu ayahnya pulang di depan rumah kecil mereka. Setiap sore, ia akan berlari menyambut sang ayah, lalu duduk di pangkuannya sambil bertanya dengan polos, “Hari ini puthu kita habis, Yah?”

Sang ayah selalu tersenyum dan menjawab, “Alhamdulillah, Nak. Cukup untuk malam ini dan esok pagi.”

Hujan, Puthu Basah, Dan Rasa Asam Yang Tak Terlupakan

Namun, hari itu berbeda. Hujan turun deras sejak pagi, dan puthu buatan sang ayah basah terkena tempias. Hampir tak ada yang laku. Dengan langkah lunglai, ia pulang membawa sebagian besar  kembali. Di depan rumah, Laila tetap menunggu, berlari kecil dengan payung kecil di tangan, menyambut ayahnya yang kuyup.

Baca Juga:

Bagian II: Luka Di Langit Senja - Langkah Seorang Ayah

Bagian II: Luka Di Langit Senja – Langkah Seorang Ayah https://sabilulhuda.org/bagian-ii-luka-di-langit-senja-langkah-seorang-ayah/

“Ayah belum makan ya?” tanya Laila sambil menggandeng ayahnya masuk ke dalam.

Sang ayah hanya tersenyum. Ia duduk, menatap bahan puthu basah yang tak terjual. Lalu, dengan hati-hati ia mengumpulkan bahan puthu yang basah, mengeringkannya sebentar di atas tungku, dan memberikannya kepada Laila. “Makanlah, Nak. puthu ini masih enak,” katanya lembut.

Laila menggigit adonan putu yang dibikin roti itu perlahan, lalu mengernyit. “Rasanya agak asam, Yah.”

Pengorbanan yang Diam, Cinta yang Tak Terucap

Sang ayah mengusap kepala putrinya. “Maaf ya, Nak. Ayah akan buatkan yang lebih enak besok.” Laila mengangguk dan tersenyum. Tapi saat ia hendak kembali ke kamarnya, ia melihat ayahnya diam-diam memungut sisa roti dari lantai, meniupnya pelan, lalu memakannya dengan tenang.

Di balik pintu, Laila menatap dengan mata berkaca-kaca. Hari itu, ia tidak menangis karena rasa asam di lidahnya, tapi karena ia baru memahami rasa manis dari sebuah perjuangan seorang ayah untuk putri tercinta .

Tahun-tahun berlalu. Laila tumbuh menjadi gadis cerdas. Ia mendapat beasiswa untuk kuliah di kota besar. Ayahnya tetap menjual puthu, meski usianya menua dan kakinya mulai gemetar. Setiap kali Laila mengirim uang, sang ayah akan menyimpannya rapi.

Ia berkata, “Ayah masih bisa berjalan dan menjual puthu, Nak. Gunakan uang itu untuk masa depanmu.”

Suatu hari, Laila kembali ke desa untuk menjenguk ayahnya. Namun, ia hanya mendapati rumah kosong. Tetangga berkata bahwa sang ayah jatuh sakit dan kini dirawat di rumah sederhana milik seorang dermawan.

Dengan langkah gemetar, Laila mendatangi ayahnya. Tubuh ayahnya kurus, matanya cekung, tapi senyumnya tetap hangat.

Mimpi yang Didoakan Setiap Malam

“Laila… kau datang, Nak,” katanya pelan.

Laila menggenggam tangan ayahnya dan menangis. “Maafkan Laila, Yah… Laila terlalu sibuk belajar, terlalu sibuk mengejar mimpi…”

Sang ayah menggeleng. “Justru itu doa ayah setiap malam… agar kamu bisa terbang tinggi.”

Lalu ia berkata lirih:

اللَّهُمَّ احْفَظْهَا لِي، وَارْزُقْهَا سَعَادَةً لَا تَذْهَبُ أَبَدًا

“Ya Allah, lindungilah dia untukku, dan anugerahkanlah kebahagiaan yang tak pernah pergi darinya.”

Beberapa hari setelah itu, sang ayah wafat dalam tidur. Di atas dada kurusnya, ditemukan sepucuk surat dengan tulisan tangan:

“Nak, jika suatu hari roti buatan Ayah dari tepung puthu basah terasa asam, ketahuilah… bukan karena Ayah kurang bisa membuatnya, tapi karena Ayah tak sanggup melihatmu kelaparan. Cintaku padamu, lebih manis dari roti yang paling lezat sekalipun.”

– Ayahmu.

Roti Asam

Kisah ini sederhana. Tentang roti, tentang hujan, tentang rumah kecil, dan seorang ayah yang hampir tak berkata apa-apa… tapi membuktikan cintanya setiap hari dengan tindakan. Cinta ayah sering tak berbentuk kata, tak berupa pelukan. Tapi ia hadir dalam wujud paling diam dan paling tulus: pengorbanan.

Dalam hidup, kita sering menuntut rasa manis dari segala hal. Tapi kadang, di balik rasa asam yang tak kita suka, tersimpan cinta yang luar biasa besar. Kita hanya perlu waktu dan hati yang lembut untuk menyadarinya.

Baca Juga: Pengabdian Anwar dan Kasidah Terakhir Bersama Abdul Kadir Jailani

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَنتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.”

(HR. Ibnu Majah)

Maka jangan tunggu hingga kehilangan. Peluk ayahmu selagi bisa. Ucapkan terima kasih selagi ia masih bisa mendengar. Dan jika ia telah tiada, teruskan doamu dalam sujud dan sedekah, karena cinta sejati tak pernah mengenal kematian.

رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًۭا

“Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”

(QS. Al-Isra’: 24)

 Oleh: Ki Pekathik