
Kisah Sahabat: Utsman bin Affan Tamu Surga – Di antara bintang-bintang terang dalam sejarah Islam, ada satu nama yang bercahaya dengan sinar lembut namun abadi. Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah.
Seorang lelaki berhati bening yang memadukan kelembutan dengan kekuatan iman, kemewahan dunia dengan kedermawanan akhirat. Dan kemuliaan sebagai khalifah dengan kesyahidan sebagai akhir kehidupannya.
Ia adalah sahabat yang pertama kali berhijrah demi agama, sosok pemalu yang dicintai para malaikat, dermawan yang tak pernah menghitung apa yang ia beri. khalifah ketiga yang memimpin di tengah kemakmuran sekaligus fitnah.
Dan pada akhirnya syahid di atas mushaf Al-Qur’an, sebagai tamu surga yang dijanjikan Rasulullah ﷺ.
1. Hijrah Pertama
Pada awal dakwah Islam, para pengikut Nabi Muhammad ﷺ menghadapi tekanan brutal di Mekkah, muncullah perintah untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Utsman bin Affan adalah orang pertama dari kaum Muhajirin yang membawa istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah, meninggalkan Mekkah demi menyelamatkan iman mereka.
رِوَايَة أُمِّ سَلَمَة رضي الله عنها
خَرَجَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ بِرُقَيَّةَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ، فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ خَرَجَ بِامْرَأَتِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ: صَحِبَهُمَا اللهُ، إِنَّ عُثْمَانَ أَوَّلُ مَنْ هَاجَرَ بِأَهْلِهِ بَعْدَ لُوطٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Baca Juga:

Ketegasan Kelembutan Dan Kepemimpinan Umar Bin Khattab https://sabilulhuda.org/ketegasan-kelembutan-dan-kepemimpinan-umar-bin-khattab/
“Utsman bin Affan pergi bersama Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ ke negeri Habasyah. Ia adalah orang pertama yang berhijrah bersama istrinya. Maka Nabi bersabda: ‘Semoga Allah menyertai mereka. Sesungguhnya Utsman adalah orang pertama yang berhijrah membawa keluarganya setelah Nabi Luth ‘alaihissalam.’”
(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, no. 5377, dinilai shahih oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi)
Bagi Utsman, hijrah adalah pengorbanan cinta, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta cinta kepada istrinya yang lembut dan tabah. Bersama Ruqayyah, ia melintasi gurun, menempuh bahaya, dan menetap di negeri asing tanpa jaminan.
Namun keyakinannya teguh: “Jika kita berpaling dari dunia, Allah akan membukakan langit.”
Hijrah kedua juga ia jalani: dari Habasyah kembali ke Mekkah, dan kemudian berhijrah lagi ke Madinah. Tak hanya sekali ia meninggalkan kenyamanan hidup, setiap langkah hijrahnya adalah pernyataan: bahwa ia lebih mencintai Allah daripada semua yang ia punya di dunia.
2. Pemalu yang Dicintai Malaikat
Utsman adalah sosok yang sangat pemalu, rasa malunya adalah cermin dari kesucian hati dan kesadaran akan kehadiran Allah.
Suatu hari, Rasulullah duduk dengan santai saat Abu Bakar dan Umar datang. Namun ketika Utsman masuk, beliau segera merapikan pakaiannya dan duduk dengan sopan. Ketika ditanya, Rasul menjelaskan bahwa Utsman adalah orang yang begitu lembut hatinya, hingga bahkan para malaikat menjaga sikap di hadapannya.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي، كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ، فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَسَوَّى ثِيَابَهُ، فَلَمَّا خَرَجُوا، قُلْتُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَلَمْ تَهْتَمَّ لَهُمَا، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ، فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ؟ فَقَالَ: أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ؟
“Rasulullah sedang berbaring di rumahku dengan paha atau betis terbuka. Abu Bakar datang meminta izin masuk, beliau izinkan tanpa mengubah posisi. Umar datang, beliau juga izinkan tanpa mengubah posisi. Lalu datang Utsman, Rasulullah duduk dan merapikan pakaiannya.
Aku bertanya, ‘Abu Bakar dan Umar datang, engkau tidak berubah. Tapi kenapa saat Utsman datang, engkau duduk dan merapikan pakaianmu?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidakkah aku malu kepada seseorang yang malaikat pun malu kepadanya?’”
(HR. Muslim, no. 2401)
Namun jangan kira rasa malu itu menghalanginya untuk bersuara. Dalam rapat-rapat Syura, Utsman dikenal sebagai sosok yang tepat bicara, lembut dalam usul, namun teguh dalam keyakinan. Malunya bukan bungkam, tapi jernih. Ia menundukkan suara karena tahu langit sedang menyimak.
3. Dermawan
Utsman dilahirkan dari keluarga kaya Bani Umayyah. Sebagai pedagang sukses, hartanya berlimpah. Namun kekayaannya bukan untuk ditumpuk, melainkan untuk disalurkan. Ia termasuk sahabat yang paling banyak berinfak di jalan Allah.
Beberapa contoh kedermawanannya yang monumental:
Ekspedisi Tabuk: Ia membiayai 1000 ekor unta lengkap dengan pelananya, serta 70 ekor kuda. Hadis Rasulullah:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَـٰنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ
جَاءَ عُثْمَانُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ بِأَلْفِ دِينَارٍ فِي كُمِّهِ حِينَ جَهَّزَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ جَيْشَ الْعُسْرَةِ، فَصَبَّهَا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُقَلِّبُهَا وَيَقُولُ: مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ، يُكَرِّرُهَا مِرَارًا.
“Utsman datang kepada Nabi membawa seribu dinar di dalam lengan bajunya saat Rasulullah mempersiapkan pasukan dalam Perang Tabuk. Lalu ia menuangkannya ke pangkuan Rasulullah. Rasulullah membolak-balikkannya sambil bersabda: ‘Tidak ada yang membahayakan Utsman atas apa yang ia lakukan setelah hari ini.’ Beliau mengulanginya beberapa kali.”
(HR. Tirmidzi no. 3701, hasan shahih)
Sumur Raumah : Saat Madinah kekurangan air bersih dan sumur milik Yahudi dijual mahal, Utsman membelinya dengan harga tinggi dan menghibahkannya kepada umat Islam secara gratis.
Hadis tentang Sumur Raumah
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُومَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، فَحَفَرَهَا عُثْمَانُ.
“Barang siapa yang menggali (atau membeli) sumur Raumah, maka baginya surga.” Lalu Utsman pun membelinya.
(HR. Tirmidzi no. 3704, dalam al-Ma‘rifah, dinilai hasan oleh al-Albani)
Pembangunan Masjid Nabawi: Utsman membeli lahan tambahan dan mendanai perluasan masjid.
Bagi Utsman, harta adalah alat, bukan tujuan. Ia memberikan dunia untuk memperoleh akhirat. Dan ia melakukannya tanpa banyak bicara, tanpa kamera, tanpa panggung.
4. Khalifah Ketiga
Setelah Umar bin Khattab wafat karena dibunuh, umat Islam menghadapi tantangan besar untuk memilih pemimpin baru. Sebuah dewan Syura dibentuk, dan akhirnya Utsman terpilih sebagai khalifah ketiga. Ia enggan menerima kekuasaan itu, namun para sahabat menegaskan bahwa dia adalah sosok terbaik di antara mereka.
Selama 12 tahun masa kekhalifahannya, Utsman membawa kemajuan besar:
Ekspansi wilayah Islam meluas ke Armenia, Azerbaijan, Afrika Utara, dan bagian dari Asia Tengah.
Ia memerintahkan kodifikasi dan standarisasi mushaf Al-Qur’an, yang hari ini dikenal sebagai Mushaf Utsmani. Keputusan ini mencegah perpecahan bacaan dan menjaga keutuhan wahyu.
Ekonomi negara stabil, distribusi zakat dan ghanimah berjalan lancar, dan sistem pemerintahan di tata dengan struktur lebih formal.
Namun Utsman tetap hidup sederhana. Rumahnya tidak megah. Pakaianya tidak mewah. Ia tidak membangun istana, tidak menimbun emas, bahkan tidak memperkaya keluarga. Ia lebih banyak berada di rumah, membaca mushaf, dan shalat malam dalam tangis.
5. Tahun-Tahun yang Sulit: Fitnah dan Tuduhan
Paruh kedua kekhalifahan Utsman adalah tahun-tahun yang berat. Fitnah mulai berhembus, terutama dari wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan. Ketidakpuasan, hasutan politik, dan rasa iri terhadap keluarganya di manfaatkan oleh orang-orang yang ingin menggoyang stabilitas negara.
Wasiat Rasulullah kepada Utsman bin Affan
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَا عُثْمَانُ، إِنَّ اللَّهَ عَسَى أَنْ يُقَمِّصَكَ قَمِيصًا، فَإِنْ أَرَادَكَ الْمُنَافِقُونَ عَلَى خَلْعِهِ، فَلَا تَخْلَعْهُ حَتَّى تَلْقَانِي.
“Wahai Utsman, barangkali Allah akan mengenakan kepadamu baju (kekhalifahan). Maka jika orang-orang munafik ingin engkau melepaskannya, janganlah engkau lepaskan hingga engkau menemuiku.”
(HR. Tirmidzi no. 3706, hasan)
Beberapa sebab ketegangan:
Pengangkatan kerabat sebagai gubernur. Meski mereka kapabel, orang-orang menganggap Utsman nepotis.
Kesuksesan ekonomi membuat sebagian rakyat merasa terpinggirkan.
Hasutan Abdullah bin Saba, tokoh fitnah yang menyebar provokasi dengan menyusupkan ide-ide revolusi.
Utsman memilih pendekatan damai, enggan membalas dengan kekerasan. Ia menolak memerangi Muslim yang salah paham, bahkan ketika mereka menyerangnya.
Utsman bin Affan berkata, “Aku tidak akan menumpahkan darah satu pun kaum Muslimin demi mempertahankan kekuasaanku.”
Dalam usia lebih dari 80 tahun, ia di kepung di rumahnya sendiri selama 40 hari. Di larang ke masjid, mendapatkan air, Di larang membeli makanan. Namun ia tetap bersabar, Ia tetap shalat, Ia tetap membaca Al-Qur’an.
6. Tamu Surga yang Syahid
Hari itu, rumah Utsman sunyi. Di depannya berjaga beberapa sahabat setia, tapi para pemberontak mulai memanjat dinding. Utsman sedang duduk di rumah, membaca mushaf yang telah ia standarisasi. Istrinya, Nailah, mendampinginya dengan air mata.
Ketika para pembunuh menyerbu, ia tidak melawan. Ia hanya berkata, “Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”
Darahnya menetes tepat di mushaf, di ayat:
“Maka Allah akan mencukupkan kamu (untuk mengalahkan) mereka. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)
Wafat sebagai Syahid dan Tamu Surga
عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ
كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي حَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ، فَجَاءَ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَحَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. فَفَتَحْتُ لَهُ، فَإِذَا أَبُو بَكْرٍ… ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ ثَانٍ، فَقَالَ: افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ، فَإِذَا عُمَرُ… ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ، فَقَالَ: افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ، فَإِذَا هُوَ عُثْمَانُ.
“Aku bersama Nabi di salah satu kebun Madinah. Lalu datang seorang lelaki minta izin masuk. Nabi bersabda, ‘Bukakan pintu dan berikan kabar gembira surga kepadanya.’ Ternyata dia adalah Abu Bakar. Lalu datang orang kedua (Umar), dan Nabi mengucapkan hal yang sama. Kemudian datang orang ketiga, Nabi bersabda, ‘Bukakan pintu dan beri kabar gembira surga untuknya setelah ia mengalami ujian yang berat.’ Ternyata dia adalah Utsman.”
(HR. Bukhari no. 3693, Muslim no. 2403)
Ia wafat dalam keadaan berpuasa, memegang mushaf, di rumahnya sendiri, tanpa senjata, tanpa pembelaan, tapi dengan kesaksian langit. Dan ia pun wafat dengan mengenakan baju khalifah, di tangan umat yang salah paham, namun dengan hati yang yakin kepada janji Tuhannya.
Warisan dari Utsman
Warisan Utsman bukan hanya mushaf Al-Qur’an. Ia mewariskan keteladanan:
pemalu bukan berarti lemah—justru malu kepada Allah adalah kemuliaan.
harta bukan untuk disimpan, tetapi untuk dibelanjakan di jalan yang benar.
kepemimpinan tak selalu di sertai pujian, bahkan bisa berujung pengkhianatan.
kesabaran lebih kuat dari pedang, dan darah syahid lebih abadi dari mahkota.
Hari ini, ketika kita membaca mushaf, ketika kita menimba air di sumur Raumah yang masih mengalir, ketika kita shalat di Masjid Nabawi yang di perluas olehnya, nama Utsman bin Affan tetap hidup.
Baca Juga: Kisah Sya’ban, Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut
Ia adalah tamu surga yang di janjikan, syahid yang wafat dalam ibadah, dan pemimpin yang gugur tanpa pernah membalas.
Semoga Allah meridhainya.
Dan semoga hati kita bisa menjadi sebutir debu di jejak langkahnya.













