Kisah Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib – Dalam sejarah Islam, ketika masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah masa yang penuh dengan ujian. Setelah berbagai peristiwa besar seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin, muncul lagi satu kelompok baru yang mengguncang persatuan umat islam yaitu mereka yang kita kenal dengan nama Khawarij.
Kelompok ini muncul setelah peristiwa tahkim (arbitrase) antara Ali dan Muawiyah. Ketika Ali berusaha meredam peperangan dan mencari jalan damai, sebagian pasukannya Ali malah justru menolak keputusan itu.
Mereka berkata, “Engkau tidak berhukum dengan Al-Qur’an, wahai Ali!” Maka sejak saat itulah mereka keluar dari barisan pasukannya Ali dan memisahkan diri. Oleh karena itu mereka disebut Khawarij, yang artinya “orang-orang yang keluar”.

Padahal, niat Ali pada saat itu adalah untuk menjaga darah sesama Muslim agar tidak terus tertumpah. Namun mereka menuduhnya kafir hanya karena tidak sejalan dengan pemahaman mereka.
Inilah salah satu fitnah besar di masa itu, karena mereka menganggap dirinya paling benar dan menyesatkan kaum Muslimin lainnya.
Khawarij: Rajin Ibadah Tapi Salah Paham
Rasulullah ﷺ telah menubuatkan aka nada munculnya kelompok ini jauh sebelum masa Ali. Dalam banyak hadits di sebutkan, bahwa mereka itu rajin salat, banyak membaca Al-Qur’an, dan tampak sangat zuhud.
Namun, bacaan Al-Qur’an mereka tidak melewati tenggorokan. Artinya tidak sampai ke hati dan tidak dipahami dengan benar.
Mereka memaknai ayat-ayat Al-Qur’an itu secara dangkal, tanpa merujuk kepada pemahaman para sahabat. Akibatnya, mereka mudah mengkafirkan siapa saja yang berbeda pendapat, bahkan sesama Muslim.
Baca Juga:

Kisah Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib (Part 4) https://sabilulhuda.org/kisah-sahabat-nabi-ali-bin-abi-thalib-part-4/
Nabi ﷺ menggambarkan mereka sebagai “anjing-anjing neraka”, dan menyebut bahwa orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala besar di sisi Allah.
Ciri lain kaum Khawarij adalah ia mudah menyalahkan orang lain. Mereka merasa dirinya paling suci dan paling benar, sementara yang lain mereka menganggapnya salah atau kafir. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara akal dan wahyu.
Akal itu kita gunakan untuk memahami wahyu, bukan menolaknya. Maka ketika seseorang mendahulukan logika di atas wahyu, maka akan lahir banyak penyimpangan seperti ini.
Ali bin Abi Thalib Menangani Dengan Hikmah
Sebagai khalifah, Ali tidak tergesa-gesa dalam memerangi kaum Khawarij ini. Beliau kemudian mengutus sahabat mulia, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, untuk mendakwahi mereka.
Dengan ilmu dan hujah yang kuat, maka sebagian kecil di antara mereka kemudian bertaubat dan kembali. Namun, mayoritas tetap keras kepala dan menolak.
Barulah ketika mereka mulai melakukan pembunuhan dan memberontak terhadap pemerintahan Islam, Ali akan memerangi mereka demi menjaga keamanan kaum Muslimin. Dalam peperangan tersebut, terbunuhlah banyak dari kalangan Khawarij sebagaimana yang di kabarkan Rasulullah ﷺ sebelumnya.
Menariknya, Ali tidak memerangi mereka karena dendam, tetapi karena mereka telah menumpahkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa. Beliau tetap mengedepankan hikmah dan keadilan hingga akhir hayatnya.
Pelajaran Dari Kisah Ini
Kisah munculnya Khawarij di masa Ali ini mengandung banyak pelajaran penting bagi umat Islam.
Pertama, bahwa agama ini tidak bisa diambil hanya dengan logika semata. Akal manusia itu terbatas, sedangkan wahyu adalah petunjuk Allah yang sempurna. Akal harus tunduk dan menyesuaikan diri dengan wahyu, bukan sebaliknya.
Kedua, semangat beragama tanpa ilmu bisa menjerumuskan. Kaum Khawarij di kenal rajin beribadah, tapi karena pemahaman mereka salah, ibadah itu tidak membawa manfaat.
Ketiga, sikap adil dan sabar dalam menghadapi perbedaan adalah kunci menjaga persatuan umat. Ali bin Abi Thalib memberi contoh luar biasa bagaimana menghadapi perbedaan dengan keteguhan dan kebijaksanaan, bukan dengan emosi.
Demikianlah salah satu kisah penting di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dari beliau kita belajar bagaimana menempatkan akal dan wahyu secara proporsional. Bagaimana menahan diri di tengah fitnah, dan bagaimana menjaga umat agar tidak tercerai-berai.
Baca Juga: Kisah Sya’ban, Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut













