Kisah Perang Tabuk 9 H

Kisah Perang Tabuk 9 H
Kisah Perang Tabuk 9 H
Kisah Perang Tabuk 9 H
Kisah Perang Tabuk 9 H

Kisah Perang Tabuk 9 H – Musim panas Jazirah Arab, matahari terik membakar gurun pasir. Tahun itu ke-9 Hijriah, adalah masa paceklik. Buah kurma yang menjadi sandaran hidup penduduk Madinah belum matang sempurna, dan kekeringan melanda.

Perang ini terjadi di tengah musim kemarau panjang dan kondisi ekonomi yang sulit di Madinah. Pasukan Muslimin menghadapi tantangan besar seperti jarak yang sangat jauh, terik matahari gurun, dan kekurangan perbekalan.

Meskipun demikian, mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan tekad yang kuat, menunjukkan keteguhan iman dan pengorbanan.

Perang Tabuk, yang juga di kenal sebagai Ekspedisi Usra atau Ghazwah Al-‘Usrah (Perang Kesulitan), adalah ekspedisi militer terakhir yang di ikuti oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah (Oktober 630 M). Meskipun tidak terjadi pertempuran besar, perang ini memiliki banyak aspek penting dan dampak signifikan:

 Bukan perang biasa, musuh yang harus di hadapi adalah Romawi, adidaya kala itu, dengan pasukan yang tak terhitung jumlahnya. Jarak ke Tabuk, di perbatasan Syam, amat jauh—sekitar 700 kilometer dari Madinah. Kondisi inilah yang membuat Perang Tabuk di sebut sebagai Ghazwatul Usrah atau Perang Kesulitan.

Banyak kaum munafik dan mereka yang imannya lemah mulai mencari alasan untuk tidak ikut serta. Panasnya gurun, jauhnya perjalanan, dan keperkasaan Romawi menjadi momok menakutkan. Namun, bagi para sahabat sejati, panggilan jihad adalah panggilan iman yang tak bisa di tawar.

Baca Juga:

Sa’ad Bin Abi Waqqas  Sang Pemanah Terbaik Dan Perisai Di Perang Uhud

Sa’ad Bin Abi Waqqas  Sang Pemanah Terbaik Dan Perisai Di Perang Uhud https://sabilulhuda.org/saad-bin-abi-waqqas-sang-pemanah-terbaik-dan-perisai-di-perang-uhud/

Kepemimpinan Rasulullah SAW: Nabi Muhammad SAW menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana dalam menghadapi situasi sulit ini, dengan visi dan strategi yang matang. Beliau memobilisasi pasukan besar dan menyemangati mereka. Beliau juga menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai wakilnya di Madinah.

 Pasukan Muslimin yang berjumlah sekitar 30.000 orang bergerak menuju Tabuk untuk menghadapi pasukan Romawi yang di kabarkan berkekuatan 40.000 prajurit.

Namun, ketika pasukan Muslimin tiba di Tabuk, pasukan Romawi telah mundur ke wilayah Damaskus. Hal ini membuat Perang Tabuk menjadi “perang tanpa perlawanan” atau “perang tanpa pertempuran”.

Di antara mereka yang penuh semangat itu, ada kisah-kisah mengharukan tentang pengorbanan yang tak ternilai.

Pengorbanan Kaum Fakir yang Tak Berpunya

Bayangkan seseorang yang begitu miskin, bahkan tak memiliki alas kaki atau pakaian layak. Mereka adalah kaum fakir dan miskin yang dengan tulus ingin ikut berjihad di jalan Allah. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dengan mata berkaca-kaca, memohon kendaraan dan perbekalan.

Namun, Rasulullah ﷺ dengan berat hati harus menolak. Bukan karena tak ingin mereka ikut, melainkan karena memang tidak ada lagi persediaan yang tersisa. Hati mereka hancur, air mata mengalir membasahi pipi.

Mereka pulang dengan langkah gontai, bukan karena takut mati, melainkan karena sedih tak mampu meraih kemuliaan syahid. Allah Ta’ala mengabadikan kesedihan tulus mereka dalam firman-Nya:

“Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata:

“Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At-Taubah: 91-92)

Kesedihan mereka, yang lebih dalam dari rasa takut menghadapi musuh, adalah bukti keimanan yang luar biasa. Meski tak terhitung sebagai syuhada di medan perang, niat tulus mereka untuk berkorban telah diakui dan dicatat oleh Allah.

Kekuatan Sedekah Para Sahabat

Di sisi lain, para sahabat yang memiliki harta berlomba-lomba untuk berinfak demi keberangkatan pasukan. Utsman bin Affan, sang Dzun Nurain, memberikan infak yang tak terbayangkan: 300 ekor unta lengkap dengan pelana dan perbekalannya,.

1.000 dinar emas, dan terus bertambah hingga menggenapi sepertiga biaya seluruh pasukan. Rasulullah ﷺ berkata tentangnya, “Tidak akan merugikan Utsman apa yang dia perbuat setelah hari ini.”

Ada pula Abdurrahman bin Auf yang menyumbang 200 uqiyah perak, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menyerahkan seluruh hartanya, dan Umar bin Khattab yang menyumbangkan separuh hartanya. Para wanita pun tak ketinggalan, mereka melepas perhiasan dan selendang mereka untuk disumbangkan.

Ini adalah pemandangan luar biasa dari persatuan dan pengorbanan kolektif. Mereka memahami bahwa jihad bukan hanya tentang mengangkat pedang, tetapi juga tentang pengorbanan harta dan jiwa demi tegaknya agama Allah.

Tujuh Orang Pahlawan yang Terlupakan

Ada kisah khusus tentang tujuh orang sahabat yang sangat ingin ikut perang, namun tidak memiliki kendaraan. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dengan harapan diberikan unta atau kuda. Namun, seperti yang terjadi pada kaum fakir lainnya, Rasulullah ﷺ tidak memiliki apa-apa untuk diberikan.

Dengan hati remuk, mereka kembali. Namun, Allah justru memuji mereka dalam Al-Qur’an (QS. At-Taubah: 92). Sebagai “orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, lalu mereka kembali.

Sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” Mereka dikenal sebagai al-Bakka’un (orang-orang yang menangis).

Di antara mereka, ada yang bernama Ma’qil bin Yasar dan Abu Musa Al-Asy’ari. Mereka tidak mati di medan Tabuk, namun kesedihan tulus mereka tercatat abadi dalam Al-Qur’an sebagai contoh semangat jihad yang membara.

Kisah yang Tak Terucap dari Medan Laga

Meskipun Perang Tabuk tidak berakhir dengan pertempuran fisik besar-besaran karena nyali Romawi ciut melihat besarnya pasukan Muslim, perjalanan panjang di bawah terik matahari, kelaparan, dan kehausan adalah ujian yang luar biasa berat.

Beberapa sahabat mungkin wafat dalam perjalanan karena kelelahan, dehidrasi, atau penyakit. Mereka adalah syuhada yang gugur dalam pengabdian, meski tak terkena sabetan pedang musuh. Setiap langkah mereka, setiap tetes keringat mereka, adalah pengorbanan yang dicatat sebagai jihad.

Para syuhada Perang Tabuk, baik yang niatnya tulus tapi tak mampu ikut, yang berinfak hingga tak tersisa, maupun yang mengorbankan diri di tengah perjalanan berat, mengajarkan kita arti sejati dari keimanan dan pengorbanan.

Mereka adalah pahlawan yang menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melampaui segala kesulitan dan rasa takut.

Kisah mereka mengharukan karena menggambarkan bagaimana iman bisa menggerakkan manusia untuk melampaui batas-batas kemampuannya, mengorbankan apa pun yang dimiliki demi ridha Ilahi. Di balik setiap tetes air mata, setiap kucuran keringat, dan setiap dinar yang diinfakkan, terpancar cahaya ketulusan yang abadi.

Mereka adalah contoh nyata dari firman Allah: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111).

Meskipun tidak ada pertempuran, kehadiran pasukan Muslimin yang besar di Tabuk menegaskan kekuatan politik dan militer Islam di Jazirah Arab.

Baca Juga: Jabal Uhud Saksi Bisu Perang Uhud

 Perkembangan Agama

Kemenangan ini semakin memperkuat posisi Islam dan membuka jalan bagi penyebaran agama Islam ke wilayah yang lebih luas. Banyak kabilah Arab yang sebelumnya bersekutu dengan Romawi kini beralih bergabung dengan pasukan Muslimin.

Diplomasi dan Perdamaian

Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan toleransi dan belas kasih. Beliau memberikan amnesti kepada musuh yang menyerah dan memperlakukan tawanan perang dengan baik. Beliau juga mengadakan perjanjian perdamaian dengan pemimpin Ailah, Yuhannah bin Ru’bah, serta penduduk Jarba’ dan Adruj, yang bersedia membayar jizyah (pajak).

Pengaruh Ekonomi

Mobilisasi sumber daya dan perdagangan yang terkait dengan perang berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Islam pada masa itu.

Peran Kaum Munafik

Perang Tabuk juga mengungkap eksistensi kaum munafik yang berusaha menghancurkan umat Islam dari dalam. Beberapa di antara mereka mencela infak para sahabat dan berusaha menghasut Ali bin Abi Thalib. Al-Qur’an juga menurunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan peristiwa Tabuk, khususnya menyinggung kaum munafik.

Peristiwa Setelah Perang Tabuk

Setelah kembali dari Tabuk, beberapa peristiwa penting terjadi, seperti:

    Terjadinya peristiwa Li’an antara Umaimir dan istrinya.

    Dirajamnya wanita Ghamidiah setelah mengaku berzina.

    Meninggalnya putri Rasulullah, Ummu Kultsum, istri Utsman bin Affan.

    Meninggalnya Raja Najasyi, di mana Rasulullah melaksanakan salat gaib untuknya.

Oleh: ki pekathik