Awal Kesadaran yang Menyentuh
Sabilulhuda, Yogyakarta – Mendengar cerita Pak Qalyubi sampai membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya sehingga dapat menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang di mataku. Tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap di hati. Kisah penyesalan suami ini seperti mengetuk kesadaranku.
Dia adalah istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apa pun. Yang keluar hanya sebuah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, wajah Raihana telah menyala di dindingnya.
Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya agar aku mencairkan tabungannya.
Baca Juga:
Keinginan untuk Pulang dan Menebus Diri
Saat pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim. Aku ingin membelikannya baju untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan agar dia dapat tersenyum dengan menyambut kedatanganku.
Saya sendiri tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan yang disimpan di bawah bantal. Di bawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir.
Darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini? Rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong.
Temuan yang Membuka Luka
Dengan rasa takut kubaca surat itu satu per satu. Dan Rabbi, ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Cinta dan pengorbanan istri itu tertulis jelas dalam tiap baitnya.
Ia menulis betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya kepada Allah ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya serta ingin hadirnya cinta sejati dariku.
Raihana menulis doa, curahan hati, dan keteguhan yang membuatku remuk. Dalam doanya ia tetap memohonkan ampun untukku, memintakan kebaikan bagi lelaki yang telah lalai memperhatikannya.
Runtuh oleh Kesadaran Baru
Tak terasa air mataku mengalir. Dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Semua kebaikan Raihana terbayang: wajahnya yang baby face, pengorbanan dan pengabdiannya, suaranya yang lembut, tangannya yang halus.
Baca Juga:
Dalam keharuan itu terasa angin sejuk merasuk jiwaku. Seketika pesona Cleopatra memudar, berganti cahaya Raihana yang terus berkilat di mata. Aku tiba-tiba sangat merindukannya dan ingin segera membagi cinta yang selama ini tertahan.
Berpacu dengan Waktu
Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mata yang menetes sepanjang jalan. Sesampainya di halaman rumah mertua, tangisku hampir meledak. Ibu mertua memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku ikut menangis tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku bertanya, “Mana Raihana Bu?”
Namun ibu hanya menangis. Hingga akhirnya ia berkata:
“Raihana… istrimu… istrimu dan anakmu yang dikandungnya… telah tiada.”
Kehilangan orang tercinta itu menghantamku seperti badai.
Penyesalan yang Tak Terbayar
Ibu menjelaskan bahwa Raihana terjatuh di kamar mandi seminggu lalu. Ia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, ia berpesan memintakan maaf atas kekhilafannya, meminta agar diridhai, dan memohon maaf karena merasa tak mampu membahagiakan suaminya.
Ketika aku ingin menebus dosa, dia telah pergi. Ketika aku ingin memuliakannya, dia telah tiada. Tuhan menghukumku dengan penyesalan dan rasa bersalah yang tak terkira.
Gundukan Tanah yang Menampar Jiwa
Ibu mengajakku ke kuburan desa. Gundukan tanah itu masih baru. Di sana ada dua batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis jelas.
Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu, dan penyesalan yang luar biasa. Dunia gelap. Pelajaran hidup berharga itu menghantamku: jangan sampai cinta disadari ketika semuanya telah terlambat.
Baca Juga: 20 Akhlak Pribadi seorang Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari









