kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku

kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku
kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku
kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku
kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku

kisah nyata 1: Lumba-lumba Kesukaanmu Adalah Pelukan Terindahku – Namamu Amma, Anak perempuan kecil berusia empat tahun. Setiap langkahmu seperti hujan pertama di musim kemarau membasahi yang kering, menumbuhkan harapan.

Kamu kecil, mungil, tapi hatimu luas seperti langit yang tak pernah menolak pelangi.

Aku Sanggit Haidan, aku bukan ayah kandungmu. Tapi sejak pertama kali aku melihatmu, sejak pertama kali tangan mungilmu menggenggam jariku dengan erat seolah kamu memilihku. Aku tahu aku adalah ayahmu.

Bukan karena hukum, bukan karena darah, tapi karena cinta yang kutanam dan kamu siram setiap hari.

Kamu dua bulan saat pertama kali aku menggendongmu. Tubuhmu ringan seperti kapas, tapi napasmu berat seperti kamu sedang berjuang untuk percaya bahwa dunia ini masih layak untuk ditinggali. Matamu belum sepenuhnya terbuka, tapi dalam tatapan samar itu, aku merasa kamu bertanya, “Apakah aku akan dicintai?”

Dan hatiku menjawab: “Ya, Dengan seluruh jiwaku.”

“Ayah, kamu suka lumba-lumba nggak?”

Kamu bertanya lagi pagi ini. Suaramu bening, riang, dan bersemangat seperti biasanya. Seolah-olah kamu belum pernah menanyakan hal itu sebelumnya. Padahal pertanyaan itu mungkin sudah kamu ucapkan lebih dari seribu kali.

Dan seperti biasa, aku berhenti dari apa pun yang sedang kulakukan, menatap matamu yang bersinar penuh harap, dan menjawab dengan sungguh-sungguh, “Suka banget! Apalagi bareng Amma!”

Kamu tertawa. geli, Bahagia. Lalu berlari dan melompat ke pelukanku seperti burung kecil yang tahu ke mana pulang. Pelukanmu hangat, lengket, dan penuh rasa percaya. Di situlah aku tahu: kamu merasa aman.

Baca Juga:

Kamu adalah anak yang cerewet dengan cara paling lucu. Suka ngambek kalau aku bercanda dengan jawaban yang tidak kamu harapkan.

“Ayah, jangan bilang enggak suka ya,” katamu suatu hari sambil memanyunkan bibir.

“Kenapa?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Karena lumba-lumba itu hewan kesukaan Amma. Kalau Ayah enggak suka, berarti Ayah enggak suka Amma.”

Aku terdiam, Tertohok, Kamu hanya anak kecil, tapi sudah begitu pandai merangkai logika cinta.

Amma Sanggit

Kita punya tradisi kecil di teras rumah. Setiap pagi saat matahari baru mengintip malu-malu dari balik Merapi, kita duduk di bangku panjang sambil makan pisang goreng. Udara masih dingin, tapi kamu hangat di pangkuanku.

Aku bertanya, “Namamu siapa?”

Dengan gaya serius seperti peserta audisi yang sedang menunjukkan jati diri, kamu menjawab lantang, “Amma!”

“Amma siapa?” tanyaku lagi sambil menggoda.

Kamu menjawab dengan bangga, “Amma Sanggit!”

Nama itu bukan nama lahirmu. Tapi kamu memilihnya. Atau mungkin kamu menyerapnya dari doa-doa dan pelukanku yang selalu menyebutmu begitu.

Amma Sanggit.

Anak yang kupeluk saat demam tinggi. Buah hati yang ku gendong saat muntah di tengah malam. Anak yang kubacakan buku setiap malam selalu dengan akhir yang sama: cerita tentang lumba-lumba yang menemukan keluarganya.

Kamu memilih namaku untuk jadi namamu. Dan itu hadiah yang lebih besar dari apa pun di dunia ini.

Tentang Ayah Dan Pilihan

Amma sayang,

Suatu hari nanti kamu akan tumbuh besar. Kamu akan mulai bertanya-tanya tentang masa lalu. Mungkin dari bisikan orang, mungkin dari foto-foto lama yang tak sepenuhnya masuk akal. Dan kamu akan tahu bahwa aku tidak ada di awal hidupmu.

Kamu akan tahu bahwa aku bukan ayah kandungmu. Bahwa darahku tidak mengalir di nadimu.

Tapi dengarkan ini, Nak…

Aku tidak mewariskan gen. Aku mewariskan cinta.

Dan aku memilih mencintaimu, Seperti petani yang memilih menanam benih terbaik di tanah paling keras. Seperti pelukis yang memilih kanvas paling kasar untuk lukisan terindahnya. Aku memilih setiap peluh, setiap malam tanpa tidur, setiap dekapan saat kamu menangis.

Karena aku ingin kamu tahu bahwa kamu layak dicintai, walau dari orang yang tidak menurunkan darah genetis saat kau dilahirkan.

Ketika Langit Tak Lagi Biru

Hari itu datang juga. Hari ketika kamu sakit lebih dari biasanya. Panasmu tinggi. Matamu sayu. Suaramu serak. Tapi kamu masih sempat bertanya, “Ayah… kamu masih suka lumba-lumba gak?”

Aku menahan air mata. Kupeluk kamu erat. “Suka banget. Karena Amma yang suka.”

Kamu tersenyum kecil, lalu tidur di pelukanku.

Aku duduk semalaman. Tak sanggup tidur. Kupeluk tubuh mungilmu sambil berdoa, menangis dalam diam. Semua doa yang pernah kupelajari kutumpahkan malam itu. Aku tak siap kehilanganmu. Dunia belum cukup baik untuk melepaskanmu kembali.

Pagi datang. Kamu bangun, tersenyum lemah, dan berkata, “Aku mimpi lumba-lumba, Yah. Dia ngajak Amma main air.”

Aku tertawa kecil sambil menghapus air mata. “Iya, itu karena kamu anak kesayangan semua makhluk, bahkan lumba-lumba pun tahu.”

Surat Ini, Untukmu Kelak

Jika kamu membaca ini suatu hari nanti—mungkin saat usiamu 15, atau 25, atau mungkin saat kamu punya anakmu sendiri—aku ingin kamu tahu satu hal:

Cinta tak harus lahir dari darah. Tapi cinta sejati akan selalu tumbuh di dada yang ikhlas.

Aku tahu kamu akan bertanya, “Kenapa Ayah mau repot-repot mencintai anak yang bukan dari rahim pasangannya?”

Jawabanku sederhana: karena aku menemukan surga dalam pelukanmu. Karena dalam tawamu yang renyah, aku mendengar suara Tuhan yang berkata, “Inilah salah satu bentuk kasih-Ku.”

Pelukan Kesayanganku

Ada satu pelukan yang tak pernah kulupakan. Hari itu kamu baru selesai mandi, rambutmu masih basah, dan kamu tiba-tiba memelukku erat sambil berkata:

“Ayah, jangan tinggalin Amma, ya.”

Aku terdiam. Tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba berkata begitu. Tapi aku membalas pelukanmu dan berkata dengan suara tercekat,

“Ayah enggak akan pernah tinggalin kamu. Karena pelukan ini rumah Ayah.”

Lumba-lumba di Dinding

Sekarang, di dinding kamar kita, ada lukisan besar lumba-lumba. Kamu yang memilih gambarnya. Kamu yang menempelkannya dengan lem yang berantakan. Tapi aku tak pernah merapikannya, karena itu buatanmu. Itu kisahmu.

Setiap malam sebelum tidur, kamu masih bertanya, “Ayah, kamu suka lumba-lumba nggak?”

Dan aku selalu jawab, “Suka banget, karena itu kesukaan Amma.”

Lalu kamu memelukku, dan dunia menjadi damai.

Amma sayang,

Saat kamu dewasa nanti, kamu akan menghadapi banyak pertanyaan dan mungkin keraguan tentang siapa dirimu, dari mana kamu berasal. Tapi ingat ini:

Kamu berasal dari cinta, tumbuh dalam pelukan. Kamu dibesarkan oleh hati yang memilihmu.

Namamu adalah Amma Sanggit, dan kamu akan selalu menjadi anak kesayanganku selamanya. Lumba-lumbamu tertempel di dinding hatiku.

Peluk Sayang dari,

Ayah Sanggit Haidan

Yang mencintaimu tanpa syarat,

Selalu suka lumba-lumba

Dan paling suka… pelukanmu.

(cerita ini diangkat dari kisah nyata yang dikisahkan oleh bapak pengasuh sebuah panti asuhan di Lereng Merapi)

Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak

Oleh: Ki Pekathik