Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dalam masa kekosongan diantara dua Rasul dalam masa kekosongan itu biasanya manusia secara berangsur-angsur melupakan ajaran agama Allah dan kembali menjadi syirik, meninggalkan kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah ajaran iblis. Umat Nabi Nuh banyak yang ingkar, jika Nabi Nuh mengajak beribadah kepada Allah Swt dan menegakkan tauhid, umatnya selalu menentang dan mengejek, kecerdasan dan kefasihan Nabi Nuh mengalahkan segala hujatan dari orang-orang kafir.
Akhirnya orang-orang kafir itu jengkel dan menentang Nabi Nuh, karena dakwah yang disampaikan menemui jalan buntu dan pengikut nya tidak bertambah, maka Nabi Nuh mengadukan kaumnya kepada Allah Swt. Allah Swt. mengabulkan doa Nabi Nuh, Allah Swt. memberikan petunjuk agar Nabi Nuh membuat perahu yang sangat besar. Dengan perahu itu Nabi Nuh dan kaumnya akan selamat, sedangkan kaumnya yang ingkar akan ditenggelamkan dengan banjir yang sangat besar, sehingga tak seorang pun dari mereka akan selamat, semua binasa.
Selagi Nabi Nuh dan para pengikutnya sedang membuat kapal diatas bukit, kaumnya yang ingkar mengolok-olok dan mengejek. “Lihat! Nuh semakin gila saja, masak kemarau panas begini membuat perahu, di atas bukit lagi sungguh dia sudah miring otaknya.” Kata salah satu kaum Nabi Nuh yang ingkar tersebut.
Sesuai dengan Wahyu Allah, Nabi Nuh mengajak kaumnya memasuki kapal yang telah selesai dibuat, ia juga membawa berbagai pasang bintang, tidak berapa lama setelah Nabi Nuh dan para pengikutnya memasuki kapal, maka langit yang tadinya cerah berubah menjadi hitam mendung tampak tebal sekali diiringi angin kencang yang mulai hembusan. Bersamaan dengan turunnya hujan lebat, air dari bumi memancar pula ke permukaan hujan turun dengan lebatnya belum pernah hujan turun selebat itu, bagaikan dicurahkan dari langit. Rumah-rumah mulai terendam air, angin kencang dan badai menambah kepanikan semua orang.
Dari kejauhan Nabi Nuh melihat salah seorang dari putranya yaitu Kan’an sedang berlari-lari menuju puncak gunung. Nabi Nuh memanggil anaknya itu, “Hai anakku, kemarilah! naiklah ke kapalku maka kau akan selamat!.” Tapi Kan’an dengan sombongnya terus berlari, ia tak menghiraukan panggilan ayahnya, ia mengira banjir itu hanya banjir biasa yang segera reda, maka ia terus berlari ke puncak gunung. Memang Kan’an tidak mau mengikuti ajaran Nabi Nuh ia lebih suka hidup bersama-sama orang-orang kafir, karena itu ia tak mau menumpang kapal Nabi Nuh. Nabi Nuh merasa trenyuh, bagaimanapun Kan’an adalah putranya sendiri. maka ia berdoa kepada Allah agar Kan’an diselamatkan, namun Allah menolak permintaan Nabi Nuh. Sebab Kan’an itu walau putranya sendiri tapi dia adalah anak yang durhaka dan tidak mau beriman. Berdasarkan suatu riwayat, kapal yang membawa Nabi Nuh dan para pengikutnya itu berlayar 4O hari. Sesudah banjir mereda, Nabi Nuh diperintahkan oleh Allah untuk turun dari kapalnya. Dengan demikian binasalah orang-orang kafir yang menentang Nabi Nuh hanya para pengikut Nabi Nuh yang hidup dan menepati bumi sebagai penghuninya.
( Yani )











