Kisah Lucu Sahabat Zakaria bin Yahya: Mengapa Hanya 100 Dirham – Dalam sejarah Islam, banyak kisah para sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang penuh hikmah, keberanian, dan keteladanan. Namun, tak jarang pula terselip cerita-cerita yang mengundang senyum.
Salah satunya adalah kisah sahabat Zakaria bin Yahya radhiyallahu ‘anhu dalam peristiwa penaklukan wilayah Hira pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Ramalan Nabi Tentang Penaklukan Hira
Suatu hari, Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya bahwa kelak umat Islam akan menaklukkan wilayah Hira. Hira adalah daerah di Jazirah Arab yang penduduknya mayoritas beragama Nasrani dan mendapat dukungan dari Romawi, sehingga terkenal kuat.
Nabi ﷺ menggambarkan bahwa suatu saat gerbang Hira akan terbuka, dan yang pertama kali keluar menyerahkan diri adalah seorang wanita bernama Syima binti Nufailah Al-Usdiyah. Ia akan menaiki unta berwarna merah dan mengenakan cadar hitam.
Peristiwa itu memang belum terjadi pada masa Nabi ﷺ, melainkan akan terjadi pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab.

Permintaan Unik Sebelum Perang Terjadi
Mendengar sabda Nabi ﷺ tersebut, sahabat Zakaria bin Yahya menunjukkan keyakinan penuh pada janji beliau. Ia langsung berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, jadikanlah wanita itu sebagai bagian harta rampasan perangku nanti.”
Padahal, perang itu sendiri belum terjadi sama sekali. Rasulullah ﷺ pun mengabulkan permintaan tersebut.
Terwujudnya Janji Nabi ﷺ
Beberapa tahun kemudian, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, penaklukan Hira benar-benar terjadi. Pasukan Muslimin dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Seperti yang Nabi ﷺ gambarkan, setelah pengepungan, penduduk Hira menyerah.
Dan keluarlah Syima binti Nufailah persis seperti yang diceritakan Nabi ﷺ: menaiki unta merah dan memakai cadar hitam.
Zakaria bin Yahya yang ikut dalam perang itu langsung menghampiri Syima, memegang tali kekang untanya, dan berkata, “Ini bagianku!”
Pertanyaan Dan Kesaksian
Para prajurit lain heran, karena biasanya tawanan dan harta rampasan perang dikumpulkan dulu untuk dibagi sesuai aturan. Mereka bertanya, “Kenapa langsung mengklaim? Mana buktinya?”
Zakaria pun menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri yang telah memberikannya kepadanya. Awalnya Khalid bin Walid juga tidak tahu kisah ini karena tidak hadir saat Nabi ﷺ menyampaikan sabda tersebut.
Baca Juga:

Tak Disangka! Inilah Kisah Lucu Bilal & Umayyah Saat Perang Badar https://sabilulhuda.org/tak-disangka-inilah-kisah-lucu-bilal-umayyah-saat-perang-badar/
Namun setelah dihadirkan saksi, yaitu sahabat Muhammad bin Maslamah dan Muhammad bin Bisyir radhiyallahu ‘anhuma, barulah jelas kebenarannya. Akhirnya, Syima resmi menjadi bagian harta rampasan perang Zakaria bin Yahya.
Pertemuan Dengan Kakak Syima
Tak lama kemudian, kakak Syima yang bernama Abdul Masih seorang kepala suku kaya raya datang membawa perjanjian damai. Ia mencari adiknya dan diberitahu bahwa Syima sudah menjadi milik seorang prajurit bernama Zakaria.
Abdul Masih pun mendatangi Zakaria dan berkata, “Kembalikan adikku. Aku akan membayar berapa pun yang kau minta.”
Karena polosnya, Zakaria menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya kecuali kau bayar 100 dirham.” Nilai ini sebenarnya kecil sekali bagi seorang kepala suku kaya seperti Abdul Masih. Tanpa banyak bicara, ia pun langsung membayar 100 dirham dan membawa pulang adiknya.
Kebingungan Prajurit Lain
Setelah itu, para prajurit bertanya kepada Zakaria, “Kenapa hanya minta 100 dirham? Kalau minta 100.000 dirham pun pasti dibayar.”
Jawaban Zakaria sangat mengejutkan sekaligus mengundang tawa, “Apa masih ada angka di atas 100?” Rupanya beliau tidak bisa membaca, menulis, bahkan menghitung angka besar. Baginya, angka 100 sudah yang paling tinggi.
Pelajaran Dari Kisah Ini
Kisah sahabat Zakaria bin Yahya ini memang lucu dan menghibur, tapi juga menyimpan beberapa pelajaran:
- Keyakinan penuh pada sabda Nabi ﷺ Zakaria meminta Syima sebagai bagiannya bahkan sebelum perang terjadi, karena yakin janji Nabi pasti benar.
- Kejujuran dan kepolosan Meski berkesempatan mendapat harta besar, Zakaria tetap meminta sesuai yang ia pahami, tanpa niat mengambil berlebihan.
- Kisah sejarah yang menghibur Tidak semua kisah perang selalu tegang, terkadang ada momen-momen lucu yang menunjukkan sisi manusiawi para sahabat.
Kisah ini menjadi bukti bahwa para sahabat bukan hanya teladan dalam ibadah dan perjuangan, tetapi juga memiliki sifat polos, jujur, dan apa adanya.
Baca Juga: Jabal Uhud Saksi Bisu Perang Uhud













