Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi Part 1

Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi
Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi
Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi
Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi

(cerita ini diangkat dari kisah nyata di Panti Asuhan Sabilulhuda, dengan nama yang disamarkan)

Kisah Giyanto, Dita, dan Diah Pelita di Lereng Merapi – Di lereng Merapi yang sejuk dan hijau, terdapat sebuah panti sederhana dengan papan nama kayu bertuliskan “Panti Asuhan Sabululhuda.” Bangunan itu tak megah, namun hangat oleh suara anak-anak dan aroma sayur lodeh dari dapur.

Dari sinilah kisah haru tiga anak terlantar dimulai kisah tentang kasih sayang, perjuangan, luka batin, dan harapan yang terus menyala.

Sekitar empat belas tahun silam tahun 2011, ketika fajar baru saja menyingsing, tiga anak kecil tiba di depan gerbang panti. Giyanto, bocah laki-laki kurus berumur 8 tahun, memegang erat tangan adiknya, Dita (6).

Sementara di gendongannya tertidur seorang balita berusia 2,5 tahun Diah, adik bungsu mereka. Wajah mereka lusuh, pakaian kumal, dan mata mereka sembab. Mereka diantar oleh beberapa perangkat desa dan  tetangga dari dusun Sendang Tirto Brebah Sleman.

“Simbah mereka sudah wafat, ibunya pergi entah ke mana, bapaknya juga pergi. Sudah tak ada yang bisa merawat,” kata seorang tetua kampung, lirih.

Pak Dayat yang saat itu sedang menyapu halaman, terdiam sejenak. Ia menatap mata Giyanto mata bocah yang seharusnya bermain dan belajar, tapi kini menyimpan beban dunia.

Tanpa banyak tanya, Pak Dayat mempersilakan mereka masuk. Istrinya, Bu Rini, segera menyuapi mereka nasi hangat dan menyiapkan pakaian bersih.

Sepenggal Kisah Sang Ibu

Ibu kandung ketiga anak itu bernama Lastri. Sejak remaja, Lastri hidup dengan kondisi mental yang rapuh, yang sering kali membuatnya hilang arah dan mudah tersinggung. Namun, Pak Dayat dan Bu Rini mengetahui dari cerita warga.

Bahwa Lastri adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Terkadang, di tengah masa sulitnya, ia akan memeluk Giyanto, Dita, dan Diah dengan erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya.

Baca Juga:

Namun, beban hidup yang berat membuat mentalnya semakin tertekan. Tekanan ekonomi, ketidakhadiran sang suami yang pergi entah ke mana, dan tangisan anak-anak yang kerap kelaparan membuatnya hancur.

Warga desa sering kali menemukan Lastri duduk di depan rumah reyotnya, berbicara sendiri, sambil memandangi Giyanto yang sedang menjaga kedua adiknya.

Pada suatu pagi, beberapa minggu sebelum Giyanto dan adik-adiknya di bawa ke panti, Lastri meninggalkan rumah. Ia pergi tanpa membawa apa-apa, seolah-olah di tarik oleh takdir yang tak terlihat. Warga sudah mencari ke setiap pelosok desa, tapi Lastri menghilang tanpa jejak.

Kepergiannya menjadi misteri yang terus menghantui Giyanto dan kedua adiknya, sebuah luka yang begitu dalam, lebih perih dari rasa lapar atau dingin.

Warga sekitar yang melihat kondisi mengenaskan ketiga anak itu kerap kelaparan, tinggal di rumah reyot, tak sekolah akhirnya sepakat mengantar mereka ke Panti Asuhan Sabululhuda milik Pak Dayat.

“Giyanto paling besar, dia yang ngurus adik-adiknya. Kasihan, belum waktunya jadi dewasa, tapi harus jadi pelindung,” ujar tetangga yang ikut mengantar.

Pak Dayat dan Bu Rini menerima mereka tanpa syarat. Di rumah panti kecil itu, mereka dibesarkan seperti anak sendiri. Meski hidup pas-pasan, kasih sayang tak pernah dikurangi. Pak Dayat, mantan guru SD yang pensiun dini, memilih mengabdikan sisa hidupnya untuk anak-anak terlantar.

Tahun-Tahun yang Berat

Tahun-tahun awal tidak mudah. Giyanto masih trauma. Ia selalu terbangun malam-malam, mencari ibunya, menangis diam-diam di sudut kamar. Dita sering marah tanpa sebab, dan Diah sering ketakutan pada suara keras.

Namun Pak Dayat percaya, luka batin bisa di pulihkan dengan cinta dan ketelatenan. Ia mulai mengajak mereka bicara perlahan, mendengarkan cerita mereka, memeluk mereka saat mereka menangis. Giyanto di beri tanggung jawab kecil, seperti menyapu halaman dan menjaga adik saat Bu Rini memasak.

Dita di ajari menanam bunga, sementara Diah, yang masih balita, di manja dengan dongeng dan belaian hangat.

Sekolah menjadi terapi tersendiri. Perlahan-lahan, mereka mulai membuka diri. Giyanto suka matematika, Dita suka menggambar, dan Diah tumbuh menjadi anak yang manis dan pendiam.

Ketiganya mulai bisa tertawa lagi, walau sesekali kenangan pahit masih menghantui. Khususnya kenangan tentang ibu mereka, Lastri, yang kini tak pernah di ketahui kabarnya.

Saat Giyanto Tumbuh dan Pergi

Kini, waktu telah berlalu. Giyanto sudah berusia 21 tahun. Ia keluar dari panti sejak usia 19 dan bekerja serabutan di kota. Tak tamat SMA, tapi tekun dan rajin. Ia pernah menjadi kuli bangunan, tukang parkir, hingga loper koran.

“Saya tidak bisa memilih hidup saya, Pak. Tapi saya ingin tetap bisa melindungi Dita dan Diah,” katanya suatu hari saat pulang menjenguk.

Setiap bulan, Giyanto masih sering datang ke panti membawa oleh-oleh kecil untuk adik-adiknya. Ia belum bisa membantu banyak secara materi, tapi cintanya tak berubah.

Di mata Pak Dayat, Giyanto adalah anak yang kuat dan penuh tanggung jawab. Bahkan, saat ia bekerja, ia sering kali berharap bisa bertemu dengan ibunya secara tidak sengaja di jalanan kota.

“Dia seperti batu karang kecil yang terus di pukul ombak, tapi tetap tegak,” ujar Bu Rini sambil tersenyum haru.

Baca Juga: Pengabdian Anwar dan Kasidah Terakhir Bersama Abdul Kadir Jailani

Dita Dan Luka Yang Belum Pulih

Dita kini berusia 19 tahun. Ia tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik. Tapi luka masa kecilnya membuat emosinya kadang tak stabil.

Ia mudah tersinggung, suka menyendiri, dan kadang menangis tanpa sebab. Terutama saat melihat ibu-ibu lain berjalan dengan anak-anaknya, luka lama tentang Lastri kembali menganga.

Pak Dayat melihat potensi dalam diri Dita. Maka ia mulai mengajarinya jualan online kecil-kecilan membantu menjual kerajinan tangan anak-anak panti di media sosial. Mulanya Dita ragu, malu, dan tidak sabar. Tapi perlahan, ia mulai menikmati prosesnya.

“Saya takut gagal, Pak. Takut di hina. Takut orang tak suka,” kata Dita.

“Tak apa gagal, Dita. Yang penting kamu berani mencoba. Nanti pelan-pelan, kamu akan kuat,” jawab Pak Dayat lembut.

Walau emosinya masih labil, Dita mulai belajar mengelola diri. Ia kini sering tersenyum, sudah mulai bisa mengatur keuangan kecil, dan sesekali membantu Bu Rini memasak untuk adik-adik panti.

…….

Bersambung