Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi Part 2

Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi
Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi
Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi
Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi Part 2

Masa Transisi Diah yang Menantang

Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi Part 2 – Diah kini remaja dan baru masuk SMA. Ia pemalu, pendiam, dan suka menyendiri. Ia belum banyak bicara tentang masa lalunya, tapi sesekali terlihat gelisah saat di tanya tentang keluarga kandung.

Diah tidak memiliki banyak kenangan tentang ibunya, namun ia sering kali bertanya kepada Giyanto dan Dita, seperti apa sosok Lastri.

Pak Dayat sangat paham, usia remaja adalah masa rapuh. Diah sedang mencari identitas, dan bisa saja merasa terasing atau tidak di terima. Maka ia lebih banyak mengajak Diah ngobrol ringan di sore hari tentang bunga, tentang sekolah, atau sekadar menggoda tentang teman laki-laki di kelas.

“Dita Diah, kamu boleh mimpi setinggi langit. Tak ada yang salah dengan cita-cita, kalian harus sabar berjuang dan bangkit. Putuskanlah rantai kesedihan keluargamu dengan semangat untuk berprestasi, lakukan yang terbaik yang kalian bisa.

Kalian harus Tangguh hadapi kenyataan dan di masa depan. Kalian harus membangun rumah tangga yang utuh, perbanyaklah berusaha berjuang dan berdoa, itu permintaanku untuk kalian   ” ucap Pak Dayat suatu hari.

Diah dan dita tersenyum malu. Ia mulai belajar mencintai dirinya sendiri, perlahan-lahan. Ia suka membaca buku dan mulai tertarik menulis puisi. Bu Rini bahkan menyiapkan rok seragam barunya dengan penuh cinta, agar ia semangat berangkat sekolah.

Baca Juga:

Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi

Kisah Giyanto, Dita, Dan Diah Pelita Di Lereng Merapi Part 1 https://sabilulhuda.org/kisah-giyanto-dita-dan-diah-pelita-di-lereng-merapi/

Rumah yang Tak Pernah Menolak

Panti Asuhan Sabululhuda adalah rumah kasih sayang bagi anak anak yang terpinggirkan kenyataan hidup. Tempat anak-anak terluka datang dan di sembuhkan. Tempat luka di basuh dengan sabar, dan air mata di ganti dengan harapan.

Pak Dayat dan Bu Rini tak kaya, tapi kaya hati dan kaya semangat. Di usia paruh baya mereka, mereka tak memilih hidup santai, melainkan mengabdi mengawal harapan anak anak pinggiran, jauh dari sorot kamera, tanpa sorotan media.

“Kadang kami tak tahu esok bisa makan apa. Tapi selalu ada saja yang datang memberi bantuan. Tuhan tak pernah tidur, kami hidup dengan Rahmat Allah” kata Pak Dayat.

Kini, meski usia mereka tak lagi muda, mereka tetap membuka pintu untuk anak-anak yang membutuhkan. Karena bagi mereka, satu senyuman dari anak-anak itu lebih berharga dari emas.

Harapan Masa Depan Yang Menghangatkan

Giyanto kini terus berjuang di luar sana, membawa bekal kasih yang dulu ia dapat dari rumah kecil itu. Dita masih belajar berdamai dengan masa lalu dan membangun masa depan.

Diah mulai mengepakkan sayapnya sebagai remaja yang mencari arah. Semua itu tak akan mungkin terjadi tanpa pelita kasih dari Pak Dayat dan Bu Rini.

Kisah mereka bukan kisah sempurna, tapi kisah yang nyata. Tentang bagaimana cinta dan kesabaran bisa mengubah nasib. Tentang bagaimana sebuah rumah kecil di lereng Merapi bisa menjadi pelabuhan dari luka yang dalam.

Termasuk luka yang di tinggalkan oleh seorang ibu bernama Lastri yang kini tak di ketahui keberadaannya.

Ya Allah Yang Maha Penyayang, Limpahkanlah rahmat dan kekuatan kepada kami keluarga besar Sabilulhuda, Pak Dayat dan istrinya. Berikan mereka kesehatan, rezeki yang cukup, dan ketabahan hati dalam mengasuh anak-anak yang Kau titipkan.

Lindungi Giyanto dalam perjuangannya mencari nafkah yang halal. Lunakkan hati Dita, kuatkan jiwanya, dan tuntun dia dalam menemukan jati dirinya. Terangi jalan Diah dalam menapaki masa remajanya, jadikan ia insan yang tangguh dan berakhlak mulia.

Jadikan Panti Asuhan Sabululhuda tempat yang terus memancarkan cahaya cinta dan harapan, dan semoga setiap air mata yang pernah tertetes di sana menjadi saksi akan kasih-Mu yang tak pernah putus. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Baca Juga: Pengabdian Anwar dan Kasidah Terakhir Bersama Abdul Kadir Jailani

Oleh: Ki Pekathik