Kisah Diani Pratiwi Dan Makna Fundraising Yang Sesungguhnya

Sabilulhuda Yogyakarta: Kisah Diani Pratiwi Dan Makna Fundraising Yang Sesungguhnya“Selamat datang di hutan perjuangan.” Itulah kalimat pertama yang menyambut Diani Pratiwi, S.E., di hari pertama ia bergabung dengan Dompet Dhuafa.

Kalimat yang sederhana, tapi punya makna yang sangat dalam, bahwa menjadi fundraiser itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Ini adalah perjalanan yang panjang, penuh ujian, dan di baliknya ada berkah yang luar biasa.

Diani tidak datang dari dunia sosial. Ia lulusan farmasi, dan awalnya bahkan tidak tahu apa itu fundraising. Namun, Allah seperti menuntunnya ke jalan ini. Di lembaga yang serba sederhana, kursi satu berdua, meja pinjaman, ruangan kecil, ia mulai belajar tentang makna perjuangan dan amanah.

Awal Yang Penuh Ragu Dan Doa

Tahun pertama menjadi masa paling berat. Target besar, pengalaman minim, dan orang tua yang belum sepenuhnya merestui. Dalam satu tahun, Diani hanya mampu menghimpun 800 juta rupiah, angka yang baginya terasa kecil bila dibandingkan dengan teman-temannya. Ia sempat hampir menyerah.

Namun titik balik itu datang dengan cara yang tidak terduga. Suatu hari, saat turun ke lapangan di Parung Panjang, Diani bertemu seorang anak berusia tujuh tahun yang hidup dengan HIV sejak lahir. Anak itu tersenyum polos meski tubuhnya lemah. Dari situ, Diani tersadar: fundraising bukan tentang angka, tapi tentang nyawa dan harapan manusia.

Baca Juga: Kisah Diani Pratiwi Dan Makna Fundraising Yang Sesungguhnya

“Allah kirim anak itu untuk menegurku,” katanya suatu kali dalam acara Fundraising Naik Level di Sabilulhuda, 11 November 2025.

“Sejak hari itu, aku berhenti fokus pada nominal, dan mulai fokus pada keberkahan.”

Ridho Orang Tua Dan Keajaiban Kedua

Ketika ia pulang dan menceritakan kisah itu, sang ayah yang semula menolak, akhirnya luluh. Ia merestui langkah Diani ini. Dan keajaiban pun datang. Di tahun kedua, dengan kerja keras dan niat yang lurus, Diani berhasil menutup program CSR senilai Rp1,008 miliar di usia 22 tahun. Bukan karena kehebatan dirinya, tapi karena restu dan doa orang tua yang membuka jalan rezeki.

Fundraising Itu Bukan Minta, Tapi Menyambung Kebaikan

Salah satu pelajaran yang paling kuat dari perjalanan Diani adalah cara pandangnya terhadap pekerjaan ini.
Menurutnya, fundraiser bukanlah “peminta sumbangan”, tapi sebagai jembatan kasih sayang Allah antara orang yang punya kelebihan dengan yang membutuhkan.

“Kalimat yang kita pilih itu doa,” ujarnya.

Maka jangan bilang, ‘Saya mau minta donasi.’
Tapi ucapkan dengan keyakinan, ‘Saya ingin menawarkan kerja sama sosial untuk membawa keberkahan bersama.’

Pendekatan yang seperti ini membuat orang merasa dilibatkan, bukan diminta.
Dan inilah kuncinya komunikasi yang berkesan, yaitu menjadikan donatur sebagai bagian dari solusi, bukan hanya sebagai sumber dana.

Rahasia Sukses Diani: 4D + 1D

Dalam sesi pelatihannya, Diani sering mengajarkan konsep sederhana namun sangat efektif, yaitu 4D + 1D:

  • Data: Pahami siapa calon donaturmu. Riset dengan cermat, jangan asal datang.
  • Dedikasi: Layani dengan tulus, bahkan dari satpam hingga resepsionis.
  • Doa: Libatkan Allah di setiap langkah.
  • Dampak: Sampaikan perubahan nyata dari program.
  • Derma: Jadilah pribadi yang juga memberi, bukan hanya mengajak memberi.

Dengan prinsip ini, setiap kunjungan menjadi sarana belajar, bukan hanya sebagai transaksi.

Belajar Dari Para Guru

Diani juga dikenal rendah hati. Ia sering menyebut nama-nama guru dan mentor yang telah membimbingnya dari Dompet Dhuafa hingga Darut Tauhid. Mereka mengajarkan satu hal penting:

“Profesionalisme itu penting, tapi keikhlasan lebih utama.”

  • Di Dompet Dhuafa, ia belajar sistem, laporan, dan etika korporasi.
  • Di Darut Tauhid, ia belajar adab, dzikir, dan kedisiplinan spiritual.

Gabungan keduanya ini yang membuat Diani tumbuh menjadi fundraiser yang profesional tapi tetap membumi.

Naik Level Dari Hati

Kini, setelah lebih dari sepuluh tahun berjuang di dunia sosial, Diani mengajak para pegiat muda untuk naik level dalam niat dan cara kerja.

Fundraising bukan tentang mengejar target, tapi tentang menyalurkan amanah dengan penuh cinta.
Bukan hanya sebatas menghitung donasi, tapi menghitung doa yang tumbuh dari setiap aksi.
Dan bukan tentang siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling tulus berbagi.

“Yang membuatmu bertahan bukan gaji, bukan pujian, tapi rasa yakin bahwa Allah ridha,” tutupnya.

Jalan Sunyi Para Pejuang Kebaikan

Di tengah dunia yang makin sibuk dengan kompetisi dan pencitraan, kisah seperti Diani mengingatkan kita bahwa masih ada profesi yang hidup dari hati. Menjadi fundraiser adalah tentang berjuang dalam sunyi, menumbuhkan harapan, dan menjadi bagian kecil dari perubahan yang besar.

Mungkin benar, fundraising adalah “hutan perjuangan.”
Namun di sanalah tumbuh pohon-pohon keberkahan yang meneduhkan banyak jiwa.

Baca Juga: Ruang Lingkup Dan Teknis-Teknis Fundraising Pengelolaan Zakat